<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>riopurboyo.com</title>
	<atom:link href="http://riopurboyo.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://riopurboyo.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 Jan 2010 23:47:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tujuan Konkrit</title>
		<link>http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 14:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepemimpinan+Manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rio/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[
Salah satu pemicu minat terbesar saya dalam mempelajari dan menerapkan NLP adalah bahwa ia mengajak kita untuk membentuk setiap tujuan yang kita kehendaki di setiap konteksnya, berbasiskan pada bukti-bukti indrawi.
Semisal, seorang teman saya yang berkomitmen untuk menjadi penulis perihal produktivitas dan pengembangan diri berbasiskan kekuatan pribadi, menerapkan salah satu latihan yang saat ini menjadi kebiasaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-57" title="ilust-riopurboyo-04" src="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2010/01/ilust-riopurboyo-041.jpg" alt="ilust riopurboyo 041 Tujuan Konkrit" width="560" height="232" /></p>
<p>Salah satu pemicu minat terbesar saya dalam mempelajari dan menerapkan NLP adalah bahwa ia mengajak kita untuk membentuk setiap tujuan yang kita kehendaki di setiap konteksnya, berbasiskan pada bukti-bukti indrawi.</p>
<p>Semisal, seorang teman saya yang berkomitmen untuk menjadi penulis perihal produktivitas dan pengembangan diri berbasiskan kekuatan pribadi, menerapkan salah satu latihan yang saat ini menjadi kebiasaan otomatis beliau. Latihan sederhana yang beliau lakukan adalah menempatkan dirinya dalam kondisi yang paling berdaya. Sambil dia membayangkan dirinya melihat dengan matanya sendiri, betapa dalamnya ia hanyut dalam kondisi yang sangat <em>flow</em>, dia menuliskan satu per satu kalimat dan kemudian menyusunnya menjadi artikel yang siap dibaca, lalu mengedit di beberapa bagian artikel sehingga pembaca lebih mudah mencerna dan mengambil tindakan lanjut dari membaca ratusan artikelnya itu. Bahkan, tak jarang dengan kemampuannya mendesain pesan dalam bentuk gambar, keahlian yang terus diasah sejak 10 tahun yang lalu ini, menjadikan blog pribadinya –<em>terutama di bagian <strong><span style="text-decoration: underline;">donlot gambar</span></strong> gratis– </em>menjadi favorit pengunjungnya. (silakan kunjungi <a href="http://www.akhmadguntar.com/">akhmadGuntar.com</a>)<br />
<span id="more-44"></span><br />
Ternyata semakin banyak peserta pelatihan yang saya temui di beragam kesempatan, yang ketika berbagi kisah suksesnya pernah melakukan kegiatan mudah ini. Memberikan segala detail bukti indrawi terhadap impian mereka. Hanya mungkin bedanya, ada yang sudah membiasakan diri dengan hal ini dan ada yang belum. Dan ketika seseorang mendapati dirinya berada di sebuah kondisi yang selaras dengan tujuannya, entah bagaimana ceritanya, ia berada dalam kondisi yang baginya tidak baru. Seolah-olah ia pernah berada dalam kondisi itu sebelumnya. Beragam pengalaman yang ia desain dalam dirinya sebelum itu, kini ia dapati dalam kepingan nyata yang melingkupi dirinya. Tidak 100% memang, tetapi mirip. Bahkan bagi beberapa orang sangat mirip, hampir mustahil dibedakan antara yang pernah diimpikan dengan yang sekarang dilakukan. Karena itulah, mereka lebih sering mendapatkan tujuan baik yang mereka inginkan. Saya juga mengalaminya. Dengan demikian peluangnya tentu juga terbuka sama lebarnya buat Anda, bukan? Pasti. Kecuali Anda tetap merasa nyaman dengan keadaan Anda yang sekarang, dan berhenti inginkan hidup yang lebih baik.</p>
<p>Sambil meneruskan rasa penasaran saya. Kok bisa terjadi hal itu? Bagaimana mungkin bukti-bukti imajiner indrawi bisa menyelinap masuk dalam kehidupan nyata? Lha kok bisa, semakin rutin melatih diri lebih peka terhadap perubahan bukti-bukti indrawi –sebagai sinyal selaras/tidaknya tindakan dengan tujuan hidup– semakin sering menjumpai kesempatan tak terduga sebagai gerbang pembuka keberhasilan?</p>
<p>Entah, saya juga tidak tahu! Toh, meski tidak saya ketahui alasannya kenapa. Itu tidak membuat saya surut untuk terus menuliskan tujuan hidup yang lebih menantang, dengan menempelkan berbagai bukti-bukti indrawi. Bahkan, ketika Anda menikmati tulisan ini, beberapa hari yang lalu saya telah rasakan diri ini dalam kondisi yang sama. Bangun lebih awal di pagi hari, keluar rumah untuk tunaikan kebutuhan pribadi sebagai hamba Allah, lalu pulang dan mengetikkan kalimat-kalimat sederhana ini. Awalnya bukan untuk Anda, tapi untuk pemberdaya pribadi saja. Lalu terpikirkan, ”Jika saya dapatkan manfaat dari menuliskan pengalaman kecil ini, bagaimana jika ada teman di luar rumah yang juga bisa dapatkan hal yang sama? Jadi, mengapa tidak berbagi tulisan buat Anda? Ya, tho?”</p>
<p>Ketika membagikan 6 strategi elegan melekatkan gagasan ke sesama, dalam format bedah buku <strong><em>Made to Stick</em></strong> beberapa pekan yang lalu, barulah kemudian saya disadarkan betapa nyambungnya saran di atas dengan proses melekatnya gagasan di hati dan pikiran manusia, kita; Anda dan saya. Di bagian <strong><em>konkrit</em></strong>, kita bisa temukan lebih jauh penjelasan dari rasa penasaran saya tadi. Jangan terburu-buru untuk ingin tahu. Simpan sebentar rasa penasaran Anda, dan biarkan membesar seiring membaca tulisan ini. Anda akan temukan jawabannya, sebentar lagi.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Kekuatan Konkrit</em></strong></p>
<p>Apa yang membuat sesuatu menjadi ’konkrit’? Jika Anda dapat meneliti sesuatu dengan indra Anda, berarti itu konkrit. Bahasa yang konkrit membantu orang, terutama yang belum berpengalaman, untuk pahami konsep-konsep baru. Saran buat trainer, guru, dan pembicara, jika Anda mulai mengajarkan sebuah gagasan di sebuah ruangan yang dipenuhi orang, dan Anda tidak yakin apa yang mereka ketahui, bahasa yang konkret adalah satu-satunya bahasa yang aman.</p>
<p>Gagasan konkrit lebih mudah diingat. Eksperimen tentang ingatan manusia telah membuktikan bahwa kita lebih baik dalam mengingat kata benda konkrit dan mudah dibayangkan. Latihan di bawah ini membantu Anda menguji gagasan ini. Sekelompok kalimat berikut akan meminta Anda mengingat berbagai gagasan. Gunakan 5 sampai 10 detik untuk memikirkan masing-masing, jangan cepat-cepat berpindah dari gagasan itu. Anda akan melihat bahwa mengingat kembali hal-hal yang berbeda itu <em>terasa beda</em>.</p>
<ol>
<li>Ingatlah ibukota Irian Jaya</li>
<li>Ingatlah kelima warna balon      dalam lagu ”Balonku Ada Lima”</li>
<li>Ingatlah rumah saat Anda      menghabiskan sebagian besar masa kecil Anda</li>
<li>Ingatlah definisi      ’patriotisme’</li>
<li>Ingatlah definisi ’nasi      pecel’</li>
</ol>
<p>Dari kesemua latihan itu, setiap perintah untuk mengingat di atas menggunakan kegiatan mental yang berbeda. Saat mengingat ibukota Irian Jaya, ini adalah latihan yang abstrak. Kecuali jika Anda pernah singgah atau tinggal di Papua. Yang berlawanan, ketika Anda berpikir tentang 5 warna balon dalam ’Balonku Ada Lima’. Anda mungkin mendengar seseorang menyanyikannya, kata per kata, hingga mudah bagi Anda mengingatnya sambil bernyanyi lagu itu. Ingatan tentang rumah masa kecil Anda dapat membangkitkan sejumlah besar ingatan, berbasiskan indrawi. Bau, penglihatan, suara. Anda bahkan mungkin merasakan diri Anda sendiri berlari, keluar masuk rumah Anda, atau mengingat di mana orang tua Anda biasa membaca koran.</p>
<p>Definisi ’patriotisme’ mungkin sedikit lebih sulit untuk dimunculkan. Anda tentu saja memiliki pengertian tentang apa makna ’patriotisme’, tetapi tidak memiliki definisi yang sudah dirumuskan dan mudah diingat seperti Anda mengeluarkan ingatan tentang ’nasi pecel’. Saat ingat ’nasi pecel’, dengan segera membangkitkan ingatan rasa-bumbu adonan kacang goreng dicampur dengan bawang putih yang berwarna coklat, ditemani nasi putih punel/empuk, ditaburkan di atas sayuran yang hijau-ranum-dan tentunya masih segar- semisal kacang pendek, bayam, kembang turi, kecambah, dibarengi lauk-pauk sesuai selera Anda. Dan yang paling khas adalah rempeyek-nya. Bahkan, ada di antara peserta pelatihan kami, ada yang langsung teringat kursi dan meja di mana terakhir kalinya ia menyantap nasi pecel di warung langganannya. Luar biasa!</p>
<p>Jika ada di antara Anda yang sedang berpuasa sunnah di bulan Sya’ban kali ini, mohon dilanjutkan puasa Anda. Saya tidak sedang memprovokasi pikiran Anda, dengan sejumlah ingatan menyegarkan. Anggap saja sebagai pendamping, menjelang berbuka puasa.</p>
<p>Gagasan yang melekat secara alamiah adalah yang penuh dengan kata konkrit dan -seringkali- gambar. Pasti akan lebih mudah ingat, saat semakin banyak indra yang terlibat. Ingatan kita bekerja laksana Velcro. Bagi Anda yang belum tahu apa itu namanya Velcro, datangi penjahit atau toko perlengkapan konveksi, dan bertanyalah di sana. Dan Anda akan temukan Velcro. Bagi Anda yang lebih dulu tahu, jika Anda perhatikan kedua sisi dari bahan Velcro, Anda akan lihat bahwa sisi yang satu tertutup dengan <em>ribuan kait</em> yang sangat kecil dan sisi yang lain tertutup <em>ribuan gulungan</em> yang sangat kecil. Saat Anda menekan kedua sisi bersamaan, sejumlah besar <em>kait tertangkap di dalam gulungan</em> itu, dan itulah yang menyebabkan Velcro menempel.</p>
<p>Mirip dengan itu, otak Anda menjadi tuan rumah bagi gulungan-gulungan dalam jumlah yang luar biasa. Semakin banyak kait yang dimiliki oleh sebuah ide, semakin baik ide itu melekat pada ingatan. Rumah masa kecil Anda dan nasi pecel memiliki kait yang sangat banyak jumlahnya di dalam otak Anda.</p>
<p>Seorang guru yang hebat memiliki keahlian khusus untuk melipatgandakan jumlah kait dalam gagasan tertentu. Kisah nyata berikut ini, diambil dari pengalaman Jane Elliot, guru SD di Iowa. Ia merancang sebuah pesan yang sangat kuat –dengan memanfaatkan begitu banyak aspek emosi dan ingatan yang berbeda– sehingga, dua puluh tahun setelahnya, para muridnya masih dapat mengingat dengan jelas.</p>
<p><strong><em>Mata Cokelat, Mata Biru</em></strong></p>
<p>Martin Luther King, Jr dibunuh pada 4 April 1968. Esoknya, Jane Elliot, guru SD di Iowa mendapati dirinya berusaha menjelaskan kematian King kepada para muridnya. Kelas 3 SD. Di kota kecil Riceville, Iowa, semua penduduknya berkulit putih, para murid kenal dengan King tetapi tidak dapat memahami siapa yang inginkan kematian King, atau mengapa.</p>
<p>Elliot berkata, ”Saya tahu sekarang saatnya untuk menangani hal ini secara konkrit, karena kita telah <em>berbicara</em> tentang diskriminasi sejak hari pertama sekolah. Tetapi, penembakan Martin Luther King, salah seorang yang dipilih menjadi ’Pahlawan Bulan Ini’ dua bulan sebelumnya, tidak dapat dijelaskan kepada anak-anak kelas tiga yang masih kecil di Riceville, Iowa.”</p>
<p>Esoknya, ia datang ke sekolah dengan sebuah rencana. Ia bermaksud membuat prasangka itu menjadi jelas bagi para muridnya. Di awal kelas, ia membagi para murid menjadi dua kelompok. Anak-anak bermata cokelat dan satunya yang bermata biru. Ia kemudian membuat pengumuman yang mengejutkan: ”Anak-anak bermata cokelat lebih unggul dari anak-anak bermata biru. Mereka orang-orang yang lebih baik di ruangan ini.” Kelompok-kelompok itu lalu dipisahkan: Anak-anak bermata biru dipaksa untuk duduk di belakang kelas. Anak-anak bermata cokelat diberitahu bahwa mereka lebih pintar. Mereka diberi waktu tambahan pada jam istirahat. Anak-anak bermata biru harus mengenakan kalung khusus, sehingga semua orang akan mengetahui warna mata mereka dari jauh. Kedua kelompok itu tidak diijinkan bergabung pada jam istirahat.</p>
<p>Elliot sangat terkejut dengan betapa cepatnya kelas berubah. ”Saya melihat anak-anak itu menjadi anak-anak kelas tiga yang tidak menyenangkan, jahat, dan melakukan diskriminasi&#8230; keadaan itu mengerikan,” ujarnya. ”Persahabatan nampaknya hilang dengan seketika, pada waktu anak-anak bermata cokelat mengejek anak-anak bermata biru yang sebelumnya adalah teman mereka. Seorang siswa bermata cokelat bertanya kepada Elliot bagaimana ia dapat menjadi guru &#8216;jika Anda mendapatkan mereka bermata biru.’”</p>
<p>Pada permulaan kelas keesokan harinya, Elliot berjalan masuk dan mengumumkan bahwa ia telah berbuat salah. Sebenarnya anak-anak <em>bermata cokelat</em> yang lebih rendah kedudukannya. Pembalikan nasib ini diterima dengan seketika. Teriakan kegembiraan terdengar nyaring dari anak-anak bermata biru sewaktu mereka berlarian untuk memasangkan kalung mereka pada teman-teman mereka yang bermata cokelat, yang lebih rendah.</p>
<p>Di hari ketika mereka berada di kelompok yang lebih rendah kedudukannya, para murid menggambarkan diri mereka sendiri sebagai sedih, buruk, bodoh, dan hina. ”Ketika kami di bawah,” kata seorang anak laki-laki, suaranya jadi parau, ”rasanya seperti segala sesuatu yang buruk sedang menimpa kami.” Ketika mereka di atas, para murid merasa bergembira, baik, dan pintar.</p>
<p>Yang lebih mencengangkan, performa mereka pada tugas-tugas akademis berubah. Salah satu latihan dalam pelajaran membaca adalah satu set kartu bunyi bahasa yang harus dibaca secepat mungkin oleh anak-anak itu. Di hari pertama, ketika anak-anak bermata biru berada di bawah, mereka membutuhkan waktu 5,5 menit. Di hari kedua, ketika mereka berada di atas, mereka memerlukan waktu 2,5 menit. ”Mengapa kalian tidak bisa membaca secepat ini kemarin?” tanya Elliot. Seorang anak bermata biru menjawab, ”Kami mengenakan kalung itu&#8230;” Seorang yang lain menyela, ”Kami tidak bisa berhenti berpikir tentang kalung itu.”</p>
<p>Simulasi Elliot membuat prasangka menjadi konkrit, bahkan sangat konkrit. Simulasi itu juga berdampak tahan lama terhadap kehidupan para muridnya. Studi yang dilakukan sepuluh dan dua puluh tahun kemudian menunjukkan, betapa para murid Elliot secara signifikan tidak terlalu berprasangka dibandingkan rekan-rekan mereka yang tidak menjalani latihan itu.</p>
<p>Para murid masih mengingat simulasi itu dengan sangat jelas. 15 tahun kemudian, mereka mengadakan reuni yang disiarkan serial oleh PBS <em>Frontline</em> mengungkapkan betapa dalamnya hal itu telah menggerakkan mereka.</p>
<p>Ray Hansen, yang ingat bagaimana pemahamannya berubah dari satu hari ke hari selanjutnya, berkata ”Itu adalah salah satu pengalaman pembelajaran yang paling mendalam yang pernah saya jalani.” Sue Giner Rollan berkata, ”Prasangka harus diselesaikan ketika masih muda atau hal itu akan menguasai Anda sepanjang usia Anda. Kadang-kadang saya dapati diri saya (melakukan diskriminasi), menghentikan diri saya sendiri, berpikir kembali ke waktu saya di kelas tiga, dan mengingat bagaimana rasanya direndahkan.”</p>
<p>Jane Elliot memasukkan beragam kait ke dalam gagasan tentang prasangka. Ia mengubah prasangka menjadi <em>pengalaman</em>. Pikirkan tentang ’kait-kait’ yang terlibat.</p>
<ol>
<li>Penglihatan tentang seorang      teman yang mencemooh Anda.</li>
<li>Sentuhan sebuah kalung di      leher Anda.</li>
<li>Perasaan putus asa karena      merasa berkedudukan lebih rendah.</li>
<li>Kejutan yang Anda rasakan      setiap kali Anda memperhatikan warna mata Anda di cermin.</li>
</ol>
<p>Pengalaman ini memasukkan begitu banyak kait ke dalam ingatan para siswa, sehingga, puluhan tahun kemudian, pengalaman itu tidak dapat dilupakan.</p>
<p>Baik Anda menjadi guru bagi diri sendiri, atau juga bagi orang lain. Dengan cara yang sama, Anda juga bisa berdayakan diri Anda dengan beragam kait (anchor) indrawi. Semakin spesifik kait indrawi Anda, semakin nyata ia membantu Anda lebih berdaya. Dengannya, semoga Anda lebih sering dapati diri Anda dengan lebih mudah dapatkan tujuan hidup Anda secara lebih cepat.</p>
<p>Semoga tulisan sederhana ini berguna.</p>
<p>Selamat membuat tujuan hidup yang lebih multi indrawi!</p>
<p>“Jelasnya impian membuat menariknya perjalanan.</p>
<p>Membuat jauhnya jadi dekat, mengubah lelahnya jadi gembira.</p>
<p>Mengubah susahnya jadi penggelora jiwa.”</p>
<p>“Tapi entah kenapa, ada orang yang enggan berimpian yang jelas-jelas indah, yang menawan hatinya. Adakah dia lupa, bahwa impian adalah sebentuk perencanaan, sebuah proposal hidup.</p>
<p>Segenggam impian adalah sekepalan harapan.</p>
<p>Sebentuk kebergantungan jiwa kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Allah swt.”</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/hello-world.html" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Seperempat Abad</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/pesona-kata-kata.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pesona Kata-kata</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html" rel="bookmark" class="crp_title">Orientasi Berbicara: Dari sinilah perbincangan Anda bermula!</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orientasi Berbicara: Dari sinilah perbincangan Anda bermula!</title>
		<link>http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 01:48:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rio/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[
Kapan terakhir kalinya Anda diundang menjadi pembicara?
Atau, kapan terakhir kalinya Anda berbicara dengan orang lain?
Entah Anda berbicara untuk sekelompok orang atau sekedar ngobrol dengan satu orang saja, menjadi semakin penting untuk kita pahami mengenai orientasi kita dalam berbicara. Sejak semula, sebagai pembicara publik, apa orientasi Anda ketika berbicara kepada sekelompok pendengar? Ada tiga pilihan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-61" title="ilust-riopurboyo-01" src="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2010/01/ilust-riopurboyo-01.jpg" alt="ilust riopurboyo 01 Orientasi Berbicara: Dari sinilah perbincangan Anda bermula!" width="560" height="232" /></p>
<p>Kapan terakhir kalinya Anda diundang menjadi pembicara?</p>
<p><strong><em>Atau</em></strong>, kapan terakhir kalinya Anda berbicara dengan orang lain?</p>
<p>Entah Anda berbicara untuk sekelompok orang atau sekedar <em>ngobrol</em> dengan satu orang saja, menjadi semakin penting untuk kita pahami mengenai orientasi kita dalam berbicara. Sejak semula, sebagai pembicara publik, apa orientasi Anda ketika berbicara kepada sekelompok pendengar? Ada tiga pilihan di sini. Orientasi kepada diri sendiri, pada isi ceramah. Dan yang terakhir berorientasi kepada pendengar.<br />
<span id="more-18"></span><br />
Oke, kita mulai dari yang <strong><em>pertama</em></strong>. Ketika Anda berorientasi pada diri sendiri, Anda berada di atas panggung untuk diri Anda sendiri. Anda ingin dikenang dan Anda ingin disukai. Tentu saja, Anda mungkin peduli dengan pendengar, dan Anda mungkin berpikir bahwa setiap orang di planet biru ini perlu mendengar pesan Anda. Tetapi Anda tetap ada di panggung untuk diri <strong><em>Anda</em></strong>. Anda perlu terlihat keren, Anda perlu disorot lampu, Anda pun menjadi pusat perhatian. <strong><em>Semuanya tentang Anda</em></strong>. Bagi banyak pembicara, sulit untuk melalui tahap ini. Sebagian besar dari kita ingin terlihat hebat… oke, oke, kita semua ingin terlihat hebat. Dan tak seorang pun pernah menyalahkan seorang pembicara karena kurang egois. Namun, jika hal itu adalah alasan utama Anda berada di atas panggung, berhati-hatilah, tikungan berbahaya ada di depan Anda! Alasan begitu banyak orang takut berbicara di depan banyak orang adalah karena mereka takut terlihat bodoh. Enyahkan perasaan itu. Anda cukup hebat, cukup pintar, percayalah!</p>
<p>Yang <strong><em>kedua</em></strong>, ketika Anda berorientasi pada isi ceramah, bahan ceramah menjadi raja. Akhirnya, fokusnya  tidak lagi pada diri Anda; sekarang fokusnya adalah pada <strong><em>materi </em></strong>Anda. Sekaranglah saatnya menyampaikan apa saja yang Anda ketahui. Wow, saya yakin Anda pun mengetahui banyak hal! Anda memiliki pesan yang ingin Anda bagikan, dan Anda akan memastikan hal itu tercapai. Mungkin Anda masih memerlukan persetujuan dari para pendengar Anda, tetapi menyampaikan pesan Anda kepada pendengar adalah suatu hal yang sangat-sangat-sangat penting. Sebagian besar pelatih, kebalikan dari pembicara/penceramah, berorientasi pada isi ceramah. Banyak pernyataan atau janji yang cukup nyata tentang apa yang Anda harapkan untuk dibawa pulang oleh pendengar. Misal: 8 cara untuk melahirkan produk yang diinginkan pasar; 11 rahasia untuk meningkatkan keahlian persuasi Anda; 101 tip untuk menjadi pelatih hebat. Ups, maaf… itu salah satu bahan pelatihan saya J.</p>
<p>Anda tahu bahwa Anda berhasil saat Anda menyampaikan semua yang Anda janjikan. Orang-orang menghampiri Anda setelahnya dan berkata, “Saya telah sangat banyak belajar kali ini,” serta memberi tahu Anda betapa banyak pelajaran berharga yang Anda sampaikan untuk dibawa pulang. <strong><em>Dalam pendekatan yang berpusat pada isi ceramah, isi ceramah memang berkuasa.</em></strong></p>
<p>Atau pilihlah yang <strong><em>ketiga</em></strong>. Tentu saja, Anda bisa berorientasi kepada <strong><em>pendengar</em></strong> Anda. Semuanya bukan tentang Anda; bukan tentang bahan ceramah Anda; tetapi tentu saja <strong><em>tentang mereka</em></strong>. Fokusnya adalah membawa pesan unik Anda kepada sekelompok orang unik ini. Anda merasa nyaman dengan siapa diri Anda, Anda menguasai isi ceramah, dan Anda menciptakan sebuah momen ketika hubungan sejati tercipta di antara Anda dan mereka. Ikatan yang sebenarnya telah terjalin. Kepuasan pun terjamin. Pada pendekatan yang terakhir ini, Anda berbicara dengan pendengar Anda sesuai kapasitas komunikasi mereka. Anda bersikap fleksibel dalam menentukan gaya, cara, dan sikap bekomunikasi. Ujung-ujungnya Anda lebih diterima sebagai seorang pribadi yang baik, dan pesan Anda pun mendapatkan perhatian dan respon positif dari pendengar Anda. Betapa bahagianya bila kita bisa melakukan hal ini.</p>
<p><strong>Pilihan manakah yang Anda inginkan?</strong></p>
<p>Ironis ya? Memang!</p>
<p>Ketika orang merasa ingin diterima, mereka cenderung mulai dengan berorientasi kepada diri sendiri. Ketika mereka berorientasi kepada diri sendiri, peluang untuk bisa diterima menjadi berkurang. Jika saja mereka mengubah orientasinya menjadi kepada pendengar, mereka kemungkinan besar akan diterima. Tentunya hal inilah yang sangat mereka damba-dambakan.</p>
<p>Lain kali saat kita akan mulai berbicara, kita sudah bisa memutuskan orientasi kita dalam berbicara. Kita bisa berorientasi kepada diri sendiri, pada isi ceramah, atau -tentu saja yang terakhir- berorientasi kepada pendengar.</p>
<p>Bagaimana dengan Anda?</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit.html" rel="bookmark" class="crp_title">Tujuan Konkrit</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/pesona-kata-kata.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pesona Kata-kata</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/hello-world.html" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Seperempat Abad</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesona Kata-kata</title>
		<link>http://riopurboyo.com/pesona-kata-kata.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/pesona-kata-kata.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 01:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rio/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[
Seorang bocah mengisi liburan dengan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. ”Aduh!” jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya sama persis, ”Aduh!”
Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, ”Hei! Siapa kau?” Terdengar jawaban, ”Hei! Siapa kau?” Lantaran kesal mengetahui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-63" title="ilust-riopurboyo-02" src="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2010/01/ilust-riopurboyo-021.jpg" alt="ilust riopurboyo 021 Pesona Kata kata" width="560" height="232" /></p>
<p>Seorang bocah mengisi liburan dengan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. ”Aduh!” jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya sama persis, ”Aduh!”</p>
<p>Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, ”Hei! Siapa kau?” Terdengar jawaban, ”Hei! Siapa kau?” Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, ”Pengecut kamu!” Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, ”Apa yang terjadi?”<br />
<span id="more-13"></span><br />
Dengan penuh bijaksana sang ayah tersenyum, ”Anakku, coba perhatikan.” Lelaki bijaksana itu berkata keras, ”Saya kagum padamu!” Suara di kejauhan menjawab, ”Saya kagum padamu!” Sekali lagi sang ayah berteriak ”Kamu Sang JUARA!” Suara itu menjawab, ”Kamu Sang JUARA!”</p>
<p>Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, ”Suara itu adalah GEMA, dan sebetulnya itulah KEHIDUPAN.”<br />
~ ~ ~ ~ ~</p>
<p>Kita percaya, setiap kata selalu bermakna bagi setiap orang yang mendengarnya, yang melihatnya. Setiap kata, seperti pemicu, yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu. Kata-kata, akan senantiasa memacu dan memicu kita untuk menggerakkan setiap anggota tubuh kita, dalam berpikir, merasa, dan bertindak.</p>
<p>Satu prilaku kecil, seperti berbicara, dapat menghasilkan dampak yang tidak kita duga sebelumnya. Kita percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang sangat dahsyat. Dan kita telah sama-sama membuktikannya dalam cerita di atas.</p>
<p>Kekuatan kata-kata, akan selalu hadir pada kita yang percaya. Bahwa ada harapan, ada keinginan, ada rintihan, ada kecemasan, dan ada pula permohonan khusus dalam perkataan kita. Kata-kata sejenis ini kita kenali dengan nama doa. Jawaban doa ada pada dia yang senantiasa percaya, bahwa selalu ada penyelesaian bagi yang sungguh-sungguh meminta. Sungguh-sungguh dalam mengharapkan, dalam memulai tindakan, dan dalam menuntaskan harapan.</p>
<p>Kerendahan hati menjadi salah satu indikasi kesungguhan pada sebuah doa. Karena kita tidak mengetahui jawaban terbaik dari yang dapat kita minta. Karena kita tidak berwenang untuk mengharuskan terkabulnya permintaan-permintaan kita. Karena di ujung hati kecil kita, muncul kesadaran bahwa kita justru diperintahkan untuk mengharap, meminta, dan menyerahkan jawaban dari permintaan kita kepada kasih sayangNya. Karena tidak mungkin bagiNya untuk berlaku selain berkasih sayang kepada kita.</p>
<p>Keyakinan pada yang baik melahirkan perkataan yang baik. Kita yakin, kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan motivasi, bernilai dukungan, memberi kontribusi positif dalam setiap langkah manusia. Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Karena menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri. Dan sebaliknya, menyampaikan keburukan sebanding dengan setengah kemuraman.</p>
<p>Selamat berkata-kata! Sampaikanlah kebenaran walaupun ia sederhana. Ujarkanlah perkataan Anda dengan santun. Karena hati hanya bisa disentuh dengan hati. Semoga hidup Anda indah, karena benar dan santunnya perkataan Anda.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit.html" rel="bookmark" class="crp_title">Tujuan Konkrit</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/hello-world.html" rel="bookmark" class="crp_title">Menyambut Seperempat Abad</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html" rel="bookmark" class="crp_title">Orientasi Berbicara: Dari sinilah perbincangan Anda bermula!</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/pesona-kata-kata.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyambut Seperempat Abad</title>
		<link>http://riopurboyo.com/hello-world.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/hello-world.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 00:53:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rio/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[
Malam ini, kubuka sebuah buku. Isinya mengguncangkan jiwa. Betapa tidak, di dalamnya dituliskan bahwa usia ‘muda’ bukanlah halangan menggapai kebesaran. Lihat saja Iwan Gayo, penggagas Seri Buku Pintar, berhasil menjadi jutawan di usia sekitar 30 tahun. Lalu ada Parasian Sihite, agen koran di Jakarta Pusat, di usianya yang baru 35-an tahun, ia telah berhasil mengembangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2010/01/ilust-riopurboyo-031.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-55" title="ilust-riopurboyo-03" src="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2010/01/ilust-riopurboyo-03.jpg" alt="ilust riopurboyo 03 Menyambut Seperempat Abad" width="560" height="232" /></a></p>
<p>Malam ini, kubuka sebuah buku. Isinya mengguncangkan jiwa. Betapa tidak, di dalamnya dituliskan bahwa usia ‘muda’ bukanlah halangan menggapai kebesaran. Lihat saja Iwan Gayo, penggagas Seri Buku Pintar, berhasil menjadi jutawan di usia sekitar 30 tahun. Lalu ada Parasian Sihite, agen koran di Jakarta Pusat, di usianya yang baru 35-an tahun, ia telah berhasil mengembangkan omzetnya hingga mencatat transaksi sekitar Rp 1,8 – Rp 2,4 miliar per bulannya. Berikutnya ada Lucy Gani Wijaya, saat baru berusia 21 tahun (dan masih berstatus mahasiswi sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta), sudah mampu mempekerjakan 300 tenaga kerja. Usahanya itu –membuat tas, vas bunga, dan tatakan gelas dari limbah kertas koran– telah dipasarkan bahkan ke luar nusantara. Adalah Denmark, Jerman, Kanada, Singapura, dan Australia menjadi pasar setia pembeli produk seorang gadis ‘muda’ asal kota Gudeg itu.</p>
<p>Yang terbaru, seorang arek Suroboyo, mampu menggugah jiwa anak-anak muda lainnya. Layaknya Bung Tomo di kala itu, gaung keberhasilannya di bidang bisnis makanan, Bos Kebab Turki Baba Rafi ini –Anda sudah tahu siapa dia- telah membuat beberapa pengusaha di luar Indonesia tertarik untuk membeli franchisenya. Dan tak tanggung-tanggung, di usianya yang 23 tahun, usahanya mampu mencetak rekor omzet Rp 1 milyar sebulan, dihasilkan dari 100 unit gerai makanannya di seantero nusantara.<br />
<span id="more-1"></span><br />
Di luar sana, ada sosok Paul Allen (saat itu berusia 20 tahun) dan Bill Gates (19 tahun), yang mengawali kiprahnya di dunia digital. Pun juga Michael Dell, pendiri Dell Computer, memulai bisnisnya di usia muda, sekitar 20 tahunan. Bahkan, tengoklah sejarah di mana ada anak manusia yang berhasil membebaskan sebuah negara di usianya yang ’baru’ 23 tahun.</p>
<p>Tergagap aku melihat semua itu, adakah yang BESAR sudah terjadi pada diri ini? Terdiam aku merenungi hari demi hari, telahkah tercatat prestasi yang AGUNG selama ini? Tercekat tenggorokanku, mengapa tidak (belumkah?) banyak anak manusia yang bisa menikmati hadirku di dunia ini? Kapankah tiba masa di mana kebaikan menjadi pakaian keseharianku? Oh betapa ruginya telah hidup selama ini tanpa ada kecemerlangan yang bisa menyinari. Belum ada, dan memang belum ada.</p>
<p>But, wait man. Let me make a chance, and prove my words!</p>
<p>Jelang seperempat abad usiaku, setahun ke depan kumau yang terbaik. Kutak lagi bersedia berpuas diri dengan apa yang kurang dari potensi maksimalku. Malu, karena aku malu.</p>
<p>Malu pada mentari, yang tiada henti menyinari seisi bumi.<br />
Malu pada purnama, yang hadirmu selalu dirindu.<br />
Malu pada siang, yang terangnya sibuk orang bekerja bersamanya.<br />
Malu pada malam, yang anak manusia beristirahat nyenyak di dalam pelukannya.<br />
Malu pada langit, yang menaungi dari benda-benda angkasa.<br />
Malu pada bumi, yang hamparannya menampung semua anak manusia.<br />
Malu pada jiwa, yang telah diciptakan dengan penuh kesempurnaan.<br />
Malu pada jantung, yang setia berdenyut &#8230; entah hingga seberapa lamanya.</p>
<p>Kuharuskan memulai dan menuntaskan harapan. Meski dengan tertatih, sementara sudah ada yang bisa berlari. Kupaksakan menulis selembar melodi hati, meski sudah ada yang mampu menggetarkan kesadaran dengan lembaran penuh inspirasi. Kuanjurkan diri ini, untuk tidak lagi terperosok terlalu dalam di lubang yang sama. Kusegerakan melatih otot-otot mental menjadi lebih kuat dari beban-beban kehidupan. Kutak mau lagi mengasihani diri, dengan ungkapan ’emang payah hidup di negeri antah-berantah’. Karena kusadar, selalu ada yang hebat di antara mereka yang kesulitan. Bukankah susah dan mudah itu hanya sebuah pendapat pribadi? Bila kupunya waktu untuk mengeluh, sebenarnya aku juga punya waktu untuk berkarya dan memberi solusi.</p>
<p>Selamat datang jiwaku yang baru. Peluklah diri ini dengan hangat, di tengah kerinduanku akan kedamaian, kegembiraan, dan kesyukuran.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/pesona-kata-kata.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pesona Kata-kata</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit.html" rel="bookmark" class="crp_title">Tujuan Konkrit</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html" rel="bookmark" class="crp_title">Orientasi Berbicara: Dari sinilah perbincangan Anda bermula!</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/hello-world.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
