<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>riopurboyo.com &#187; Komunikasi</title>
	<atom:link href="http://riopurboyo.com/category/komunikasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://riopurboyo.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 04:22:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Akhirnya, Terbongkar Rahasia! 3 Strategi Mudah Jadi Ahli Public Speaking</title>
		<link>http://riopurboyo.com/akhirnya-terbongkar-rahasia-3-strategi-mudah-jadi-ahli-public-speaking.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/akhirnya-terbongkar-rahasia-3-strategi-mudah-jadi-ahli-public-speaking.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[ahli public speaking]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan public speaking]]></category>
		<category><![CDATA[strategi public speaking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[PUBLIC SPEAKING MAGICALLY Bagi sedikit orang, berbicara di depan publik adalah hal yang biasa. Tapi, untuk sebagian besar dari kita, yang ada malah sebaliknya. Ketika berdiri dan menyampaikan pendapat di depan banyak orang, yang boleh jadi lebih berpengetahuan, lebih berpengalaman, atau lebih berpengaruh dari kita, justru adalah penderitaan. Tapi, pernahkah Anda jumpai seseorang yang mampu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PUBLIC SPEAKING MAGICALLY</p>
<p>Bagi sedikit orang, berbicara di depan publik adalah hal yang biasa. Tapi, untuk sebagian besar dari kita, yang ada malah sebaliknya. Ketika berdiri dan menyampaikan pendapat di depan banyak orang, yang boleh jadi lebih berpengetahuan, lebih berpengalaman, atau lebih berpengaruh dari kita, justru adalah penderitaan.</p>
<p>Tapi, pernahkah Anda jumpai seseorang yang mampu mendapatkan derajat tinggi dan mempertahankannya, tanpa keahlian berbicara secara efektif di depan publik?</p>
<p>Hari ini, <em>public speaking</em> alias keahlian berbicara di publik, berfungsi seperti elevator naik pemasti keberhasilan apa pun impian hidup Anda. Karena, <em>public speaking</em> adalah senjata percepatan karier. Dari dua pribadi, yang sebanding dalam memiliki keahlian operasional, manajemen, dan kepemimpinan. Kepiawaian berbicara di depan publik, akan menjadi roket pelesat karir salah satunya.</p>
<p>Karena, <em>public speaking</em> adalah sebuah karir itu sendiri. Perhatikan, betapa perusahaan/organisasi sangat membutuhkan keberadaan seseorang dengan keterampilan berbicara di publik. Yang berguna sebagai jembatan pelayanan antara organisasi dengan pasar yang saling menghargai. Maka, mudah Anda bayangkan seperti apa dampak baiknya bagi kehidupan pribadi tersebut. Andakah orangnya?</p>
<p>Karena, <em>public speaking</em> ialah keterampilan hidup yang sangat menguntungkan si pemilik. Bagi siapa pun Anda, dalam posisi apa pun di sebuah organisasi. Bahkan, bagi seorang pemula sekalipun.	</p>
<p>Tidakkah, Anda pernah berimajinasi betapa beruntungnya Anda, ketika menjadi pembicara publik yang dihormati dan dihargai tinggi. Saya sarankan, Anda dapat segera gunakan panduan praktis 3 langkah di bawah ini, untuk membangun karir dan keahlian sebagai pembicara publik.</p>
<p><strong>#1 Self Mastery</strong></p>
<p>Saya tahu, setiap dari kita memiliki cara masing-masing untuk grogi, takut, atau pun khawatir. Termasuk, saat menjelang, sedang, atau seusai berbicara di publik. </p>
<p>Kenalilah tanda-tanda itu, mengertilah alasan di balik itu semua. Dan, jadikanlah pengalaman pribadi itu sebagai pintu keluar untuk mendesain satu paket pribadi yang baru. Gunakan pendekatan tranformatif-dan-utuh untuk selesaikan bagian ini. Jadinya, Anda tidak membuang apa pun fenomena dan perasaan negatif itu. Sebut saja: cemas, grogi, takut lupa, khawatir tanpa alasan, keringat dingin, pucat, tiba-tiba kedinginan, (atau, mungkin Anda bisa sebutkan yang lainnya). Tapi, Anda malah bersahabat dengan mereka. Kok bisa, bersahabat? Benar, saat Anda lebih terlatih menguasai berbagai warna perasaan, Anda pun lebih mahir melukiskannya dalam bentuk pelangi percakapan yang lebih semarak.<br />
Seperti syair lagu yang mungkin masih Anda ingat, “Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.”</p>
<p>Ringankan beban perjalanan hidup Anda di masa depan. Dengan mengubah pengalaman Anda di masa lalu, sebagai modal berharga dan cermin kebijaksanaan dalam melangkah. <em><strong>Kita bisa lebih menikmati hidup, saat menguasai pikiran-dan-perasaan pribadi</strong></em>. Dan, persis seperti itulah yang ditampilkan secara mantap oleh seorang pembicara seminar yang terlatih. </p>
<p><strong>#2 Art of Communication</strong></p>
<p>Seni berkomunikasi! Mengapa disebut demikian. Anda tahu, komunikasi takhanya tentang keakraban hubungan. Tapi juga, pesan yang disampaikan, cara sebuah gagasan disajikan, dan dampak yang secara tepat diinginkan. </p>
<p>Begitu Anda sadari, saat ini kita berada di tengah perang besar, bernama perebutan perhatian. Maka, sudahkah Anda lebih mampu menggaet dan mempertahankan perhatian dari teman bicara Anda, sejak menit pertama? Sudahkah Anda terlepas dari jeratan “kutukan pengetahuan”? Sudahkah Anda lihai menggelindingkan satu gagasan ke gagasan lainnya, sehingga transisi perpindahannya terasa sangat mulus dan lembut?</p>
<p>#3 Art of Presentation</p>
<p>Pernahkah Anda perhatikan, dari banyak iklan yang memborbardir pikiran, hanya sedikit sekali yang mampu melekat dalam benak kita. Jika diibaratkan seperti iklan, apakah pidato, seminar, presentasi yang kita sajikan lebih mudah dilupakan, atau laksana perangko yang sangat melekat seperti yang kita inginkan?</p>
<p>Setelah penguasaan diri dan komunikasi antar pribadi yang efektif. Saatnya, kita menyuguhkan gagasan dengan strategi yang mampu melekatkannya ke benak pendengar. Sebagai pembicara publik, kita ingin terjadi kesesuaian antara identitas pribadi, pesan dan harapan yang kita miliki, dengan model pikiran-dan-perasaan audience. </p>
<p>Keselarasan itu mutlak membutuhkan jalan bebas hambatan, berupa presentasi yang pas! Itulah kenapa, cepat atau lambat Anda akan mengerti bahwa presentasi di tangan sang ahli ialah sebuah seni. Penggunaan strategi, kiat-kiat praktis, dan humor yang tepat terjadi sempurna, layaknya racikan aneka bumbu dan bahan di tangan seorang chef yang andal.</p>
<p>Pembicara publik yang andal, terlatih memahat pesan terpentingnya. Pembicara publik yang andal, terampil menampilkan bingkai dan isi pidatonya. Pembicara publik yang andal, secara halus terbiasa mampu membekaskan perubahan positif bagi pendengarnya. </p>
<p>Itu semua mudah didapat, dalam pelatihan yang tepat! Anda pun dapat menikmatinya. Jika belum dapat, berlatih bersama adalah jawabannya.<br />
Tapi, taksekedar berlatih apalagi berlatih sekedarnya. Berlatihlah dalam pengkondisian lingkungan yang tepat, demi akselerasi perbaikan sikap dan keahlian Anda. Berlatihlah bersama sobat belajar yang memberdayakan. Berlatihlah yang benar, setelah itu, berlatih secara benar. </p>
<p>Seperti tiada manfaat melatih gajah memanjat. Jadi jika, Anda lebih sukai dan mampu bercerita, akan lebih tepat gunakannya sebagai modal melatih keahlian Anda berbicara di publik. Daripada melatih Anda, untuk harus terampil menggunakan gaya bercakap-cakap model tanya-jawab.</p>
<p>Wah, sekarang sepertinya Anda lebih memahami esensi dari modeling. Amati, tiru, modifikasi. Amati dengan tulus. Tirulah sebaik mungkin. Dan tirulah dengan lebih baik, modifikasi.</p>
<p>Sampai di sini, saya sudah meyakinkan Anda betapa penting menguasai keahlian berbicara di publik.  Anda juga telah baca 3 strategi dasar menguasai keahlian berbicara di publik. Dengan sungguh-sungguh, saya berharap dapat menjadi sobat berlatih Anda, menguasai keahlian berbicara di publik. </p>
<p>Semoga kita dapat berjumpa di lokasi berlatih, 4-5 Februari 2012 nanti. <strong><em>Mendaftarlah</em></strong> ke panitia. 085-234-418-503, segera. Atau, <em><strong>sekarang</strong></em> juga. Untuk dapatkan <strong><em>harga spesial</em></strong>. Info detailnya, ada di bawah ini. Terima kasih.</p>
<p>Rio Purboyo:  “Your Magical Public Speaking Trainer”</p>
<p><a href="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2012/01/poster-PSM_feb-2012.jpg"><img src="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2012/01/poster-PSM_feb-2012.jpg" alt="poster PSM feb 2012 Akhirnya, Terbongkar Rahasia! 3 Strategi Mudah Jadi Ahli Public Speaking" title="RioPurboyo-Public Speaking Magically" width="513" height="720" class="aligncenter size-full wp-image-744" /></a></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/kenapa-jadi-peserta-public-speaking-magically.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kenapa jadi peserta Public Speaking Magically</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html" rel="bookmark" class="crp_title">Orientasi Berbicara: Dari sinilah perbincangan Anda bermula!</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/cara-cepat-menarik-perhatian.html" rel="bookmark" class="crp_title">Cara Cepat Menarik Perhatian</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-pelaku-keinginan-pribadi.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda Pelaku Keinginan Pribadi?</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/kutukan-pengetahuan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kutukan Pengetahuan</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/akhirnya-terbongkar-rahasia-3-strategi-mudah-jadi-ahli-public-speaking.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Cepat Menarik Perhatian</title>
		<link>http://riopurboyo.com/cara-cepat-menarik-perhatian.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/cara-cepat-menarik-perhatian.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 08:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[dengar]]></category>
		<category><![CDATA[ketertarikan]]></category>
		<category><![CDATA[mendengarkan]]></category>
		<category><![CDATA[tertarik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[Di era informasi yang serba tersedia saat ini, kita maklum terjadinya banjir pengetahuan. Komunikasi sebagai saluran penyampaian, telah menemukan tantangan terbarunya. Apa? Kelangkaan perhatian! Ketertarikan dan pemusatan perhatian menjadi hal yang sangat diinginkan. Bayangkan, bila di sekitar Anda tersedia 30 saluran siaran televisi; 3 akun messenger; dan cuap-cuap iklan di radio; yang kesemuanya sama-sama menyala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di era informasi yang serba tersedia saat ini, kita maklum terjadinya banjir pengetahuan. Komunikasi sebagai saluran penyampaian, telah menemukan tantangan terbarunya. Apa? Kelangkaan perhatian! Ketertarikan dan pemusatan perhatian menjadi hal yang sangat diinginkan. Bayangkan, bila di sekitar Anda tersedia 30 saluran siaran televisi; 3 akun messenger; dan cuap-cuap iklan di radio; yang kesemuanya sama-sama menyala dan meminta perhatian Anda. Bagaimana rasanya? Kewalahan, pasti!</p>
<p>Di tengah kondisi itu, tidakkah Anda sempat terpikir untuk bertanya pada diri sendiri, “Hei, apa maksudnya dengan ini semua?” “Apa sesungguhnya yang kuinginkan dari ini semua?” </p>
<p>Anda tahu, hubungan yang Anda bangun dengan dunia di luar diri, adalah untuk menciptakan hubungan sosial yang makin sukses. Bukan hanya hubungan yang sepintas dan tak tuntas. Tentu, bukan itu yang Anda inginkan. Oleh karenanya, mulai saat ini Anda dapat memilih untuk berfokus pada mendengarkan. Itu artinya, jumlah saluran komunikasi pun Anda batasi yang sesuai dengan terbatasnya perhatian manusia. Sejak saat ini, Anda jadi lebih tertarik untuk memusatkan perhatian penuh kepada teman bicara. Anda pun lebih mampu memahami pesan lengkap yang sedang diberikan.<br />
Pilihan ini, membutuhkan kesediaan diri untuk memperhatikan lebih lengkap: kontak mata yang sesuai, mengamati bahasa tubuh teman bicara, meminta penjelasan, dan mendengarkan yang tidak terucap.</p>
<p>Cara pasti gagal untuk mendengarkan ialah dengan terlalu ingin bersikap menarik, daripada tertarik kepada seseorang yang sedang mereka dengarkan. Orang semacam itu percaya, bahwa jalan menuju hubungan sosial yang baik ialah dengan terus-menerus bicara, memamerkan keahlian, mempertontonkan kecerdasan mereka dengan kata-kata dan komentar. Mungkin, kebutuhannya untuk dianggap cerdas dan penting, telah sedemikian menggebunya. Ugh, betapa!</p>
<p>Syukur, itu bukan diri Anda bukan?</p>
<p>Sebaliknya, ialah pendekatan yang tepat. Gunakan cara terbaik untuk menjalin hubungan baik dan membuat mereka berpihak kepada Anda. Ialah dengan menjadi benar-benar <strong><em>tertarik</em></strong> kepada mereka. Dengan niat tulus, dengarkanlah sungguh-sungguh untuk belajar tentang mereka. Ketika Anda merasa bahwa saya benar-benar tertarik untuk mengenal pikiran dan perasaan Anda, berniat tulus membantu dampingi Anda menjadi pribadi terbaik, secepat mungkin Anda akan membuka diri dan berbagi perasaan Anda yang sesungguhnya kepada saya.</p>
<p><strong><em></p>
<blockquote><p>“Dengarkan seratus kali. Pikirkan seribu kali. Bicaralah sekali.”</em></p></blockquote>
<p></strong><br />
<a href="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2012/01/listen-dengarkan-riopurboyo.jpg"><img src="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2012/01/listen-dengarkan-riopurboyo.jpg" alt="listen dengarkan riopurboyo Cara Cepat Menarik Perhatian" title="listen-dengarkan-riopurboyo" width="500" height="357" class="aligncenter size-full wp-image-727" /></a></p>
<p>Sejak saat ini, latihlah mengembangkan sikap penasaran. Bersikap ingintahulah mengenai orang lain, perasan mereka, pikiran mereka, cara pandang mereka. Apa harapan, impian, dan ketakutan mereka? Apa cita-cita mereka? Apa rintangan yang mereka hadapi dan bagaimana <a href="http://riopurboyo.com/boleh-kubantu/testimoni" target="_blank">mereka mampu mengatasinya?</a></p>
<p>Jika Anda ingin orang bekerja sama dengan Anda, menyukai Anda, atau lebih membuka diri kepada Anda, Anda harus <strong><em>tertarik</em></strong> kepada mereka. Alih-alih terpusat pada diri sendiri, mulailah terfokus kepada orang lain. Ketika Anda tertarik, orang lain menanggapi ketertarikan Anda kepada mereka. Dengannya, mereka ingin senantiasa berada di sekitar Anda.</p>
<p><strong>NB.</strong> Untuk kualitas hidup Anda yang lebih baik, bolehkah saya membantu Anda?<br />
Daftarkan diri Anda di acara workshop terdekat =<br />
(*) <strong>29 Januari 2012</strong>, Surabaya. Workshop “Sell Your Talent”. DAFTAR? Hubungi 0858-1531-1207.<br />
(*) <strong>4-5 Februari 2012</strong>, Kota Malang. Workshop “Public Speaking Magically”. DAFTAR? Hubungi 085-234-418-503 atau 0857-4850-5532.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/kenapa-jadi-peserta-public-speaking-magically.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kenapa jadi peserta Public Speaking Magically</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-pelaku-keinginan-pribadi.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda Pelaku Keinginan Pribadi?</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/coaching-apa-kucing.html" rel="bookmark" class="crp_title">Coaching apa Kucing?</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/bagaimana-memastikan-bisnis-berhasil.html" rel="bookmark" class="crp_title">Bagaimana Memastikan Bisnis Anda Berhasil</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/akhirnya-terbongkar-rahasia-3-strategi-mudah-jadi-ahli-public-speaking.html" rel="bookmark" class="crp_title">Akhirnya, Terbongkar Rahasia! 3 Strategi Mudah Jadi Ahli Public Speaking</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/cara-cepat-menarik-perhatian.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manajemen Pertanyaan Bikin Hidup Lebih Baik</title>
		<link>http://riopurboyo.com/manajemen-pertanyaan-bikin-hidup-lebih-baik.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/manajemen-pertanyaan-bikin-hidup-lebih-baik.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 22:37:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[AS]]></category>
		<category><![CDATA[bertanya]]></category>
		<category><![CDATA[cerdas bertanya]]></category>
		<category><![CDATA[depresi ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan bertanya]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[walgreen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[Manajemen Pertanyaan? Mengapa saya membutuhkannya? Dan, bagaimana bisa bertanya mampu berdampak baik bagi kehidupan saya? Jika benar berdampak baik, lantas bagaimana caranya? Temukan jawaban pertanyan Anda, dengan membaca tuntas yang berikut ini. Amerika Serikat sempat mengalami depresi ekonomi pada 1930-an yang menyebabkan Walgreen berubah menjadi bisnis yang hampir bangkrut. Untuk membantu toko ini supaya dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-424" title="3d human with a red question mark" src="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2011/06/question-mark1-300x300.jpg" alt="question mark1 300x300 Manajemen Pertanyaan Bikin Hidup Lebih Baik" width="300" height="300" />Manajemen Pertanyaan? Mengapa saya membutuhkannya? Dan, bagaimana bisa bertanya mampu berdampak baik bagi kehidupan saya? Jika benar berdampak baik, lantas bagaimana caranya?</p>
<p>Temukan jawaban pertanyan Anda, dengan membaca tuntas yang berikut ini.</p>
<p>Amerika Serikat sempat mengalami depresi ekonomi pada 1930-an yang menyebabkan Walgreen berubah menjadi bisnis yang hampir bangkrut. Untuk membantu toko ini supaya dapat bertahan, seorang konsultan yang sekaligus salesman, Mr.Wheeler didatangkan untuk menjawab tantangan ini.</p>
<p>Kepada kepala toko, Mr.Wheeler bertanya “Barang dagangan apa yang paling laku dan paling mudah dijual?” “Telur” jawab kepala toko.</p>
<p>Mr. Wheeler kemudian mempelajari cara pramusaji Walgreen meminta order dari para pembeli. Setiap kali para pramusaji bertanya “Apakah Anda menginginkan telur di dalam minuman Anda atau tidak?” Serta merta para pembeli kebanyakan menjawab dengan TIDAK. Kemudian Mr. Wheeler meminta para pramusaji mengganti pertanyaan tersebut dengan “Anda mau satu telur atau dua telur?” Tiba-tiba banyak pelanggan yang biasanya tidak menghendaki telur di dalam minumannya, meminta paling sedikit satu telur. Siasat sederhana ini terbukti mampu mendongkrak keuntungan Walgreen.</p>
<p><span id="more-125"></span></p>
<p>Brian Tracy menyebutkan bahwa dengan mengubah pemikiran kita, maka hidup kita akan berubah. Padahal, kualitas pemikiran kita sebanding dengan kualitas jawaban atas beragam permasalahan yang kita hadapi setiap harinya. Tantangan biasanya muncul, ketika jawaban-jawaban lama yang biasa kita gunakan tidak bisa lagi menyelesaikan masalah-masalah  baru.</p>
<p>Dengan menggunakan logika sederhana berikut ini …</p>
<p>1.	Karena kualitas hidup kita tergantung pada kualitas pemikiran (dan juga perasaan kita pastinya).<br />
2.	Berpikir adalah proses bertanya dan menjawab.<br />
3.	Jawaban yang baik muncul dari pertanyaan yang baik.<br />
4.	Maka, kualitas hidup kita tergantung pada kualitas pertanyaan kita.</p>
<p>Cukuplah aman untuk disimpulkan bahwa …</p>
<blockquote><p>“Kualitas pertanyaan kita menentukan kualitas hidup kita”<br />
“Makin berkualitas pertanyaan kita, makin berkualitas pula hidup kita”</p></blockquote>
<p>Bahkan, Federal Express –sebuah perusahaan jasa pengiriman handal– berdiri karena adanya sebuah pertanyaan sederhana. Fred Smith sang pendiri FedEx terilhami oleh “Mengapa tidak ada satu pun pengiriman ekspres satu hari yang dapat diandalkan?”</p>
<p>Untuk membantu Anda menjawab pertanyaan tentang pertanyaan yang satu ini “<strong><em>Pertanyaan apa yang terbaik untuk dilontarkan di sini dan saat ini?</em></strong>” saya telah menghimpun 17 kategori pertanyaan yang bisa Anda gunakan di sepanjang hidup Anda.</p>
<p>Semoga bermanfaat. Selamat bertanya dan bertindak!</p>
<p>Salam, dari seorang sahabat yang kehendaki kualitas hidup Anda yang lebih cemerlang.</p>
<p>Rio Purboyo | on becoming Coach | 0858.1531.1207</p>
<h3>1.	Pertanyaan Mendasar.</h3>
<p>1.	Hal terbaik apa yang dapat saya lakukan dalam kondisi saat ini?<br />
2.	Apakah saya memilih yang terbaik, kemudian meninggalkan yang lainnya?<br />
3.	Hal terbaik apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi masalah ini? Apa solusi terbaiknya?<br />
4.	Apa jalan termudah untuk mencapai tujuan ini?<br />
5.	Apa tindakan termudah yang dapat saya ambil?<br />
6.	Apa jalan yang paling sedikit perlawanannya?<br />
7.	Apakah saya sudah menulis daftar berisi langkah-langkah tindakan yang terbaik?<br />
8.	Apakah yang membedakan kualitas hidup orang-orang sukses dari yang tidak?<br />
9.	Bila hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, akan seperti apakah saya menggunakan hari ini?</p>
<h3>2.	Pertanyaan ‘APA’.</h3>
<p>1.	Apa yang paling saya sukai/kagumi dari diri sendiri?<br />
2.	Apa kemampuan terbesar saya?<br />
3.	Apa kegiatan favorit saya?<br />
4.	Apa tujuan terpenting saya saat ini?<br />
5.	Apa tindakan terbaik yang dapat saya ambil mulai dari sekarang?<br />
6.	Apa yang membuat setiap tugas hari ini menjadi paling menyenangkan?<br />
7.	Apa kesempatan terbaik yang dapat saya manfaatkan saat ini?<br />
8.	Apa pertanyaan yang paling memberdayakan yang dapat saya ajukan saat ini?<br />
9.	Apa solusi terbaik bagi masalah/kekhawatiran saya?<br />
10.	Apa penggunaan waktu terbaik saya saat ini?<br />
11.	Apa yang dapat saya lakukan untuk memunculkan kepribadian terbaik dalam diri sendiri/orang lain?<br />
12.	Apa saran terbaik saya/Anda?<br />
13.	Apa sumber inspirasi terbesar saya?<br />
14.	Apa yang terpenting bagi saya?<br />
15.	Apa yang terpenting bagi mereka yang terpenting bagi saya?<br />
16.	Apa keuntungan yang akan saya dapatkan dengan mengambil tindakan terbaik untuk mencapai hal-hal yang terpenting bagi saya?<br />
17.	Apa keuntungan yang akan saya dapatkan dengan mengambil tindakan terbaik untuk mendukung mereka yang terpenting bagi saya untuk mencapai hal-hal terpenting bagi mereka?<br />
18.	Apa keinginan terbesar dari kehidupan saya?</p>
<h3>3.	Pertanyaan ‘MENGAPA’.</h3>
<p>1.	Mengapa ini menjadi aset terbesar saya?<br />
2.	Mengapa ini menjadi tujuan terpenting saya?<br />
3.	Mengapa ini menjadi kesempatan terbaik saya saat ini?<br />
4.	Mengapa ini menjadi produk yang paling menguntungkan kita (Anda dan saya)?<br />
5.	Mengapa ini menjadi produk kita yang terpopuler?<br />
6.	Mengapa ini menjadi solusi terbaik?<br />
7.	Mengapa saya sangat ingin menerima masa sekarang?<br />
8.	Mengapa saya sangat ingin menerima perasaan saya?<br />
9.	Mengapa saya sangat ingin mengasihani kekurangan saya?<br />
10.	Mengapa saya sangat ingin mencintai diri sendiri dan kehidupan?<br />
11.	Mengapa saya sangat ingin bahagia?</p>
<h3>4.	Pertanyaan ‘BAGAIMANA’.</h3>
<p>1.	Bagaimana saya mengidentifikasi yang terbaik?<br />
2.	Bagaimana saya dapat memunculkan yang terbaik dari diri saya dan orang lain?<br />
3.	Bagaimana saya dapat memanfaatkan bakat dan kemampuan terbesar saya sebaik mungkin?<br />
4.	Bagaimana saya dapat dengan mudah mencapai dan merawat kesehatan dan kebugaran?<br />
5.	Bagaimana saya dapat meraih tujuan saya dalam waktu sesingkat mungkin?<br />
6.	Bagaimana saya dapat memanfaatkan kekuatan saya sebaik mungkin?<br />
7.	Bagaimana kita dapat memberikan pelayanan terbaik bagi siapa pun?<br />
8.	Bagaimana kita dapat memaksimalkan keuntungan kita?<br />
9.	Bagaimana kita dapat memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin?<br />
10.	Bagaimana saya bisa memanfatkan hidup saya sebaik mungkin?<br />
11.	Bagaimana saya bisa sangat mendukung mereka yang terpenting bagi saya?<br />
12.	Bagaimana saya dapat menjalani hidup yang utuh?</p>
<h3>5.	Pertanyaan ‘SIAPA’.</h3>
<p>1.	Siapa orang terpenting dalam hidup saya?<br />
2.	Siapa yang paling dapat saya percaya?<br />
3.	Siapa yang paling saya kagumi?<br />
4.	Siapa orang yang paling cocok dengan saya?<br />
5.	Siapa orang yang paling saya inginkan untuk menjadi rekan kerja?<br />
6.	Siapa pelanggan terbaik saya?<br />
7.	Siapa yang paling mendapat keuntungan dari apa yang saya tawarkan?<br />
8.	Siapa orang terbaik untuk saya ajak bicara mengenai hal itu?<br />
9.	Dengan siapa saya paling menikmati hal yang menyenangkan?<br />
10.	Siapa yang paling membantu pertumbuhan pribadi, karier, dan keluarga saya?</p>
<h3>6.	Pertanyaan ‘KAPAN’.</h3>
<p>1.	Kapan waktu terbaik untuk mengambil tindakan ini?<br />
2.	Kapan waktu terbaik untuk memulai tugas/proyek ini?<br />
3.	Kapan waktu terbaik untuk menyelesaikan tugas/proyek ini?<br />
4.	Kapan saya menjadi yang terproduktif?<br />
5.	Kapan saya menjadi yang terbaik?<br />
6.	Kapan waktu terbaik untuk berbicara dengan Anda?<br />
7.	Kapan saya dipenuhi rasa syukur?<br />
8.	Kapan saya paling merasa terinspirasi?<br />
9.	Kapan saya paling mencintai?<br />
10.	Kapan saya bersuka cita?</p>
<h3>7.	Pertanyaan ‘DI MANA’.</h3>
<p>1.	Di mana tempat favorit saya?<br />
2.	Di mana tempat terbaik untuk kita bicara secara pribadi?<br />
3.	Di mana saya bisa menemukan orang-orang terbaik?<br />
4.	Di mana saya bisa merasa paling santai?<br />
5.	Di mana tempat terbaik bagi saya untuk mewujudkan tujuan terpenting saya?<br />
6.	Di mana sumber inspirasi terbaik saya?<br />
7.	Di mana lokasi terbaik untuk bekerja?</p>
<h3>8.	Pertanyaan Penuntun Produktivitas Pekanan.</h3>
<p>1.	Apa prioritas tertinggi saya pekan ini?<br />
2.	Apa tindakan terbaik yang dapat saya ambil untuk mencapainya?<br />
3.	Bagaimana saya dapat membuat setiap hari saya amat membahagiakan?<br />
4.	Hal terbaik apa yang bisa saya lakukan untuk bisa bahagia?<br />
5.	Bagaimana saya dapat menjadi yang terbaik?<br />
6.	Bagaimana saya dapat memanfaatkan hidup sebaik mungkin?<br />
7.	Bagaimana saya dapat membuat hidup saya paling menyenangkan?<br />
8.	Bagaimana saya dapat menguatkan orang lain untuk menjadi yang terbaik?</p>
<h3>9.	Untuk mengatasi rasa takut, ajukan pertanyaan berikut:</h3>
<p>1.	Apa yang sedang saya pikirkan/lakukan yang membuat saya merasa tidak nyaman?<br />
2.	Apa yang sedang saya pikirkan/lakukan yang membuat saya tidak dapat menjadi diri sendiri seutuhnya?<br />
3.	Apa tindakan terbaik yang dapat saya ambil untuk mengatasi ini?<br />
4.	Apa yang harus saya pikirkan dan lakukan untuk merasa benar-benar nyaman dengan kesuksesan?<br />
5.	Bagaimana saya dapat menikmati cara-cara saya memanfaatkan hidup sebaik mungkin?</p>
<h3>10.	Pertanyaan berkaitan dengan keyakinan diri untuk menunjang pencapaian kesuksesan.</h3>
<p>1.	Apa yang terpenting bagi saya?<br />
2.	Keyakinan mana yang saya butuhkan untuk mencapai apa yang terpenting bagi saya?<br />
3.	Bagaimana saya bisa yakin bahwa keyakinan-keyakinan ini adalah keinginan saya?<br />
4.	Bagaimana cara terbaik untuk mengatasi rintangan apa pun yang tidak mendukung keyakinan ini?<br />
5.	Seberapa banyak kegiatan saya yang mengesahkan keyakinan ini hari ini/pekan ini?</p>
<h3>11.	Pertanyaan berkaitan dengan harga diri.</h3>
<p>1.	Apakah saya merasa pantas mendapatkan yang terbaik dalam hidup ini?<br />
2.	Apakah saya yakin bahwa saya dapat merasakan yang terbaik dalam hidup?<br />
3.	Apakah semua prestasi ini mendeskripsikan diri saya yang sebaik-baiknya?<br />
4.	Bagaimana saya dapat memanfaatkan aset ini sebaik-baiknya?<br />
5.	Apa yang paling saya sukai dari diri sendiri?<br />
6.	Apakah saya siap untuk membiarkan diri terbaik saya mengambil kendali saat ini?<br />
7.	Dapatkah saya menerima diri sendiri tanpa syarat?<br />
8.	Tindakan apa yang akan paling menguntungkan harga diri saya?<br />
9.	Apa keuntungan yang akan saya peroleh dan apa kerugian yang akan saya hindari dengan menerima diri terbaik saya?<br />
10.	Bagaimana pikiran dan perasaan saya sebagai pribadi yang terbaik?<br />
11.	Bila inilah yang saya inginkan, mengapa saya tidak mendapatkannya sebelumnya?<br />
12.	Tindakan terbaik apa yang dapat saya ambil untuk mengatasi tantangan (no.11) ini?</p>
<h3>12.	Untuk meminimalkan kelemahan, selain menerima diri Anda tanpa syarat, jawablah pertanyaan berikut ini:</h3>
<p>1.	Apa keuntungan yang akan saya dapatkan dengan memperbaiki kelemahan ini?<br />
2.	Apa kehilangan yang akan saya hindari dengan memperbaiki kelemahan ini?<br />
3.	Bagaimana cara terbaik untuk meminimalkan kelemahan ini?<br />
4.	Tindakan terbaik apa yang dapat saya lakukan SEKARANG untuk mencapai hal-hal yang saya inginkan?</p>
<h3>13.	Pertanyaan yang akan membantu Anda mengidentifikasi dan mewujudkan tujuan hidup Anda.</h3>
<p>1.	Apa yang paling saya pedulikan/perhatikan/hargai?<br />
2.	Apa dan siapa yang saya sukai?<br />
3.	Apa komitmen terbesar saya?<br />
4.	Apa yang saya pertahankan? Apa prinsip-prinsip hidup saya?<br />
5.	Kapan saya berada dalam kondisi terbaik?<br />
6.	Apa yang paling menguntungkan untuk harga diri saya?<br />
7.	Apa yang paling tidak saya inginkan?<br />
8.	Apa yang saya inginkan lebih dari apa pun?<br />
9.	Kegiatan apa yang paling saya sukai?<br />
10.	Berdasarkan prioritas, tiga hal apa yang paling saya hargai dalam hidup?<br />
11.	Berdasarkan prioritas, tiga ambisi apa yang terpenting dalam hidup saya?<br />
12.	Bila saya memiliki waktu satu tahun untuk hidup, bagaimana saya akan memanfaatkan hidup sebaik-baiknya?<br />
13.	Bagaimana saya ingin diingat nanti (misal: setelah mati)?<br />
14.	Bila saya diberi kemakmuran sebanyak yang saya butuhkan/inginkan, bagaimana saya akan menjalani hidup saya?<br />
15.	Bila saya menghadapi hari terakhir (dalam hidup saya), akan seperti apa itu?<br />
16.	Apa sebuah tujuan yang akan saya konsentrasikan bila saya tahu bahwa tidak ada peluang untuk gagal?<br />
17.	Apa tujuan terpenting saya? Apa yang paling ingin saya selesaikan?<br />
18.	Apa kelebihan-kelebihan saya? Apa bakat dan karunia saya? Aset-aset apa yang saya tunjukkan?<br />
19.	Apa yang membuat saya bahagia/bersuka cita?<br />
20.	Apa yang senang saya lakukan?<br />
21.	Apa yang paling menarik untuk saya lakukan? Apa hasrat saya?<br />
22.	Bagaimana saya menikmati berkontribusi bagi orang lain?<br />
23.	Apa yang menyebabkan saya amat ingin melayani?<br />
24.	Perusahaan apa yang paling cocok bagi saya?<br />
25.	Apa tujuan karier saya?<br />
26.	Berapa banyak waktu yang saya sediakan demi tujuan saya setiap hari?<br />
27.	Apakah usaha-usaha terbaik saya cukup pantas? Mengapa (ya/tidak)?<br />
28.	Apakah pikiran, perasaan, dan tindakan saya ini sesuai dengan tujuan hidup saya?<br />
29.	Tindakan terbaik apa yang dapat saya ambil untuk mencapai tujuan saya sekarang?<br />
30.	Sampai seberapa besar tindakan saya mengarah pada penggenapan tujuan saya?<br />
31.	Apa alasan utama saya hidup?<br />
32.	Apa yang paling saya hargai?<br />
33.	Berapa banyak waktu yang saya sediakan demi tujuan terbaik saya setiap harinya?<br />
34.	Apakah usaha-usaha terbaik saya selama ini cukup pantas? Mengapa (ya/tidak)?</p>
<h3>14.	Pertanyaan yang berkaitan dengan perencanaan kehidupan.</h3>
<p>1.	Apa yang paling ingin Anda capai, lakukan, miliki, dan kontribusikan?<br />
2.	Mana tujuan yang terpenting?<br />
3.	Di mana Anda sekarang berkaitan dengan tujuan Anda?<br />
4.	(rintangan) Bila ini yang Anda inginkan, mengapa Anda belum mendapatkannya?<br />
5.	(resiko) Apa kerusakan, luka, dan kehilangan yang mungkin terjadi? Apa skenario terburuk yang mungkin terjadi?<br />
6.	(solusi) Apa tindakan terbaik yang dapat Anda ambil –berdasarkan prioritas dan target waktu– untuk mengatasi rintangan dan meminimalkan resiko?<br />
7.	Berapa lama jangka waktu terbaik untuk menyelesaikan tujuan Anda?<br />
8.	Apa langkah pertama yang harus Anda ambil untuk mengaktifkan rencana ini?<br />
9.	Apakah semua keuntungan yang akan diraih sebanding dengan harga yang harus Anda bayar? Mengapa (ya/tidak)?<br />
10.	Bagaimana Anda tahu bahwa Anda tidak menyimpang dari tujuan dan jalan Anda? Bagaimana Anda dapat mengawasi kemajuan Anda seefektif mungkin?</p>
<h3>15.	Pertanyaan berkaitan dengan perasaan.</h3>
<p>1.	Mengapa saya merasa seperti ini?<br />
2.	Apa yang tidak saya dengarkan?<br />
3.	Apa yang tidak saya atasi?<br />
4.	Apa yang saya takuti?<br />
5.	Apa yang hilang dari saya?<br />
6.	Apa yang sedang saya pikirkan/lakukan yang menyebabkan perasaan ini?<br />
7.	Apa yang coba diajarkan perasaan ini kepada saya?<br />
8.	Apa yang dapat saya pelajari dari perasaan-perasaan ini?<br />
9.	Apakah saya pernah merasa seperti ini sebelumnya?<br />
10.	Kejadian, situasi apa, atau siapa saja yang berhubungan dengan perasaaan ini?<br />
11.	Bagaimana (seharusnya) saya bersikap ketika saya merasa seperti ini?<br />
12.	Apa yang saya butuhkan dan inginkan di atas segalanya dalam hal perasaan ini?<br />
13.	Apa pilihan saya dalam kondisi emosi seperti ini?<br />
14.	Bagaimana cara terbaik mengatasi perasaan ini?<br />
15.	Bagaimana cara terbaik menyelesaikan perasaan ini?<br />
16.	(dalam kondisi emosi seperti ini) Apa tindakan paling konstruktif yang dapat saya lakukan untuk mencapai yang saya inginkan?<br />
17.	Apa yang dapat saya lakukan untuk menciptakan solusi terbaik dalam kondisi emosi saat ini?<br />
18.	Apa tindakan paling manis yang dapat saya ambil bagi diri saya sendiri?<br />
19.	Apa yang telah saya lakukan di masa lalu?<br />
20.	Apa yang saya fokuskan dan tindakan apa yang saya ambil di masa lalu?<br />
21.	Bagaimana saya dapat memanfaatkan strategi sukses (yang sudah terbukti di masa lalu) ini sebaik-baiknya?<br />
22.	Apa sebenarnya yang saya rasakan?<br />
23.	Apa yang tidak benar untuk saya dalam hal ini?<br />
24.	Apa yang perlu saya lakukan untuk menghilangkan keputusasaan atau ketidaknyamanan ini?<br />
25.	Mengapa saya merasa cemas?<br />
26.	Apakah saya takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi?<br />
27.	Apa yang menyebabkan saya merasa terancam?<br />
28.	Saya takut kehilangan apa?<br />
29.	Apa hal terbaik yang dapat saya lakukan untuk menghilangkan ancaman itu?<br />
30.	Apa perubahan dalam pikiran yang diperlukan untuk menciptakan keamanan dalam hidup saya?<br />
31.	Bagaimana saya dapat menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menangani (perasaan) ini?<br />
32.	Apa tindakan terbaik yang dapat saya ambil untuk menghindari kehilangan dan meminimalkan rasa sakit?<br />
33.	Apa tindakan paling bijaksana yang dapat saya ambil dalam situasi tersebut?<br />
34.	Mengapa saya merasa terluka?<br />
35.	Bagaimana saya bisa terluka?<br />
36.	Apa yang saya pikirkan dan lakukan yang menciptakan luka ini?<br />
37.	Harapan mana yang tidak saya penuhi?<br />
38.	Apakah saya melewatkan sesuatu yang penting yang menyebabkan saya merasa dikhianati/dilukai?<br />
39.	Apakah luka (emosi) ini disengaja?<br />
40.	Bagaimana kehilangan ini dapat membantu saya?<br />
41.	Apa strategi terbaik untuk melepaskan perasaan ini?<br />
42.	Apa perubahan terbaik yang dapat saya buat untuk melepaskan rasa sakit?<br />
43.	Apakah harapan saya realistis?<br />
44.	Apakah saya menyadari keterbatasan dan menetapkan batasan yang penting bagi saya?<br />
45.	Apa hal terbaik yang dapat saya lakukan untuk memastikan bahwa batasan (emosional) ini tidak dilanggar di masa depan?<br />
46.	Harapan mana yang mengecewakan diri sendiri bila saya tidak mencapainya?<br />
47.	Prinsip hidup mana yang telah saya langgar?<br />
48.	Apakah prinsip-prinsip hidup ini dibentuk dengan baik dan rasional?<br />
49.	Adakah faktor lain yang berkontribusi terhadap rasa kecewa saya ini?<br />
50.	Apakah saya benar-benar bersalah dalam hal ini?<br />
51.	Apakah hidup saya berdasarkan standar sendiri atau standar orang lain?<br />
52.	Apakah saya seorang yang perfeksionis?<br />
53.	Apakah saya terlalu menuntut diri sendiri?<br />
54.	Mengapa saya takut mengungkapkan kemarahan?<br />
55.	Dapatkah saya memperbaiki kesalahan saya?<br />
56.	Bagaimana saya dapat mengoptimalkan sikap saya di masa depan dalam hal menghadapi kemarahan?<br />
57.	Mengapa saya merasa terlalu terbebani?<br />
58.	Apakah saya memandang kehidupan melalui kacamata pesimistis?<br />
59.	Apakah saya percaya kondisi saya kali ini permanen?<br />
60.	Apakah saya melimpahkan segala kesalahan kepada diri sendiri atas hidup saya yang buruk?<br />
61.	Apakah saya memperhatikan perasaan-perasaan saya sendiri dan mengambil tindakan yang paling bijaksana untuk memenuhi kebutuhan diri saya?<br />
62.	Pikiran paling kuat apa yang dapat saya gunakan untuk mengambil kendali atas hidup saya?<br />
63.	Bagaimana cara terbaik untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran saya saat ini?<br />
64.	Apa yang perlu saya lakukan untuk merasa bahwa saya telah mengkomunikasikan segalanya?<br />
65.	Bagaimana cara lain yang dapat saya gunakan untuk memenuhi keinginan, harapan, dan impian saya?<br />
66.	Mengapa saya menghalangi diri saya untuk mengoptimalkan hidup saya?<br />
67.	Mengapa saya takut menerima tanggung jawab untuk mengoptimalkan hidup saya?<br />
68.	Apa hal terbaik yang dapat saya ambil untuk meminimalkan kecemasan saya?<br />
69.	Bagaimana saya merawat diri sebaik mungkin?<br />
70.	Apakah saya merasa tidak dicintai?<br />
71.	Apakah saya merasa tidak dibutuhkan dan berbeda dari orang lain?<br />
72.	Apakah saya takut diniai dan tidak sepadan?<br />
73.	Apakah saya menyalahkan kesepian saya pada hal-hal yang tidak dapat diubah?<br />
74.	Apakah saya terbuka secara emosional?<br />
75.	Apakah saya sedang mencoba berhubungan dengan seseorang yang tertutup secara emosional?<br />
76.	Apakah saya berharap dari orang lain lebih dari yang ingin mereka berikan?<br />
77.	Apakah kesepian saya memberitahu bahwa saya perlu berhubungan dengan orang lain?<br />
78.	Apa tindakan terbaik yang dapat saya ambil untuk mengatasi rasa takut ditolak?<br />
79.	Apakah saya sedang mengamati perasaan saya atau apakah saya memperlakukan semua perasaan dengan adil?<br />
80.	Apa kelemahan emosional terbesar saya? Apa hal terbaik yang dapat saya lakukan untuk mengatasinya?<br />
81.	Emosi mana yang menghalangi saya menikmati hidup secara penuh? Apa hal terbaik yang dapat saya lakukan untuk mengatasi emosi ini?<br />
82.	Bagaimana saya dapat memaksimalkan kegembiraan hidup saya saat ini?<br />
83.	Emosi mana yang menguatkan saya untuk menjalani hidup terbaik? Apa hal terbaik yang dapat saya lakukan untuk memaksimalkan perasaan ini?</p>
<h3>16.	Pertanyaan berkaitan dengan komunikasi dengan orang lain.</h3>
<p>1.	Apakah saya memberikan perhatian penuh?<br />
2.	Apakah saya menunjukkan ketertarikan total kepada orang lain?<br />
3.	Apakah saya mencari pemahaman timbal balik?<br />
4.	Apakah saya memberikan respon yang terbaik bagi orang lain?<br />
5.	Apakah saya mengilhami pengambilan tindakan/solusi yang terbaik?<br />
6.	Apakah saya mendengarkan secara reflektif tanpa menghakimi untuk mendapat pemahaman penuh tentang orang lain?<br />
7.	Apakah saya telah memunculkan pertanyaan terbaik bagi orang lain?<br />
8.	Apakah saya telah menemukan kebaikan orang lain dari pertemuan ini?<br />
9.	Apakah saya telah menyatakan dan menunjukkan penghargaan terhadap sifat baik orang lain?<br />
10.	Apa sebetulnya tujuan utama dari komunikasi saya saat ini?<br />
11.	Bagaimana saya dapat memaksimalkan ketrampilan komunikasi saya?<br />
12.	Bagaimana saya dapat menjadi yang terbaik dan memunculkan yang terbaik dari orang lain?<br />
13.	Bagaimana saya dapat meminimalkan/mengatasi konflik dengan orang lain?<br />
14.	Bagaimana saya dapat menguntungkan bagi orang lain dalam hubungan ini?</p>
<h3>17.	Pertanyaan berkaitan dengan pekerjaan.</h3>
<p>1.	Apa visi saya tentang tempat kerja terbaik?<br />
2.	Bagaimana saya dapat mengungkapkan bakat, kemampuan, dan kelebihan saya di tempat kerja?<br />
3.	Bagaimana saya dapat memanfaatkan situasi kerja hari ini dengan sebaik-baiknya?<br />
4.	Bagaimana saya dapat meminimalkan kekurangan situasi kerja hari ini?<br />
5.	Apa yang dapat saya lakukan untuk memunculkan yang terbaik dari diri para kolega saya?<br />
6.	Mengapa perusahaan/tim ini didirikan?<br />
7.	Apa tujuan utama perusahaan/tim ini?<br />
8.	Apa tujuan terpenting dari perusahaan/tim saya tahun ini?<br />
9.	Apa cara terbaik untuk mencapainya (no.8) dalam jangka waktu spesifik?<br />
10.	Apa kekuatan terbesar perusahaan/tim saya?<br />
11.	Apa kelemahan terbesar perusahaan/tim saya?<br />
12.	Apa yang sedang saya lakukan untuk memaksimalkan kekuatan perusahaan/tim saya?<br />
13.	Apa yang sedang saya lakukan untuk meminimalkan kelemahan perusahaan/tim saya?<br />
14.	Apa peluang utama yang tersedia bagi perusahaan/tim saya tahun ini?<br />
15.	Bagaimana saya dapat memanfaatkan peluang ini sebaik mungkin?<br />
16.	Apa ancaman utama bagi perusahaan/tim saya tahun ini?<br />
17.	Apa cara terbaik untuk meminimalkan ancaman ini?<br />
18.	Apa tindakan terbaik yang dapat saya ambil untuk memaksimalkan keuntungan?<br />
19.	Apa tindakan terbaik yang dapat saya ambil untuk meminimalkan biaya?<br />
20.	Apa kekuatan terbesar dari anggota dalam perusahaan/tim saya?<br />
21.	Apakah tugas dan pekerjaan mereka benar-benar menggunakan kekuatan mereka?<br />
22.	Bagaimana misi perusahaan/tim membantu saya untuk mencapai tujuan?<br />
23.	Apa tindakan terbaik yang dapat saya ambil untuk merasa puas dengan posisi saat ini?</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/memprediksi-sukses.html" rel="bookmark" class="crp_title">Memprediksi Sukses</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/bisnis-yang-berkelanjutan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Bisnis yang Berkelanjutan</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-pelaku-keinginan-pribadi.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda Pelaku Keinginan Pribadi?</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (1)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/cara-cepat-menarik-perhatian.html" rel="bookmark" class="crp_title">Cara Cepat Menarik Perhatian</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/manajemen-pertanyaan-bikin-hidup-lebih-baik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kutukan Pengetahuan</title>
		<link>http://riopurboyo.com/kutukan-pengetahuan.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/kutukan-pengetahuan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 00:29:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Elizabeth Newton]]></category>
		<category><![CDATA[happy birthday to you]]></category>
		<category><![CDATA[mbah Surip]]></category>
		<category><![CDATA[morse]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan bicara di depan umum]]></category>
		<category><![CDATA[pembicara publik]]></category>
		<category><![CDATA[pendengar]]></category>
		<category><![CDATA[pengetuk]]></category>
		<category><![CDATA[perampokan ginjal]]></category>
		<category><![CDATA[percepatan pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[public speaker]]></category>
		<category><![CDATA[trainer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang jadi pembicara di depan umum itu sebuah prestise? Justru itu adalah tanggung jawab yang besar, lho! Jika pun Anda pernah membaca iklan sebuah pelatihan yang berisikan cara-cara singkat nan instan menjadi pembicara publik yang mempesona. Boleh jadi, Anda sedemikian tertariknya. Tapi yakinlah bahwa proses tetaplah yang utama. Adapun yang dapat kita lakukan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapa bilang jadi <a href="http://riopurboyo.com/boleh-kubantu" target="_blank">pembicara</a> di depan umum itu sebuah prestise? Justru  itu adalah tanggung jawab yang besar, lho! Jika pun Anda pernah membaca  iklan sebuah pelatihan yang berisikan cara-cara singkat nan instan  menjadi pembicara publik yang mempesona. Boleh jadi, Anda sedemikian  tertariknya. Tapi yakinlah bahwa proses tetaplah yang utama. Adapun yang  dapat kita lakukan di dalam sebuah pelatihan bukanlah secara instan, tapi lebih tepatnya <a title="Terbukti!" href="http://gituya.wordpress.com/2011/03/24/ikuti-workshop-public-speaking/" target="_blank">percepatan pembelajaran</a>. Accelerated Learning.</p>
<p>Omong-omong, saat  kita berkomunikasi, tahukah Anda betapa besar peluang terjadinya  “Kutukan Pengetahuan”.  “Hah, apaan tuh?” Anda pun bertanya-tanya.</p>
<p><span id="more-368"></span></p>
<p>Kutukan Pengetahuan terjadi begitu kita memiliki pengetahuan yang  bertambah. Semakin banyak yang Anda ketahui, secara alami makin sulit  bagi Anda untuk mengkomunikasikan pengetahuan itu.</p>
<p>Elizabeth  Newton mendapatkan gelar Ph.D. dengan menampilkan fenomena ini dalam  disertasi psikologinya. Ia mempelajari fenomena sebuah permainan  sederhana, dengan menugaskan 2 orang yang berperan sebagai “pengetuk”,  dan “pendengar”. Pengetuk menerima daftar berisi 25 lagu terkenal,  seperti “Happy Birthday to You” dan sejenisnya. Setiap pengetuk diminta  memilih satu lagu dari daftar itu dan lalu mengetuk ritme lagunya kepada  seorang pendengar (dengan mengetuk meja). Dalam permainan sederhana  ini, tugas pendengar ialah menerka lagu itu berdasarkan ritme yang  diketuk.  Bagi kita yang terbiasa, pasti kenal dengan istilah  “kothek-an” (bahasa jawa, = mengetuk meja/kursi berulang kali, sembari  menyanyikan sebuah lagu). Mumpung ingat, dalam workshop “Public Speaking  Magically”, kita benar-benar mempraktekkan eksperimen ini lho.</p>
<p>Tugas  pendengar dalam permainan ini cukup sulit. Selama eksperimen Newton,  120 lagu diketukkan. Sebelum pendengar menerka nama lagu, Newton meminta  kepada pengetuk untuk memprediksi seberapa besar kemungkinan pendengar  untuk dapat menerka dengan tepat. Mereka memprediksi bahwa  kemungkinannya ialah 50 persen, artinya pengetuk memprediksi 60 lagu  akan dapat diterka oleh si pendengar. Faktanya? Ternyata pendengar hanya  dapat menerka 2,5 persen dari daftar lagu tersebut. Alias, hanya 3 dari  120 lagu.</p>
<p>Mengapa?</p>
<p>Ketika seorang pengetuk mengetuk, ia <em>memperdengarkan lagu itu di kepalanya</em>.  Silakan Anda coba sendiri, ketukkan lagu “Halo-halo Bandung”. Tidaklah  mungkin, untuk tidak mendengarkan nadanya di dalam kepala Anda.  Sementara itu terjadi, pendengar tidak dapat mendengar nada Anda itu,  yang mereka dengarkan ialah sekelompok ketukan yang tidak berhubungan  satu sama lain, mengingatkan saya pada kode Morse yang aneh.</p>
<p>Dalam eksperimen sederhana ini, para pengetuk begitu heran mengapa para pendengar sangat sulit untuk menangkap nadanya. <em>Bukankah lagunya sedemikian jelas</em>?  Ekpresi sangat luar biasa timbul dari para pengetuk ketika seorang  pendengar menebak “Tidur Lagi-nya mbah Surip”, padahal lagunya adalah  “Halo-halo Bandung”. <em>Mengapa Anda begitu bodoh</em>? Ups, maaf!</p>
<p>Sulit  lho menjadi seorang pengetuk. Masalahnya karena pengetuk telah memiliki  pengetahuan sebelumnya, dalam hal ini judul lagu yang akan diketuk,  yang membuatnya secara alami sulit bagi mereka untuk membayangkan  bagaimana jika mereka <em>tidak</em> memiliki pengetahuan itu. Ketika  mereka mengetuk, mereka tidak dapat dengan mudah membayangkan bagaimana  rasanya bagi seorang pendengar untuk mendengarkan dan juga menebak  ketukan-ketukan yang terpisah seperti itu. Inilah Kutukan Pengetahuan.</p>
<p>Segera  setelah kita ketahui sesuatu, sulit bagi kita untuk membayangkan  bagaimana rasanya jika kita tidak mengetahuinya. Kita tidak lagi peka  mengenai cara berpikir seseorang yang belum tahu, ini lebih karena kita  telah berpengetahuan. Saat itu, pengetahuan telah “mengutuk” kita. Sulit  bagi kita yang sudah tahu sesuatu lebih dulu, untuk membagikan  pengetahuan kepada yang lebih awam, karena kita tidak dapat dengan  segera menciptakan kondisi pikiran pendengar bagi diri kita sendiri.</p>
<p>Fenomena  pengetuk/pendengar ini terjadi setiap hari, di seluruh penjuru bumi.  Pengetuk dan pendengar itu adalah guru dan murid, suami dan istri,  politisi dan pemilihnya, pembicara dan pendengar, CEO dan karyawan yang  melayani pelanggan, hingga penulis dan pembaca. Semua kelompok ini  disatukan oleh komunikasi yang berkelanjutan, tetapi, seperti pengetuk  dan pendengar, mereka menderita ketidakseimbangan informasi yang besar.  Ketika seorang pebisnis mendiskusikan pentingnya “menjaga dan  mempertahankan pelanggan”, sudah ada nada yang berbunyi di kepalanya  yang tak dapat didengar oleh para karyawannya.</p>
<p>Tentu ini  masalah yang sulit dihindari, bayangkan seorang pebisnis selama 20 tahun  terbenam dalam logika dan kebijaksanaan bisnis yang sudah digelutinya.  Membalik proses ini tidaklah mungkin, sama seperti menarik kembali bunyi  kentongan yang sudah bertalu-talu. Anda tidak dapat membalik kembali  proses belajar untuk hal-hal yang sudah Anda ketahui. Faktanya, hanya  ada dua cara untuk membebaskan diri dari Kutukan Pengetahuan. Seberapa  besar keingintahuan Anda, untuk hal itu? Nah, untuk kalahkan Kutukan  Pengetahuan, yang pertama adalah dengan tidak mempelajari apa pun. Dan,  ini pilihan yang aneh bukan? Terlebih kita hidup di dunia serba  berkelimpahan informasi seperti saat ini. Atau, Anda dapat gunakan cara  yang kedua. Ialah dengan mengambil gagasan Anda dan  mentransformasikannya.</p>
<p><strong>Mentranformasikan Gagasan supaya Mudah Melekat</strong></p>
<p>Sulit  memang meloloskan diri dari Kutukan Pengetahuan. Tapi bukan berarti  tidak mungkin. Caranya ialah dengan mengubah ide kita menjadi gagasan  yang mudah melekat. Yang saya maksud dengan ide yang melekat ialah ide  yang mudah dipahami, sulit terlupakan, dan efektif dalam mengubah  pemikiran atau perilaku. Satu prinsip dasar, yang pasti, gunakan konsep  kesederhanaan.</p>
<p>Temukan inti dari gagasan Anda. Tentukan  satu hal yang terpenting. Dalam konteks layanan pelatihan, <a href="http://riopurboyo.com/boleh-kubantu" target="_blank">inti gagasan  pelatihan saya</a> ialah membantu peserta untuk menemukan dan menggunakan  bakatnya dalam keseharian. Gagasan disebut sederhana karena  langsung  pada intinya dan seringkali padat.</p>
<p>Untuk mempermudah Anda, pernahkah Anda mendapati kisah berikut ini?</p>
<p>Seorang  teman dari teman kami, sebutlah namanya Andi, sedang mendapat rejeki  nomplok. Saat ia kuliah di luar negeri, AS, tanpa diduga ia mendapatkan  hadiah untuk bermalam 2 hari di akhir pekan dari sebuah hotel terkenal  di kota tetangganya. Las Vegas. Tentu saja, bayangan kita akan  gemerlapan dan hingar-bingar kota judi ini segera menyeruak muncul dari  pikiran kita. Las Vegas, gitu lho!</p>
<p>Segera setelah  memastikan reservasi hotel tersebut, ia terlihat memasuki sebuah kamar  di hotel itu. Untuk memanfaatkan waktu senggang, ia pun pergi ke sebuah  bar setempat, di seberang jalan hotel itu. Ia baru saja menghabiskan  segelas minuman ringan bersoda, ketika matanya tertuju pada senyuman  seorang gadis cantik yang mendekatinya, dan bertanya apakah ia boleh  membelikan minuman untuknya. Andi pun merasa tersanjung sekaligus  terkejut. Tentu, jawabnya seketika. Gadis itu kemudian membawakan dua  gelas minuman, satu untuknya sendiri dan satu lainnya untuk Andi. Andi  mengucapkan terima kasih dan meneguknya. Dan tegukan itulah hal terakhir  yang dapat ia ingat.</p>
<p>Saat tersadar, tanpa mengetahui  persisnya di mana tubuhnya berada, Andi merasa menggigil terbaring di  dalam bak mandi di sebuah hotel, dengan seluruh tubuh terendam air es.  Seketika, ia melihat ke sekeliling dengan panik, mencoba memahami di  mana ia berada dan bagaimana mungkin ia bisa berada di sana. Tiba-tiba,  ia melihat sebuah catatan:</p>
<p>JANGAN BERGERAK. TELEPONLAH 911.</p>
<p>Ada  sebuah telepon genggam di meja kecil di samping bak mandi. Ia  mengambilnya dan menelepon 911, jari-jemarinya kaku dan gemetar karena  air es. Anehnya, operator telepon itu sepertinya mengenal situasinya. Ia  mengatakan, “Pak, tolong jangkau punggung Anda, dengan perlahan dan  sangat hati-hati. Apakah ada tabung keluar dari bagian bawah punggung  Anda?”</p>
<p>Dengan cemas, ia mencari-cari di belakangnya. Benar saja, ada sebuah tabung.</p>
<p>Operator  itu lantas mengatakan, “Jangan panik pak, tetapi salah satu ginjal  bapak telah diambil. Akhir-akhi ini, ada segerombolan pencuri organ yang  beroperasi di kota ini, dan bapak telah menjadi korban mereka. Petugas  paramedik akan segera ke tempat bapak. Jangan bergerak sampai mereka  tiba!”</p>
<p>* * * * * * * *</p>
<p>Anda baru saja  membaca salah satu kabar burung yang terkenal selama 10 tahun terakhir  ini. He he he. Bahkan suatu waktu, saya pernah melihat tayangannya di  sebuah siaran TV . Jika Anda teliti, tentu mudah Anda temukan petunjuk  pertama yang berupa pembukaan klasik sebuah berita angin: “Teman dari  teman kami…”</p>
<p>Kisah di atas boleh jadi pernah Anda dengar  sebelumnya, dalam berbagai versi. Perampokan Ginjal. Sebuah kisah yang  mampu lolos dari Kutukan Pengetahuan. Karena ia sederhana, mudah  dimengerti, sehingga mudah Anda ingat.</p>
<p>Dalam  Super-Workshop “Public Speaking Magically”, kita bukan hanya mengalahkan  Kutukan Pengetahuan, melainkan juga mendapatkan solusi atas pertanyaan  berikut:</p>
<p>1) “Pendengar tidak mendengarkan saya”, atau “Kelihatannya pendengar bosan, mereka sudah pernah mendengar hal ini sebelumnya.”</p>
<p>2)  “Pendengar sering menganggukkan kepala ketika saya menjelaskan sesuatu  kepada mereka, tapi hal itu tampaknya tak pernah dilaksanakan”.</p>
<p>3) “Saya menghabiskan seluruh waktu presentasi saya untuk berdebat dengan pendengar mengenai ide ini”.</p>
<p>Tentu, akan beruntung sekali saat Anda dapat temukan jawabannya ketika Anda <em>putuskan hadir</em> bersama puluhan peserta Super-Workshop “Public Speaking Magically”, <a title="pengen bukti?" href="http://gituya.wordpress.com/2011/03/24/ikuti-workshop-public-speaking/" target="_blank">nanti</a>.</p>
<p>Sampai di sini, Anda membaca pada bagian akhir tulisan ini, ijinkan saya membagikan 3 kesimpulan sederhana dari note ini.</p>
<p>1) Kutukan Pengetahuan = Sulit untuk menjadi pengetuk.</p>
<p>2) Kutukan Pengetahuan terjadi ketika pengetahuan kita, membuat kita sulit membayangkan bagaimana rasanya saat kita tidak tahu.</p>
<p>3) Solusi lolos dari Kutukan Pengetahuan? Gunakan kesederhanaan. Tentukan inti gagasan, temukan yang terpenting.</p>
<p>Semoga berkenan, semoga berguna.</p>
<p>Rio Purboyo | Your “Passion &amp; Talent” Coach<br />
0858.1531.1207</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/kenapa-jadi-peserta-public-speaking-magically.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kenapa jadi peserta Public Speaking Magically</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/akhirnya-terbongkar-rahasia-3-strategi-mudah-jadi-ahli-public-speaking.html" rel="bookmark" class="crp_title">Akhirnya, Terbongkar Rahasia! 3 Strategi Mudah Jadi Ahli Public Speaking</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/terapkan-pengetahuan-jadi-tindakan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Terapkan Pengetahuan Jadi Tindakan</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit.html" rel="bookmark" class="crp_title">Tujuan Konkrit</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html" rel="bookmark" class="crp_title">Orientasi Berbicara: Dari sinilah perbincangan Anda bermula!</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/kutukan-pengetahuan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mindset &#8220;Meskipun&#8221;</title>
		<link>http://riopurboyo.com/mindset-meskipun.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/mindset-meskipun.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Nov 2010 01:04:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[dan]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[kata-kata]]></category>
		<category><![CDATA[meskipun]]></category>
		<category><![CDATA[mindset]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[perisai]]></category>
		<category><![CDATA[tapi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Saya meyakini adanya kekuatan dalam kata-kata. Entah dengan Anda. Saya percaya hidup kita sebagian besarnya ditentukan oleh kata-kata kita. Entah dengan Anda. Saya setuju bahwa semakin bijaksana seseorang, semakin tepat ia gunakan kata-kata dalam kehidupannya. Prinsip ini makin kusetujui hari demi hari. Entah dengan Anda. Saya sepakati bahwa doa ialah tombak sekaligus tameng bagi pribadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya meyakini adanya kekuatan dalam <a href="http://riopurboyo.com/pesona-kata-kata.html" target="_blank">kata-kata</a>. Entah dengan Anda.</p>
<p>Saya percaya hidup kita sebagian besarnya ditentukan oleh kata-kata kita. Entah dengan Anda.</p>
<p>Saya setuju bahwa semakin bijaksana seseorang, semakin tepat ia gunakan kata-kata dalam kehidupannya. Prinsip ini makin kusetujui hari demi hari. Entah dengan Anda.</p>
<p>Saya sepakati bahwa doa ialah tombak sekaligus tameng bagi pribadi yang meyakininya sepenuh hati. Itulah kekuatan kata-kata, sebagai senjata sekaligus perisai perlindungan diri.</p>
<p><span id="more-310"></span></p>
<p>Saya sepakati bahwa nasib kita tergantung dari cara kita merespon kejadian yang ada. Begitu terjadi sebuah peristiwa, kita pun memberikan makna terhadapnya. Kita mengkaitkan momentum yang  ada dengan pengalaman terdahulu, termasuk munculnya kemungkinan terbaik-dan-atau-terburuk akibat pilihan sikap dan respon kita. Ketika memaknai sesuatu, saat memberi arti, sadarilah bahwa saat itulah kata-kata sedang bekerja bersama kita.</p>
<p>Saya sepakati bahwa prinsip komunikasi berikut ini, tepat adanya. “Berkata baik atau diam”. Jika dirasa penting untuk berujar, ia akan berkata yang baik, dengan cara yang baik, dan untuk tujuan baik. Jika dirasa lebih penting untuk diam, ia pun mendengarkan dengan sangat baik, memilih hanya yang terbaik dari yang ia dengarkan, dan memperhatikan apa pun kebaikan dari teman bicara, sekecil apa pun kelebihannya itu. Karena itulah, ia tepat dalam menggunakan kata-kata. Khalayak umum lebih sering menyebutnya dengan bijaksana.</p>
<p>Mungkin ada di antara Anda, para pembaca, yang sudah mengerti betapa sebuah kata penghubung memiliki dampak hebat bagi diri kita. Kali ini kita akan berfokus pada penggunaan kata ‘tapi’, ‘dan’, serta ‘meskipun’. Sebagaimana namanya, kata penghubung, tentu saja fungsinya untuk menggabungkan dua bagian, dalam hal ini ialah kalimat/pernyataan. Uniknya, dengan menggunakan ketiga kata penghubung itu, terjadi dampak yang berbeda, yang akhirnya akan lebih mengarahkan fokus perhatian kita pada kalimat/pernyataan tertentu.</p>
<p>Contoh:</p>
<p>(1) “Masakan istriku enak sekali, <strong>tapi</strong> bibirku sedang sariawan.”<br />
Kalimat ini memfokuskan perhatian kita <strong><em>lebih kepada</em></strong> ‘bibirku sedang sariawan’, dan lebih abaikan nikmatnya ‘masakan istriku enak sekali’.</p>
<p>(2) Jika seseorang bermaksud menekankan kedua pengalaman seperti di atas, maka dapatlah kita rasakan bedanya dengan penggunaan kata hubung ‘dan’. Sehingga menjadi… “Masakan istriku enak sekali <strong>dan</strong> bibirku sedang sariawan.”</p>
<p>(3) Ketika seseorang mengatakan “Masakan istriku enak sekali, <strong>meskipun</strong> bibirku sedang sariawan.”, dampaknya akan mengarahkan fokus perhatian kita <strong><em>lebih kepada</em></strong> “masakan istriku enak sekali”, dan menjadikan kalimat lainnya sebagai bagian yang kita abaikan.</p>
<p>Dengan berbekal ketiga contoh kalimat di atas, tentu mudah kita kenali bahwa bahasa memiliki pola tersendiri. Begitu kita terampil menggunakan kata penghubung yang satu, maka kita dapatkan dampak yang berbeda dari penggunaan kata hubung lainnya. Kata penghubung ‘meskipun’ adalah kata yang ajaib. Karena ia menjadikan kita lebih berfokus pada kalimat pertama (atau kalimat yang tanpa ada kata ‘meskipun’) –sebagai latar depan– dan membuat kalimat kedua sebagai latar belakang yang lebih kita abaikan.</p>
<p>Contoh sederhana:</p>
<p>Kalimat pertama: Saya sedang menulis buku ‘<a title="sudah kuasai, ini?" href="http://riopurboyo.com/berbakat-jadi-hebat.html" target="_blank">Berbakat Jadi Hebat</a>’</p>
<p>Kalimat kedua: Saya tidak tahu kapan akan diterbitkan.</p>
<p>Jika digabungkan dengan kata ‘meskipun’, menjadi: “Saya sedang menulis buku ‘Berbakat Jadi Hebat’, <strong><em>meskipun</em></strong> saya tidak tahu kapan akan diterbitkan.”</p>
<p>Adakah perasaan tertentu dari kalimat di atas? Ya. Benar! Kita akan lebih terfokus pada kalimat pertama, “Saya sedang menulis buku ‘Berbakat Jadi Hebat.” Sehingga bila pun belum tersedia kepastian kapan terbitnya buku itu, saya tetap berproses dalam menyelesaikan penulisan buku itu.</p>
<p>Akan beda jadinya, begitu kita sambungkan kedua kalimat contoh di atas, dengan kata ‘tapi’. Berubah menjadi, “Saya sedang menulis buku ‘Berbakat Jadi Hebat’, <strong><em>tapi</em></strong> saya tidak tahu kapan akan diterbitkan.”</p>
<p>Mudah kita rasakan perbedaannya, bukan? Begitu disambungkan dengan kata ‘tapi’ kita lebih memperhatikan kalimat yang kedua. Dalam contoh di atas, bisa-bisa saya tidak berminat lagi menulis buku “Berbakat Jadi Hebat”, karena tiadanya kepastian kapan persisnya akan diterbitkan. Bersyukur, saya lebih memilih menggunakan kata hubung ‘meskipun’ daripada ‘tapi’. Kedua kata hubung ini, ‘meskipun’ serta ‘tapi’, sama-sama berfungsi menyambungkan dua kalimat. Yang satu, yakni ‘meskipun’ membuat kalimat yang ditempelinya menjadi latar belakang, sehingga lebih mudah kita abaikan. Sedangkan, kata hubung ‘tapi’, membuat kalimat yang ditempelinya menjadi latar depan, sehingga lebih kita perhatikan. Kita sudah rasakan perbedaannya dari beberapa contoh di atas.</p>
<p>Oh ya!!! Hanya gara-gara bermodalkan kepiawaian menggunakan ‘meskipun’ seperti saran di atas, kita dapat membantu diri sendiri dan sesama dalam memandang suatu kondisi dengan lebih berdaya. Iya, ini terjadi gara-gara kata ‘meskipun’. Dengan cara pandang yang lebih baik, tentunya kita akan lebih berfokus pada tujuan baik dan nilai positif yang ada.</p>
<p>Guna mempertajam kepekaan berbahasa kita, seberapa mudah Anda perhatikan rasa dan dampak dari beberapa contoh berikut ini?</p>
<p>1.a) Ia berhasil lulus kuliah S-3 di usia 35 tahun, <strong><em>tapi</em></strong> ia masih terlilit hutang keluarga.<br />
1.b) Ia berhasil lulus kuliah S-3 di usia 35 tahun, <strong><em>meskipun</em></strong> ia masih terlilit hutang keluarga.</p>
<p>2.a) Doni terus berlatih mempraktikkan hasil belajarnya sepulang dari workshop “Berbakat Jadi Hebat”, <strong><em>meskipun</em></strong> ia masih perlu banyak beradaptasi dengan beberapa konsep dasarnya.<br />
2.b) Doni terus berlatih mempraktikkan hasil belajarnya sepulang dari workshop “Berbakat Jadi Hebat”, <strong><em>tapi</em></strong> ia masih perlu banyak beradaptasi dengan beberapa konsep dasarnya.</p>
<p>3.a) Mada bersyukur sudah menghuni rumah barunya 2 pekan ini, <strong><em>tapi</em></strong> ia masih harus memperbaiki banyak bagian dari rumah barunya itu.<br />
3.a) Mada bersyukur sudah menghuni rumah barunya 2 pekan ini, <strong><em>meskipun</em></strong> ia masih harus memperbaiki banyak bagian dari rumah barunya itu.</p>
<p>4.a) Negeri ini akan menjadi pemimpin bangsa-bangsa di dunia, <strong><em>meskipun</em></strong> bencana alam sering menimpa warganya.<br />
4.b) Negeri ini akan menjadi pemimpin bangsa-bangsa di dunia, <strong><em>tapi</em></strong> bencana alam sering menimpa warganya.<br />
Jika suatu waktu nanti Anda atau organisasi Anda sedang dalam kondisi tidak berdaya, segeralah gunakan mentalitas ‘meskipun’, mungkin dengan kalimat seperti berikut ini… “Kami selalu berhasil menerobos tantangan sebesar apa pun -termasuk juga kali ini- meskipun kami belum tahu cara dan sarananya.”</p>
<p>Setelah selesai membaca tulisan ini, pasti Anda akan jadi lebih terlatih dengan tepat menggunakan kekuatan kata-kata. Meskipun, tanpa saya ingatkan pun, Anda sudah akan lebih peka dengan sendirinya.</p>
<p>Anda mengerti maksud saya, bukan?</p>
<p><strong>Rio Purboyo | <a title="hubungi untuk berlatih, saat ini!" href="http://riopurboyo.com/boleh-kubantu" target="_blank">Meta-Talent Coach</a> | 0858.1531.1207</strong></p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/pesona-kata-kata.html" rel="bookmark" class="crp_title">Pesona Kata-kata</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/maka-menulislah.html" rel="bookmark" class="crp_title">Maka, menulislah!</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit.html" rel="bookmark" class="crp_title">Tujuan Konkrit</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (1)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/4-penghalang-penciptaan-legenda-pribadi.html" rel="bookmark" class="crp_title">4 Penghalang Penciptaan Legenda Pribadi</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/mindset-meskipun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (3, selesai)</title>
		<link>http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-3-selesai.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-3-selesai.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 07:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[11 karakter negosiator]]></category>
		<category><![CDATA[anugrah]]></category>
		<category><![CDATA[Jim Rohn]]></category>
		<category><![CDATA[maestro]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[opsi]]></category>
		<category><![CDATA[pemecahan masalah]]></category>
		<category><![CDATA[resiko]]></category>
		<category><![CDATA[selesai]]></category>
		<category><![CDATA[transaksi]]></category>
		<category><![CDATA[ulung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini merupakan pembahasan terakhir tentang profil negosiator yang handal. Ketika Anda memulai sebuah pembelajaran, hendaknya Anda mendekatinya dari konsep diri ideal sang pemilik ketrampilan. Sebab, begitu Anda memahami dengan jelas sikap dirinya –yang terlihat dari bangunan konsep dirinya– seketika beragam pendekatan, teknik, dan ketrampilan yang menyelimuti sang pelaku menjadi lebih mudah Anda duplikasi. Laksana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini merupakan pembahasan <a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-2.html" target="_blank">terakhir</a> tentang profil <a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html" target="_blank">negosiator</a> yang handal. Ketika Anda memulai sebuah pembelajaran, hendaknya Anda mendekatinya dari konsep diri ideal sang pemilik ketrampilan. Sebab, begitu Anda memahami dengan jelas sikap dirinya –yang terlihat dari bangunan konsep dirinya– seketika beragam pendekatan, teknik, dan ketrampilan yang menyelimuti sang pelaku menjadi lebih mudah Anda duplikasi.</p>
<p>Laksana maestro pembuat pedang, beliau selalu memulai prosesnya dari penciptaan gagang yang tepat. Dipilihnya jenis kayu/bahan lain berikut spesifikasi yang cocok bagi pedang yang dikehendaki. Selesainya pembuatan gagang pedang, sang empu melanjutkan pekerjaannya kembali dengan pembentukan bilah pedangnya.</p>
<p><span id="more-136"></span></p>
<p>Selama proses berjalan hingga selesainya, sang empu tidak khawatir jika saja dia terlukai oleh tajamnya bilah pedang. Karena sang empu telah memegang gagang yang tepat. Gagang yang membuat pedang mudah digunakan karena pas di tangan. Gagang yang menambah cantik penampilan pedang setelah selesainya. Dan gagang pedang yang meng-aman-kan sang pemegang dari marabahaya ketajaman bilah pedang. Lalu, apa jadinya jika kita memegang pedang tanpa keberadaan gagang? Tentu saja, sang empu akan mengakhiri pekerjaan pembuatan pedangnya setelah pedang menempati sarung pedang yang menambah daya tarik sang pedang.</p>
<p>Begitu pun dengan kita. Saya yakin, untuk menghasilkan kegemilangan yang lebih efektif adalah dengan menciptakan model bagi sebuah perubahan. Kita bisa menjadi model bagi orang lain, dan sebaliknya kita pun bisa me-model orang lain. Jim Rohn menginspirasikan filosofi ”Kita bisa mendapatkan lebih dari yang sekarang, dengan menjadi lebih dari kondisi kita saat ini.”</p>
<p>Terlalu sedikit waktu yang tersedia bagi kita untuk menemukan sendiri beragam prinsip dan panduan praktis dalam menciptakan kehebatan hidup. Selalu saja ada idola yang bisa kita tiru kehebatannya. Kita pasti bisa belajar banyak dari keberhasilan mereka, sama banyaknya juga dari kekeliruan mereka. Bila memang cita-cita kita menjadi hebat, besar, dan luas maka tirulah segera kehebatan mereka. Hilangkan perasaan iri dan sikap menyaingi, dan gantikan dengan ketulusan dan kegembiraan. Hanya jika kita suka akan sesuatu, kita jadi lebih mudah dan jauh lebih bergembira dalam meniru sesuatu itu. Dan ketulusan adalah jaminan atas keberkahan peniruan kita.</p>
<p>Namun, ketika sifat iri menyusup dalam diri secara tiba-tiba tertutuplah jawaban atas pertanyaan … ”Hal baik apa yang bisa saya pelajari/tiru dari orang itu?” Sikap persaingan yang tidak sehat membuat kita merasa tertekan atas pencapaian prestasi orang lain. Kita merasa tidak rela ketika melihat keberhasilan orang lain. Lalu, kita tersedot dalam spiral energi menurun yang menyedot energi dan produktivitas.</p>
<p>Seolah-olah pencapaian besar apa pun yang kita raih, kita nilai tidak berharga (kurang berharga) di hadapan prestasi orang lain. Padahal setiap kita memiliki kemampuan unik dalam menunaikan Legenda Pribadi-nya, yang oleh karenanya dunia menjadi lebih indah karena kehadiran kita.</p>
<p>Menjadi sebuah kehormatan bila kita mampu meniru jalan-jalan naik orang-orang yang telah menggoreskan tinta emas sejarah manusia.</p>
<p>Dan sebaliknya, efek terburuk karena merasa tersaingi yang tidak sehat menimbulkan keengganan untuk belajar dari orang lain. Ketika kita enggan belajar, kita pun berhenti bertumbuh. Seperti air yang tergenang, berhenti mengalir, maka segera kemudian semua potensi baiknya menghilang. Kejernihan, kesegaran, dan keindahan air mancur mendadak lenyap digantikan oleh kegelapan, bau amis dan keburukan genangan air.</p>
<p>Maka dengan mudah kita pahami bahwa untuk menciptakan negosiasi yang efektif maka kita harus menjadi negosiator yang handal, yaitu dengan:</p>
<h2>Bersedia Mengambil Resiko</h2>
<p>Resiko selalu bersembunyi dalam setiap langkah hidup. Kapal di pelabuhan memang aman dari keganasan terjangan ombak, tapi pasti bukan untuk itu ia dibuat. Setiap hari kita selalu menghadapi resiko. Namun secara perlahan-lahan kita mulai belajar untuk menghadapinya, lalu mengelolanya. Ketika kita keluar dari rumah kita dan berkendara ke jalan raya, selalu tersedia peluang terjadinya kecelakaan. Hanya karena telah terbiasa, kita seolah-olah mengecilkan arti resiko tadi. Padahal, resiko kecelakaan tetap ada. Toh hingga hari ini, masih saja kita mendengar dan melihat berita kecelakaan terjadi di jalan raya.</p>
<p>Yang lebih menarik adalah saat kita bisa memahami bahwa mekanisme internal tubuh kita memang telah di-set-up untuk memberikan jaminan terhadap keselamatan kita. Alasan itulah yang lebih tepat dalam menjelaskan penyebab munculnya ketakutan dan kekhawatiran. Terutama ketika kita memulai pertemuan dalam negosiasi atau apa pun yang menantang zona nyaman kita.</p>
<p>Secara tiba-tiba tubuh kita mengirimkan alarm tanda waspada. Jantung kita berdetak lebih cepat, sebagai jawaban untuk mensuplai kebutuhan lebih terhadap oksigen. Keringat dingin pun mengucur, dan pada sebagian orang tanda-tanda fisik yang lain biasanya turut menyertai ’kondisi transisi’ ini. Mungkin Anda juga pernah mengalami salah satunya. Perut mulas, ingin buang air kecil –tapi ndak ada yang dikeluarkan (???), wajah memucat, jari-jemari bergetar, bibir sedikit bergetar, pening, otot leher terasa lebih kaku, pundak terasa lebih berat, napas tidak teratur/tersengal-sengal, dsb.</p>
<p>Dengan melakukan yang justru kita takuti, kita lalu belajar melebarkan zona nyaman kita. Secara perlahan, kita makin mentoleransi beberapa hal kecil yang tidak se-baik perkiraan awal kita. Kita makin menyadari karena resiko-lah, hidup kita makin berwarna. Karena resiko baru-lah, kita berpeluang melakukan kesalahan dan masih berpeluang untuk melakukan yang benar pada kesempatan selanjutnya. Kita pun lebih mudah mengerti bahwa ”Setiap keslahan merupakan kesempatan belajar untuk menjadi lebih baik.”</p>
<p>Maka, mulailah mengambil resiko dalam negosiasi kecil harian Anda. Bernegosiasilah dengan seseorang yang Anda pikir bersedia untuk mematikan rokoknya, ketika Anda merasa terganggu karena hal itu. Atau, mintalah seorang juru parkir untuk berlaku lebih jujur dengan meminta karcis padanya dan setelahnya ucapkan ”Terima kasih ya Pak.” Atau, ajaklah bicara pihak-pihak yang pernah melukai perasaan Anda –dan katakan pula padanya rasa terima kasih Anda. Karena kesediaan mereka-lah Anda menjadi pribadi baru yang lebih merdeka. Anda merasa terbebaskan dari dendam masa lalu Anda, dan karenanya pula Anda akan merasa lebih ringan untuk menyelesaikan resiko lebih besar yang telah menanti Anda.</p>
<p>Berdamailah dengan masa lalu kita, dengan menyelesaikan ’negosiasi kecil’ yang mungkin masih tertunda. Anda mungkin akan merasakan ketegangan dan keguncangan emosional saat mulai mengerjakannya. Tetapi, segera setelah menyelesaikan hal-hal kecil yang penting itu, kelegaan dan ketenangan akan merayap perlahan untuk kemudian menyelimuti keseharian hidup Anda. Dan saya berharap agar kita bisa menikmati masa depan kita karena telah mengerjakan hal-hal yang kita anggap beresiko di masa lalu. Dengannya kita telah menghargai pengalaman masa lalu kita, sebagai sebuah anugrah yang indah dariNya.</p>
<p>Sebaliknya, kita akan menyesali semua resiko yang tidak kita ambil, semua kesempatan yang tidak kita raih, dan semua ketakutan yang tidak kita hadapi. Saya perlu untuk mengingatkan diri saya bahwa selalu ada kebebasan di sisi lain ketakutan. Karena pada akhirnya, resiko terbesar dalam hidup terjadi ketika kita tidak mengambil resiko yang terukur.</p>
<h2>Bersedia Meninggalkan Transaksi</h2>
<p>Sebelum memutuskan untuk melanjutkan transaksi, sangat baik jika Anda mempertimbangkan ulang posisi Anda dan lawan bicara dalam proses negosiasi itu. Bersikaplah tegas dalam memegang prinsip, dalam bersikap yang benar. Apa pun kondisi yang terjadi, kita harus tetap tampil dan berpikir yang terbaik dalam mengambil sebuah keputusan. Ketika negosiasi mulai berujung pada ketidaksepakatan yang beraromakan konflik, penting bagi Anda untuk mengurai kembali konsesi (kesepakatan bersama) yang telah terjadi sebelumnya. Bahkan, meski konsesi-konsesi yang diambil itu kecil. Dengannya, Anda bisa ajak lawan bicara meninjau ulang berbagai kesamaan yang telah Anda hasilkan bersama.</p>
<p>Ketika pada akhirnya, Anda harus tetap bersikap tegas dalam membela posisi dan keuntungan maksimal yang bisa diperoleh kedua pihak, ternyata Anda berhadapan dengan kehendak yang berlainan dari negosiator yang lain. Inilah saatnya Anda putuskan untuk SELESAI. Katakan saja Anda berhenti, dan dengan santun tinggalkanlah transaksi. Sampai di situ, Anda akan menjadi pribadi yang lebih tegas bagi diri Anda sendiri, bagi posisi dan nilai-nilai pribadi Anda, bagi pihak yang Anda wakili, serta bagi negosiator yang berhadapan dengan Anda –ia akan lebih menghargai setiap kali kesempatan bernegosiasi dengan Anda, karena ia sudah ketahui profil ketegasan Anda. Tegaslah untuk apa yang menjadi kewajiban Anda dalam menjalankan negosiasi yang saling menguntungkan. Tegaslah dalam hak Anda untuk menerima hasil yang memuaskan. Berhentilah menempatkan diri dalam posisi terdesak dan keharusan untuk selalu menutup sebuah transaksi, karena hal itu justru mendorong Anda harus menerima setiap butir transaksi. Yang seringkali tidak memuaskan.</p>
<p>Pada dasarnya, saat bernegosiasi, hanya ada dua posisi yang kita ambil. Yakni sebagai pembeli, atau sebagai penjual. Keuntungan berposisi sebagai pembeli adalah Anda bisa memilih layanan yang beragam dari berbagai penjual yang lain, dengan beragam konsekuensi pastinya (mis: harga, layanan purna jual, dsb). Dengan ketahui hal ini, Anda jadi terbebas dari keharusan untuk menutup transaksi hanya dari satu jenis penjual saja. Anda tentu memiliki pilihan yang lain, bukan? Nah, sebagai penjual Anda pun juga berhak memilih jenis pelanggan sepereti apa yang hendak Anda layani. Sebagai penjual, pasti Anda sudah bisa bayangkan tipe seperti apa (calon) pembeli ideal Anda. Dengannya, Anda pun merasa lebih bebas untuk memilih dan melayani jenis pelanggan tertentu. Sebab, setiap produk pasti memiliki pembelinya masing-masing. Hanya saja, kapan tepatnya terjadi transaksi antara pembeli (ideal) dengan layanan yang tepat? Keahlian negosiasi Anda-lah yang menjadi jembatan solusinya.</p>
<p>Sampai saat ini, saya tidak sarankan Anda harus selalu pergi meninggalkan setiap transaksi. Bukan begitu. Tapi begini!</p>
<p>Saat Anda tidak pertimbangkan sama sekali OPSI untuk pergi meninggalkan negosiasi, Anda akan cenderung mengalah pada pihak lain untuk melakukan transaksi. Tetapi, ketika Anda ketahui dan sadari ada OPSI LAIN, negosiator lain akan merasakan ketegasan dalam diri Anda. Kesediaan (keberanian) Anda untuk pergi meninggalkan transaksi adalah salah satu peluang tawar-menawar terbesar yang Anda kuasai.</p>
<h2>Berorientasi pada Pemecahan Masalah</h2>
<p>Kita belajar lebih banyak dari kegagalan kita ketimbang keberhasilan kita. Ketika kita berhasil lebih mudah bagi kita untuk segera berpuas diri, menyombongkan kemampuan, dan sebagai akibat terdekatnya, lebih mudah bagi kita tergelincir karena kesuksesan dibandingkan karena kegagalan.</p>
<p>Ketika gagal, kita merasa lebih waspada terhadap peluang-peluang baru. Kita berlatih lebih keras dan lebih intens untuk memperbaiki kinerja kita. Kita kemudian mencari cara-cara lebih mutakhir yang lebih efektif dalam mengatasi masalah kita. Dan pada akhirnya, hanya karena kita pernah gagal kita jadi lebih mudah menghargai keberhasilan.</p>
<p>Prinsip yang sama berlaku pula pada negosiasi. Bayangkan bila kita bertemu dengan seseorang yang selalu berorientasi pada solusi. Pasti kita bergembira dan merasa beruntung bisa menemui orang seperti ini.</p>
<h1>Buku sakU LATihan tindaKAN</h1>
<h1>(BULATKAN)</h1>
<p>Sejak sekarang Anda akan terbiasa menggunakan buku saku latihan tindakan. BULATKAN. Sebuah istilah yang saya gunakan untuk merangkum pengertian dan panduan praktis yang lebih memudahkan kita dalam melatih tindakan sebagai hasil pembelajaran kita. Biasakanlah untuk mengubah hasil pembelajaran kita ke dalam tindakan, sebab dengan itulah pengetahuan kita terbukti hasilnya.</p>
<p>Tantangan kita dalam memperbagus karakter sambil terus meningkatkan kompetensi negosiasi akan lebih mudah terjawab dengan…</p>
<h4>1. Cari, pilih, dan duplikasi-lah karakter seorang negosiator ulung.</h4>
<h4>2. Awali setiap negosiasi Anda dengan kesadaran negosiasi. Latihlah ketegasan Anda dalam kehidupan sehari-hari dengan mengungkapkan perasaan Anda tanpa perasaan terluka maupun melukai perasaan orang lain.</h4>
<h4>3. Jadikan orang lain menyukai Anda karena kelihaian mendengarkan. Pertajam kemampuan Anda dalam mendengarkan dengan kesediaan untuk lebih banyak diam dan –seperti seorang detektif– galilah keinginan dan kebutuhan pihak lain dengan memperhatikan pesan verbal dan non-verbal mereka.</h4>
<h4>4. Negosiator yang lebih sabar, lebih mudah memegang kendali negosiasi, seiring meningkatnya kecemasan dan keharusan dalam memutuskan transaksi. Jadikanlah diri Anda lebih sabar di dalam dan di luar ruang negosiasi!</h4>
<h4>5. Selalu ada pendekatan baru yang lebih efektif dalam setiap negosiasi. Maka temukanlah! Luweslah dalam berhubungan dengan orang lain, dan Anda akan terkejut ketika menyadari betapa hebatnya efek fleksibilitas dalam merekatkan Anda dan orang lain. Ternyata, cara termudah untuk mengalahkan lawan adalah dengan menjadikannya kawan.</h4>
<h4>6. Nikmatilah proses negosiasi Anda dengan membayangkan keuntungan jangka panjang dari hubungan positif kedua belah pihak. Bertanyalah pada diri Anda, ”Hal positif apa yang bisa aku tambahkan, supaya negosiasi ini berjalan harmonis bagi kedua pihak?”</h4>
<h4>7. Pancangkan pandangan Anda pada gambaran besar negosiasi, berupa kepuasan bersama atas tercapainya tujuan kedua belah pihak.</h4>
<h4>8. Beranilah untuk mengambil resiko di setiap aspek hidup Anda, termasuk ketika bernegosiasi. Ijinkan diri Anda untuk melebarkan zona nyaman, untuk keluar menuju arah dan tempat yang baru –yang mungkin; asing dan aneh– yang mungkin belum pernah terbayangkan sebelumnya.</h4>
<h4>9. Tinggalkan saja situasi negosiasi begitu Anda merasa telah keluar jalur dari arah negosiasi yang benar.</h4>
<h4>10. Solusi, solusi, dan solusi. Semakin mahir Anda menemukan akar masalah dalam setiap negosiasi, semakin mudah bagi Anda menemukan solusinya. Maka, semakin terbukti-lah Anda sebagai seorang negosiator yang ulung.</h4>
<h4>11. Lebih dari apa pun, lakukanlah poin-poin di atas. Bernegosiasilah! Praktikkan-lah jurus-jurus ampuh yang telah Anda pelajari.</h4>
<p>Dalam tulisan ini telah saya tegaskan ulang pentingnya menjadi seorang negosiator yang ulung. Anda bisa menutup transaksi negosiasi dengan lebih baik untuk lebih banyak lagi kesempatan di masa depan, dengan menjadi negosiator yang lebih efektif.</p>
<p>Anda bisa pelajari kembali 11 rahasia kepribadian dan keahlian tersebut, yang telah saya rangkumkan menjadi BULATKAN. Ke-11 hal ini bisa segera Anda serap, miliki, dan tampilkan di setiap kesempatan.</p>
<p>Semoga tulisan sederhana ini <a href="http://riopurboyo.com/boleh-kubantu" target="_blank">berguna</a>. Dan, selamat bernegosiasi ya!</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-2.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (2)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/5-mitos-ngawur-tentang-negosiasi.html" rel="bookmark" class="crp_title">5 Mitos NGAWUR tentang Negosiasi</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (1)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/manajemen-pertanyaan-bikin-hidup-lebih-baik.html" rel="bookmark" class="crp_title">Manajemen Pertanyaan Bikin Hidup Lebih Baik</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/terapkan-pengetahuan-jadi-tindakan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Terapkan Pengetahuan Jadi Tindakan</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-3-selesai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (2)</title>
		<link>http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-2.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Oct 2010 23:41:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[ahli militer]]></category>
		<category><![CDATA[fleksibel]]></category>
		<category><![CDATA[jebakan analisa]]></category>
		<category><![CDATA[kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[layani]]></category>
		<category><![CDATA[mario teguh]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas Alva Edison]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan bersama]]></category>
		<category><![CDATA[win-win solution]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Anda telah memahami bahwa kesadaran negosiasi membantu Anda menciptakan situasi yang kondusif bagi pencapaian kesepakatan yang ’win-win solution’. Keahlian Anda dalam mendengarkan makin mengokohkan pribadi Anda sebagai seorang negosiator yang terhormat di mata pihak lain. Kali ini saya hendak melanjutkan pembahasan mengenai karakter negosiator yang handal. Yakni kesabaran, sikap yang fleksibel, dan berfokus pada kepuasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda telah memahami bahwa <a title="sadari ciri negosiator ulung" href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html" target="_blank">kesadaran negosiasi</a> membantu Anda menciptakan situasi yang kondusif bagi pencapaian kesepakatan yang <a title="enyahkan mitos negosiasi!" href="http://riopurboyo.com/5-mitos-ngawur-tentang-negosiasi.html" target="_blank">’win-win solution’</a>. Keahlian Anda dalam mendengarkan makin mengokohkan pribadi Anda sebagai seorang negosiator yang terhormat di mata pihak lain.</p>
<p>Kali ini saya hendak melanjutkan pembahasan mengenai karakter negosiator yang handal. Yakni kesabaran, sikap yang fleksibel, dan berfokus pada kepuasan bersama. Mari kita selidiki satu per satu.</p>
<p><span id="more-134"></span></p>
<h2>Kesabaran</h2>
<p>Informasi makin membanjiri dunia. Akibatnya, kita pun makin berharap segalanya selesai lebih cepat. ”Khan sudah canggih, kalo’ bisa cepat kenapa diperlambat?” mungkin itu asumsi kita. Dalam era digital, ritme hidup kita jadi terburu-buru. Sangat cepat dan hampir-hampir non-stop. Kalo nggak percaya, tanyakan saja pada pembaca tulisan ini. Tiap menit makin berharga, seakan-akan itulah potongan byte terakhir yang tersisa.</p>
<p>Kita makin tidak sabar, ingin segera menerima informasi sesegera mungkin. Padahal, dalam negosiasi hal ini fatal akibatnya. Pihak yang lebih sabar akan memegang kendali negosiasi. Dia yang sabar akan mendesak pihak lain untuk menyerah ketika kecemasan mereka meningkat. Lebih dari itu, ketika Anda bersabar –Anda akan lebih sedikit membuat kesalahan.</p>
<p>Seperti yang saya alami, ketika nanti Anda akan membeli atau mengontrak rumah, agendakanlah untuk berbicara dengan para calon tetangga Anda. Temuilah pemilik rumah itu, atau jika tidak memungkinkan berbicaralah dengan penghuni rumah sebelumnya. Dengarkan baik-baik, lalu pulang dan proseslah semua informasi yang Anda serap. Kembalilah lagi beberapa hari kemudian, dan ulangi sekali lagi prosesnya dengan lebih cermat. Jika Anda berhasil mendapatkan kepercayaan dari si pemilik rumah, mungkin saja Anda akan mendapatkan tawaran yang lebih murah dan atau tambahan fasilitas.</p>
<p>Kepercayaan orang lain bertumbuh seiring bertambahnya kesan positif yang Anda akibatkan. Dan ini berproses, butuh waktu. Perbincangan yang ringan dan jauh dari kesan formal, menghapus sekat-sekat psikologis antara Anda dengan pihak lain. Sehingga memungkinkan terjalinnya hubungan positif bagi semua pihak untuk saling mengenal dan mempercayai. Saya pun makin menghargai bahwa semakin banyak waktu yang tersedia untuk bernegosiasi, semakin sedikit peluang kesalahan yang kita ciptakan.</p>
<h2>Fleksibel</h2>
<p>Kapan terakhir kalinya Anda bernegosiasi? Apa saja yang Anda ketahui tentang pihak lain? Lalu, bagaimana pengetahuan tersebut membantu proses pengambilan kesepakatan untuk semua pihak atau justru mengacaukan kesepakatan yang telah Anda ambil?</p>
<p>Ketika kita bernegosiasi, kita membuat segala macam asumsi tentang kebutuhan pihak lain, keinginannya, tujuan, opsi, strategi, jenis karakternya, dst. Tantangan terbesarnya adalah, asumsi-asumsi itu berpotensi salah. Anggapan dasar kita bisa jadi salah.</p>
<p>Pengetahuan kita seringkali menipu, karena pada dasarnya kita melihat yang ingin kita lihat. Dan kita mendengar apa-apa yang ingin kita dengar. Kita melihat dan mendengar yang menurut kita cocok dan nyaman bagi diri kita.</p>
<p>Simak tulisan (<a title="konsultan efektivitas bisnis" href="http://www.exnal.com/" target="_blank">Mario Teguh</a> dalam EBB 35-Negotiation) berikut ini …</p>
<p>Alkisah …<br />
Seorang jendral yang harus mundur dari benteng terakhir, dan menarik sisa-sisa pasukannya yang sebagian besar telah menyandang luka-luka karena pedang, tombak, dan anak panah… memerintahkan penjaga pintu gerbang benteng untuk membukanya lebar-lebar dan menugaskan beberapa nenek-nenek tua untuk menyapu jalan masuk menuju gerbang itu.</p>
<p>Jendral dari pihak musuh yang memimpin pengejaran atas pasukan kecil yang telah terpukul keras itu, menghentikan langkah maju pasukannya, dan dengan cermat mengamati prilaku ’tidak berencana’ dari para nenek itu. Sang jendral memicingkan mata untuk bisa melihat ke kedalaman benteng yang sepi dan remang-remang itu.</p>
<p>Kuatir bahwa pasukannya akan masuk ke dalam sebuah perangkap, sang jendral menarik mundur pasukannya dan menjauh dari benteng yang menurut kalkulasinya … berbahaya.</p>
<p>Sang jendral dari pihak musuh telah terperangkap dalam ’jebakan analisa’. Jika saja ia bersedia untuk menjernihkan pikirannya (maklum, mungkin saja ia kelelahan setelah perang. Siapa yang tahu? Khan, alkisah…) lalu mengutus duta untuk mengecek ’pergerakan acak’ dari para nenek, bisa jadi ia akan terbebas dari perangkap yang sebenarnya tidak ada. Jebakan sesungguhnya terjadi karena kelihaian penggunaan strategi ini.</p>
<p>Para ahli militer mengenalnya sebagai Strategi Gerbang Terbuka.</p>
<p>^_^</p>
<p>Ketika Anda membuat dugaan dan kemudian menolak mengubahnya saat datang informasi baru, sebetulnya Anda telah terperangkap dalam penjara mental Anda sendiri yang kaku. Ketika kita membuat dugaan-dugaan, kita tidak tahu persis apakah itu benar. Kita hanya beranggapan bahwa hal itu benar.</p>
<p>Negosiator yang berhasil selalu membuat dugaan, tetapi mereka cukup fleksibel untuk segera mengganti dugaannya sebagai respon atas keadaan yang berubah. Itulah sebabnya ketika kita membaca proses penemuan bola lampu oleh Thomas Alva Edison, kita seharusnya lebih memahami penemuan tersebut dikarenakan fleksibilitas Alva Edison alih-alih kegigihan.</p>
<p>Bila selama ini persepsi Anda masih menanamkan pengertian bahwa cerita ini seringkali Anda dengar dari para pembicara motivasi yang mengedepankan kegigihan, saya pikir justru persepsi ini perlu diluruskan.</p>
<p>Iya benar, Alva Edison memang gigih dalam bereksperimen. Sepuluh ribu kali bahkan.</p>
<p>Yang mungkin tidak kita pahami secara mendasar adalah Alva Edison TIDAK MELAKUKAN percobaan YANG SAMA sebanyak sepuluh ribu kali. Dia MELAKUKAN sepuluh ribu eksperimen YANG BERBEDA. Dia menguji sepuluh ribu hipotesis yang berbeda, dan dia segera meninggalkan setiap ekperimen yang gagal secepat mungkin. Alva Edison adalah seorang yang fleksibel sepuluh ribu kali dan tetap gigih menemukan cara-cara yang baru. Saran yang tepat adalah ”Gigih pada Tujuan, Fleksibel dalam Proses Pencapaian.”</p>
<h2>Fokus pada Tujuan Bersama</h2>
<p>Setiap kita melihat dunia dengan cara yang berbeda. Negosiator yang berhasil melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Gunakanlah ’sepatu’ orang lain sebagai pijakan dalam memberikan pilihan kesepakatan, dan pakailah ’topi’ orang lain untuk menilai kesediaan mereka terhadap kesepakatan yang Anda tawarkan.</p>
<p>Hargailah gagasan orang lain dengan mempercayai bahwa gagasan tersebut bernilai, bermanfaat. Ketika kita menghargai kerjasama, kita ingin melengkapi gagasan orang lain –bukannya bersaing. Tentu saja saya akan berusaha maksimal untuk membantu Anda, jika saya tahu bahwa Anda sebetulnya berusaha menolong saya memperoleh yang saya butuhkan.</p>
<p>Para negosiator yang handal berhasrat besar agar pihak lain juga mendapatkan apa yang mereka kehendaki. Negosiator yang ulung tidak bertanya ”Bagaimana saya bisa menang?”, tetapi bertanya ”Bagaimana saya dapat membantu negosiator lain agar merasa puas?”</p>
<p>Fokus menentukan apa yang Anda anggap penting dari yang tidak. Fokus mengarahkan potensi Anda dalam mewujudkan sesuatu. Sekalinya Anda berfokus pada sesuatu, sesuatu itu akan bertumbuh dan menguat berlipat-lipat. Untuk setiap menit fokus Anda pada sebuah masalah, Anda telah kehilangan 60 detik dalam menemukan sebuah solusi. Jadi, bagaimana jika mulai sekarang kita berfokus untuk melayani bagi kebaikan orang lain? Dengannya, kita pun turut merasakan kebaikan, meski tidak harus berasal dari penerima kebaikan. Kebaikan akan selalu kembali kepada sang pemberi kebaikan melalui cara-cara yang seringkali tak terduga.</p>
<p>”Keharuman selalu melekat pada tangan yang memberi Anda bunga melati”. Kesuksesan mengalir seperti efek samping yang tidak diharapkan tetapi tidak terelakkan kehadirannya di dalam hidup yang kita habiskan dalam melayani orang lain dan memberi manfaat pada dunia.</p>
<p>Sebelum menutup tulisan ini ijinkan saya bertanya …</p>
<p>”Bagaimana Anda tahu bahwa Anda telah <a title="silakan hubungi, saat ini!" href="http://riopurboyo.com/boleh-kubantu" target="_blank"><strong>kami layani dengan sangat baik</strong></a>?”</p>
<p>^_^</p>
<p>Sekarang saya mengajak Anda untuk menampilkan diri Anda dalam lima atribut negosiator efektif. Kelima sikap ini: kesadaran bernegosiasi, mendengarkan, fleksibel, kesabaran, dan fokus pada tujuan bersama; membantu Anda menutup transaksi negosiasi yang efektif. Kelima sikap ini bahkan siap membantu Anda menjadi pribadi yang lebih efektif dalam mencapai kehebatan yang lebih besar, lebih cepat dari yang pernah Anda bayangkan. Setidaknya itu yang saya alami.</p>
<p>Saat ini, buktikan dan nilailah sendiri. Sementara itu, persiapkan diri Anda untuk mengenali lebih teliti jika Anda berminat mengembangkan profil negosiator handal lainnya. Tinggal 3 profil kok, sampai jumpa pada tulisan berikutnya.</p>
<p>Selamat bernegosiasi ya.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (1)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/5-mitos-ngawur-tentang-negosiasi.html" rel="bookmark" class="crp_title">5 Mitos NGAWUR tentang Negosiasi</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-3-selesai.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (3, selesai)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/terapkan-pengetahuan-jadi-tindakan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Terapkan Pengetahuan Jadi Tindakan</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/tni-dan-kepemimpinan-efektif.html" rel="bookmark" class="crp_title">TNI dan Kepemimpinan Efektif</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (1)</title>
		<link>http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Oct 2010 06:11:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[kehormatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran bernegosiasi]]></category>
		<category><![CDATA[kredibilitas]]></category>
		<category><![CDATA[lapindo]]></category>
		<category><![CDATA[mendengarkan]]></category>
		<category><![CDATA[negosiasi]]></category>
		<category><![CDATA[win-win negotiation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Pada tulisan sebelumnya yang telah meluruskan persepsi kita dari 5 mitos ngawur tentang negosiasi, saya menjanjikan tulisan mengenai kepribadian para negosiator yang sukses. Kita memahami bahwa negosiasi adalah proses mengatasi rintangan sebagai usaha memenangkan persetujuan. Dalam negosiasi, rintangan utama berupa perbedaan antara posisi Anda dan posisi saya, sementara tujuan utamanya adalah mencapai persetujuan. Saya lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tulisan sebelumnya yang telah meluruskan persepsi kita dari 5 <a title="sudah baca, ini?" href="http://riopurboyo.com/5-mitos-ngawur-tentang-negosiasi.html" target="_blank">mitos ngawur</a> tentang negosiasi, saya menjanjikan tulisan mengenai kepribadian para negosiator yang sukses. Kita memahami bahwa negosiasi adalah proses mengatasi rintangan sebagai usaha memenangkan persetujuan. Dalam negosiasi, rintangan utama berupa perbedaan antara posisi Anda dan posisi saya, sementara tujuan utamanya adalah mencapai persetujuan.</p>
<p>Saya lebih cenderung mengatakan bahwa negosiasi yang efektif terjadi ketika setidaknya salah satu pihak merasa puas, merasa menang. Sehingga ketika kita menyebutkan istilah win-win negotiation, yang sebetulnya terjadi adalah munculnya perasaan menang di masing-masing pihak. Kedua pihak sama-sama ’merasa’ menang, sama-sama ’merasa’ puas. Yang sangat bisa jadi, tingkat kepuasan masing-masing pihak berbeda ukurannya.</p>
<p>Misalnya, kisah berikut ini yang terjadi ketika kita datang untuk melihat rapat dan mendengarkan sosialisasi mekanisme pencairan dana bagi para korban lumpur LAPINDO.</p>
<p><span id="more-130"></span></p>
<p>Malam itu, di sebuah balai desa seratusan warga berkumpul di sana. Setelah menyimak dan melihat pandangan yang disampaikan oleh perangkat desa, tibalah waktunya untuk bertanya jawab. Selama 2 pekan terakhir, santer terdengar desas-desus bakal terjadinya pungutan bagi semua warga desa ketika mereka sudah menerima pencairan dana atas terbelinya tanah dan rumah tinggal mereka. Besarnya pungutan dan potongan ini pun beragam, ada yang bilang 5% dan ada pula beberapa warga yang melihat seorang perangkat desa yang berkoar-koar sebesar 2,5% dari dana yang diterima. Melihat gejala yang kurang sehat inilah, seorang pemuda hendak mengkonfirmasi isu ini. Terlebih lagi, karena malam itu rapat dihadiri oleh semua perangkat desa, para ketua RT dan RW, berikut para tokoh desa. Tak urung pula, rapat ini mengundang kehadiran warga dari berbagai desa tetangga yang ternyata juga merasa penasaran terhadap penanganan lebih lanjut para korban lumpur. Maka kemudian, marilah kita ikuti percakapan yang terjadi antara pemuda (P) dengan perangkat desa (PD) berikut …</p>
<p>PD : Baik bapak-bapak, itu tadi penjelasan terkait masalah ganti rugi. Ada lagi yang mau bertanya?</p>
<p>P : Terima kasih. Bila bapak berkenan, bagaimana jika para warga yang hadir di sini dan juga saya mendapatkan kepastian tertulis mengenai janji tidak adanya potongan apa pun terkait proses pencairan dana bagi warga? Bagaimana ya Pak, bisa?</p>
<p>PD : Begini ya mas, saya sudah instruksikan kepada semua bawahan saya bahwa tidak ada itu yang namanya potongan-potongan. Tidak ada. Dan saya pikir semua warga juga sependapat dengan saya.<br />
P : Maksud saya begini pak. Justru untuk memperkuat perkataan Bapak di forum ini, maka saya hendak membantu Bapak agar di kemudian hari tidak ada lagi warga yang resah akibat masih berpikir mengenai adanya potongan liar di sana-sini. Jadi …</p>
<p>PD : (memotong pembicaraan) Lho, mas ini gimana. Kalo bicara seperti itu, tandanya tidak percaya pada saya. Artinya tidak percaya sama bapaknya sendiri yang memimpin desa ini. Saya ulangi lagi ya, forum ini forum resmi. Ada para ketua RW dan ketua RW, dan para tokoh agama. Saya mengundang mereka dengan surat undangan resmi. Jadi apa-apa yang saya sampaikan di sini sifatnya mengikat. Pasti akan dilaksanakan. Nggak usah lagi adanya surat tertulis itu. Semua yang ada di sini sudah mengerti kok bakal tidak ada pungutan dan potongan untuk pencairan dana warga. Jadi kalo’ ada yang berani-berani mengambil uang kepada warga tanpa alasan yang jelas, saya langsung akan menindaknya. Lagipula, menurut saya dalam forum resmi seperti ini –kalo ada sebuah kesepakatan yang disaksikan oleh tiga orang sudah nggak perlu lagi itu dokumen tertulis. Bukan begitu bapak-bapak?</p>
<p>Warga: ??? (bingung, setengah percaya – separuh ragu-ragu)</p>
<p>P : Jika memang begitu, tentu akan lebih sah lagi ketika Bapak bersedia menuliskan notulensi dari rapat ini terutama jaminan yang barusan. Dan nanti biarkan kami, para pemuda, yang mem-foto kopikannya untuk kami gandakan bagi warga yang tidak sempat ….</p>
<p>PD : (lagi-lagi memotong, berbicara dengan suara keras dengan wajah merah) Sudah-sudah. Nggak usah diteruskan lagi. Sekali lagi saya berjanji bahwa tidak akan ada potongan jenis apa pun terkait dengan pencairan dana dari BPLS di desa kita ini. Bapak-bapak setuju khan kalo kita menerima utuh seluruh uang ganti rugi kita???</p>
<p>Warga : SETUJUUU !!!</p>
<p>P : Baik pak, kalo’ memang itu yang telah disepakati warga. Saya bisa memahaminya…</p>
<p>@ @ @ @ @</p>
<p>Dari kisah di atas kita bisa merasakan kepuasan di kedua belah pihak. Kita lalu memaknai bahwa kehormatan dan kredibilitas perangkat desa tetap terjaga dalam pandangan warga desa, karena ini penting untuk menjaga agar proses pencairan dana ke tangan warga selalu lancar dan tidak tercoreng oleh kecurigaan yang sengaja ditimbulkan oleh pihak-pihak tertentu. Sekaligus untuk menghapus kemauan pihak-pihak yang hendak mengambil keuntungan terhadap keresahan warga korban lumpur, serta yang lebih penting adalah munculnya kesadaran sosial yang sama di kalangan warga desa untuk saling mengingatkan bahwa tidak bakal9 puas pula karena mengantongi jaminan lisan dari sang perangkat desa terkait tidak akan terjadi pungutan apa pun bagi warga korban lumpur di desa tersebut. (Sang PD mengulangi terjadi pungutan terhadap segala hal yang terkait mekanisme penjualan tanah dan bangunan warga korban lumpur. Jadi, sang perangkat desa ‘merasa ‘puas karena wibawa pribadinya tetap terjaga. Dan sang pemuda pun ‘merasa??%9 jaminan lisan ini sebanyak 5 kali lho!)</p>
<h2>Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (bagian 1)</h2>
<p>Seperti yang telah Anda perhatikan dari kisah nyata di atas, mengenai seorang pemuda yang mewakili profil seorang negosiator efektif, tulisan di bawah ini akan berfokus pada upaya penilaian objektif terhadap diri kita sendiri. Andalah yang mengetahui jawaban dari ”Ada berapa banyak dari sifat-sifat negosiator efektif yang saya miliki?”</p>
<p>Dari beberapa ciri negosiator efektif, kali ini kita akan membahas 2 ciri. Yakni kesadaran bernegosiasi dan kemampuan mendengarkan. Dan untuk beberapa ciri yang lain akan kita lanjutkan di tulisan berikutnya. Marilah kita selidiki satu per satu.</p>
<h3>A. Kesadaran Negosiasi</h3>
<p>Dalam dunia negosiasi berlaku ”Selain hal-hal prinsip, segala hal bisa dirundingkan”. Kesadaran bahwa kita mempunyai pola pikir yang menghasilkan transaksi seperti ini sungguh benar. Orang yang mempunyai kesadaran negosiasi yang tinggi cenderung tegas dalam menyatakan apa yang dia inginkan dan menantang segala asumsi. Dan dalam negosiasi, itu berarti segalanya. Anda tidak dapat mencapai apa yang Anda inginkan dalam negosiasi jika Anda tidak mau menantang posisi pihak lain. Bagi seorang negosiator dengan kesadaran negosiasi yang tinggi, dirinya tidak akan takut mempermasalahkan klausul sebuah kontrak. Meskipun dia tidak benar-benar memahami hukum.</p>
<p>Mungkin akan muncul pertanyaan pada diri Anda. ”Saya bukanlah orang yang pemberani.” ”Apakah saya harus mengubah diri saya, saya tidak bisa benar-benar mengubah sifat saya?”<br />
Saya tegaskan bahwa ini bukan tentang mengubah sifat Anda. Yang awalnya agak penakut menjadi lebih pemberani. Bukan. Ini lebih mengenai mengubah prilaku Anda. Anda hanya perlu menjadi lebih memiliki kemauan untuk sedikit menantang apa yang dikatakan orang lain kepada Anda. Kemauan ini timbul dari keinginan Anda untuk menerima yang terbaik bagi diri Anda. Sikap ini muncul dari penghargaan yang tinggi terhadap standar diri Anda. Lebih dari itu, sebetulnya menantang maksudnya tidak serta merta menerima segala hal begitu saja. Alih-alih menerima anggapan orang lain begitu saja, Anda harus berpikir yang terbaik untuk kepentingan diri Anda dalam kerangka demi kebaikan orang lain.</p>
<p>Ketika negosiator yang efektif dihadapkan kepada pandangan yang berlawanan, sikapnya adalah ”Itu pendapatmu. Ini pendapat saya.” Memiliki nyali untuk berbicara terus terang inilah yang disebut ketegasan. Memiliki ketegasan berarti meminta apa yang Anda inginkan, dan menolak untuk menerima jawaban ”tidak”.</p>
<p>Ingat ya, ada perbedaan mencolok antara tegas dan agresif. Anda menjadi tegas ketika Anda peduli terhadap kepentingan Anda sendiri dan tetap menghargai kepentingan orang lain. Namun jika Anda mengejar kepentingan Anda sendiri tanpa peduli kepada orang lain, Anda menjadi agresif. Hubungan yang harmonis tetap bisa terjalin di antara pihak-pihak yang tetap tegas dalam prinsip, tetapi mudah rusak karena keagresifan.</p>
<p>Berikut ini <em><strong>dua kiat untuk melatih ketegasan</strong></em> yang dapat membantu Anda mengubah prilaku Anda:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Berlatih mengungkapkan perasaan Anda tanpa merasa cemas atau marah</strong>.</p>
<p>Perasaan adalah penghubung diri kita dengan orang lain, selain sebagai kekuatan dan kendali bagi diri kita sendiri. Kita menjadi sangat tertekan ketika harus memuntahkan perasaan kita terhadap orang lain yang menurut kita tidak layak untuk dia terima. Maka, sejak hari ini berlatihlah untuk mengenali corak warna perasaan Anda. Kapan atau karena apa Anda merasakan perasaan tertentu? Apa yang sedang Anda pikirkan/lakukan yang menyebabkan perasaan tertentu? Berlatihlah pula untuk mengerti maksud dan tujuan positif dari perasaan Anda. Tanyakanlah, ”Apa yang dapat saya pelajari dari perasaan-perasaan ini?” Sehingga Anda dapat memaksimalkan perasaan Anda dalam memberdayakan diri Anda, alih-alih mensabotase hidup Anda. Bertanyalah dengan ”Apa yang dapat saya lakukan untuk menciptakan solusi terbaik dalam kondisi emosi saat ini?”</p>
<p>Biarkanlah orang lain tahu apa yang Anda inginkan melalui cara yang tidak mengancam dengan mempraktikkan kalimat ”Saya”. Daripada mengatakan, ”Anda tidak seharusnya berbuat hal itu,” sekarang gantilah dengan, ”Saya merasa tidak nyaman jika Anda melakukan hal itu. Ketika Anda menggunakan kalimat ”Saya”, Anda mengambil tanggung jawab terhadap perasaan Anda alih-alih menyerang pihak lain.</p>
<p><strong>2. Bertanya.</strong></p>
<p>Negosiator yang ulung seperti seorang detektif. Apa yang dilakukan detektif? Bertanya. Jika Anda tidak bertanya, Anda tidak akan mendapatkan apa yang Anda butuhkan. Dengan bertanya, akan lebih mudah bagi Anda untuk memperoleh kejelasan terhadap penolakan dan penerimaan dari kesepakatan yang coba Anda wujudkan. Anda pun dengan lebih mudah mengerti mengenai batasan kepentingan dan harapan pihak lain. Dengan bertanya, Anda lebih mudah mengenali kebutuhan serta keterdesakan dalam negosiasi untuk kemudian Anda tawarkan kesepakatan yang tentunya lebih menguntungkan bagi kedua belah pihak. Plus, dengan bertanya sejak awal, Anda akan lebih cepat memperoleh kejelasan mengenai jenis kepribadian pihak-pihak yang sedang bernegosiasi. Apakah ia berkarakter kasar, mudah tersinggung, pemikir atau yang lainnya? Sudahkah kemampuan bertanya Anda terlatih dengan baik?</p>
<p>Bahkan, jika Anda bingung untuk meneruskan negosiasi Anda –bertanya adalah solusi sederhana untuk memecahkan kebuntuan Anda. Iya khan?</p>
<p>Kemampuan bertanya bergandengan erat dengan mendengarkan. Setelah mengajukan pertanyaan yang tepat dan kemudian mendengarkan, Anda akan bisa mengarahkan pihak lain dalam negosiasi.</p>
<h3>B. Mendengarkan</h3>
<p>Kunci bagi negosiasi yang efektif adalah <a title="terima kasih" href="http://riopurboyo.com/bisa-kubantu" target="_blank">kepercayaan</a>. Bagaimana kita menciptakan suasana saling percaya? Dengan mendengarkan. Kita mudah mempercayai orang-orang yang memberikan perhatian kepada apa yang kita katakan. Banyak negosiasi yang gagal karena pihak-pihak yang terlibat tidak benar-benar mendengarkan.</p>
<p>Di antara keuntungan mendengarkan adalah:</p>
<ul>
<li>Anda akan mempelajari kebutuhan dan penekanan pihak lain.</li>
<li>Anda akan menemukan letak kekuatan Anda.</li>
<li>Pihak lain akan menyukai Anda dan akan menolong Anda. Manusia merespon positif manusia lain yang mau mendengarkan.</li>
<li>Anda nantinya akan menemukan cara supaya kebutuhan Anda terpenuhi.</li>
</ul>
<p>Banyak konflik bisa dipecahkan dengan mudah ketika kita belajar mendengarkan. Tetapi, kita terlalu sibuk untuk meyakinkan diri sendiri bahwa orang mendengar apa yang harus kita katakan sehingga kita lupa mendengar. Kebanyakan dari kita mendengar apa yang ingin kita dengar, bukan apa yang orang lain coba katakan. Ketika kita bersedia memperbaiki sikap, mendengarkan bukanlah sikap dan seni yang sulit dikuasai. Bagian tersulit adalah menutup mulut. Jika Anda dapat melatih diri Anda untuk lebih banyak menutup mulut Anda, tentu mudah untuk menjadi pendengar yang baik dan negosiator yang efektif. Seorang negosiator yang efektif mendengarkan pihak lain dengan pola pikir yang positif dan terbuka.</p>
<p>Berikut ini petunjuk tentang cara mendengarkan seperti ini:</p>
<ul>
<li>Tanpa prasangka. Bukan hanya tidak berprasangka jelek, tapi benar-benar kita berpikir jernih terhadap situasi saat ini, dan di sini.</li>
<li>Dengan sikap yang sepenuhnya tertarik terhadap informasi baru.</li>
<li>Dengan harapan positif dan sambil memegang pena di tangan untuk mencatat poin-poin penting.</li>
<li>Penuh hasrat dalam mendengarkan, tidak hanya yang dikatakan pihak lain tetapi juga hal-hal yang dapat dimunculkannya dalam imajinasi.</li>
<li>Dengan sikap, ”Bagaimana saya bisa menggunakan umpan balik ini?”</li>
</ul>
<p>Lalu, Anda pun inginkan hal-hal praktis lainnya mengenai mendengarkan. Boleh, silakan lanjutkan&#8230;</p>
<p><strong>1. Kembangkanlah Hasrat untuk Mendengarkan</strong></p>
<p>Ironisnya, mayoritas kita berpandangan bahwa <a href="http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html" target="_blank">komunikasi</a> adalah mengatakan kepada orang lain apa yang kita pikir dan apa yang kita inginkan. Kita menganggap bahwa mereka akan mendengarkan kita dan kemudian melakukan apa yang kita minta untuk mereka lakukan. Kita terlalu fokus kepada diri sendiri, terlalu mencintai diri sendiri, berasumsi bahwa semua yang kita pikirkan adalah mengenai ”kita”. Padahal kenyataannya, kita lupa untuk memasukkan orang lain secara berimbang.</p>
<p>Penyebab dari sebagian besar kegagalan hubungan pribadi dan karier profesional adalah karena tidak mau mendengarkan. Jika Anda memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara, dia akan menceritakan kepada Anda segala hal yang perlu Anda ketahui. Dan, dia juga akan menyukai Anda. Kita menyukai orang yang mendengarkan kita.</p>
<p><strong>2. Gunakan Prinsip Pareto ”80/20”</strong></p>
<p>Salah satu keputusan terpenting saya dalam hidup ini adalah untuk lebih banyak mendengarkan orang lain daripada berbicara. Saya menggunakan prinsip pareto dalam berkomunikasi, baik di dalam pelatihan maupun di dalam kehidupan pribadi dan keluarga. Dengarkanlah dengan aktif selama 80% dan bicaralah hanya 20%. Kecuali Anda memang diharuskan untuk mendominasi pembicaraan, gunakanlah prinsip efektif ini dalam semua bidang kehidupan Anda. Tutuplah mulut Anda! Mulai dari sekarang, anggaplah diri Anda seorang detektif yang pekerjaannya mendapatkan informasi dari orang lain. Biarkan orang lain bicara.</p>
<p><strong>3. Lupakan untuk Memotong Pembicaraan</strong></p>
<p>Upaya Anda untuk mendengarkan bisa digagalkan oleh keinginan untuk memotong orang lain agar langsung melompat untuk menceritakan kisahnya yang Anda anggap sangat penting. Hal ini tidak penting! Sebab itu hindarilah! Jika Anda hendak memotong, tanyai diri sendiri apakah itu benar-benar diperlukan.</p>
<p><strong>4. Mendengarkan dengan Aktif</strong></p>
<p>Tidak cukup hanya dengan mendengar seseorang –Anda harus yakin bahwa mereka tahu bahwa Anda mendengarkan. Mendengarkan dengan aktif berarti menjadikan orang lain tahu (biarkan mereka melihat Anda melakukannya) bahwa Anda mendengarkan setiap kata-kata dan kalimat mereka. Meskipun Anda mampu membagi perhatian Anda (misal: mengirimkan sms sambil mendengarkan orang lain), orang yang berbicara merasa tersinggung atas pecahnya perhatian Anda dan menganggap Anda sesungguhnya tidak peduli terhadap apa yang dia katakan.</p>
<p>Salah satu cara mendengarkan dengan aktif adalah dengan mengajukan pertanyaan yang tidak membatasi. Gunakan pertanyaan terbuka, yakni pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan hanya berkata ”ya” atau ”tidak”.<br />
”Apa tanggapan Ibu terhadap fenomena cuaca panas akhir-akhir ini?”<br />
”Bagaimana kisah putra ke-2 bapak yang berhasil ke Malaysia untuk mengikuti pertandingan bulutangkis 2 bulan lalu itu?”</p>
<p>Untuk menjawab pertanyaan terbuka, orang harus memikirkan pertanyaan itu lalu memberikan respon yang detail. Ingatlah bahwa tujuan Anda adalah membuat pihak lain merasa lebih nyaman terhadap diri Anda dengan membuat ia berbicara lebih banyak agar ia memberikan lebih banyak informasi. Pertanyaan yang tidak membatasi (pertanyaan terbuka) mendorong orang untuk berbicara mengenai kebutuhannya, keinginannya, ketakutannya, strateginya, dst.</p>
<p>Untuk membuat pihak lain merasa lebih nyaman dengan Anda, tanyakanlah ”Apa?” dan ”Bagaimana bisa?” daripada ”Mengapa?”. Pertanyaan ”Mengapa?” membuat pihak lain merasa tertekan, sehingga secepat kilat berusaha mempertahankan diri alih-alih menjelaskan.</p>
<p>Gunakanlah keahlian ini bahkan dalam kehidupan pribadi dan keluarga Anda. Ketika Anda bertanya pada remaja dengan ”Mengapa kamu melakukan ini dan itu?”, secara otomatis Anda akan menemukan mereka bersikap defensif dan bungkam. Dalam benak mereka, Anda baru saja menyerang mereka, terlepas dari apakah Anda memang bermaksud demikian ataukah tidak. Tetapi, jika Anda bertanya ”Apa yang membuat kamu melakukan ini dan itu?” atau ”Bagaimana bisa kamu melakukan ini dan itu?”, pertanyaan Anda tidak lagi mereka terima sebagai serangan. Melainkan sebagai upaya untuk memahami prilaku mereka. Anda akan tercengang dengan perbedaan jawaban dan cara mereka menjawab.</p>
<p>Cara yang kedua adalah dengan mendengarkan pesan non-verbal pihak lain. 90% dari komunikasi adalah pesan non-verbal, yang didominasi oleh bahasa tubuh. Untuk menjadi pendengar yang baik, Anda harus membaca pesan-pesan tersebut.</p>
<p>Lakukanlah kontak mata, tetapi tidak usah berlebihan. Buatlah orang lain nyaman dengan kontak mata Anda yang cukup dari sesekali sehingga mereka dapat melihat bahwa Anda mengikuti mereka. Usahakan agar tubuh Anda menghadap lawan bicara Anda dan hindari melipat tangan Anda, sebab itu mengisyaratkan penolakan. Postur tubuh adalah isyarat yang baik. Jika lawan bicara Anda duduk, apakah dia condong ke arah Anda ataukah bersandar di kursinya? Jika tertarik dengan apa yang Anda katakan, bahasa tubuh mereka akan terbuka dan condong ke arah Anda.<br />
Biasakanlah mengamati prilaku non-verbal negosiator lain. Ini akan sangat menguntungkan.</p>
<p>Tinggal satu lagi nih tipsnya, yakni …</p>
<p><strong>5. Menjadi Detektif</strong></p>
<p>Bagaimana jika pihak lain itu tidak suka berbicara? Inilah saatnya seni mengajukan pertanyaan Anda gunakan. Pertanyaan membuat orang berbicara. Anggaplah diri Anda seorang detektif handal, misal Detektif Conan (favorit saya, he he he). Galilah informasi lebih dalam dan lebih akurat dari pihak lain layaknya seorang Detektif. Jika Anda lupa atau bingung caranya, tontonlah ulang film Detektif Conan. Detektif yang handal tahu strategi yang efektif dalam mendengarkan dengan cermat dan aktif, juga piawai dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyelidiki dan tidak membatasi.</p>
<p><em><strong>Berbekal kesadaran bernegosiasi dan kemampuan mendengarkan</strong></em> yang keduanya akan Anda pertajam, <em><strong>negosiasi yang efektif akan lebih mudah Anda jalani</strong></em>. Anda menjadi lebih tegas terhadap kepentingan dan harapan Anda, namun tidak agresif dalam menyerang pihak lain. Karena Anda telah melatih diri menjadi seorang pendengar yang aktif-positif layaknya seorang detektif.</p>
<p>Maka jangan heran ketika Anda memaksimalkan kedua sikap ini, Anda pun makin mahir menghasilkan kesepakatan ’win-win solution’ seperti yang diteladankan oleh pemuda dalam kisah di atas. Yang ternyata adalah <a title="hubungi saat ini, juga" href="http://riopurboyo.com/bisa-kubantu" target="_blank">penulis artikel</a> ini. Selamat bernegosiasi ya!</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/5-mitos-ngawur-tentang-negosiasi.html" rel="bookmark" class="crp_title">5 Mitos NGAWUR tentang Negosiasi</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-2.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (2)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-3-selesai.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (3, selesai)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/%e2%80%9chumor%e2%80%9d-bumbu-pembicaraan-anda.html" rel="bookmark" class="crp_title">“HUMOR” Bumbu Pembicaraan Anda</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/cara-cepat-menarik-perhatian.html" rel="bookmark" class="crp_title">Cara Cepat Menarik Perhatian</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5 Mitos NGAWUR tentang Negosiasi</title>
		<link>http://riopurboyo.com/5-mitos-ngawur-tentang-negosiasi.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/5-mitos-ngawur-tentang-negosiasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2010 00:38:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[ed brodow]]></category>
		<category><![CDATA[lihai]]></category>
		<category><![CDATA[mitos negosiasi]]></category>
		<category><![CDATA[negosiasi]]></category>
		<category><![CDATA[ngawur]]></category>
		<category><![CDATA[pandai bicara]]></category>
		<category><![CDATA[pecundang]]></category>
		<category><![CDATA[pemenang]]></category>
		<category><![CDATA[tegas]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Negosiasi? Pernah tahu? Pengen ngerti? Tenang, artikel ini dan tiga artikel berikutnya akan bantu Anda kuasai negosiasi sehari-hari. Tony Robbins pernah menegaskan, ”Kualitas hidup Anda sebanding dengan kualitas  komunikasi Anda”. Jika Anda termasuk sekelompok orang yang seperti saya, meyakini bahwa hidup kita ini bergantung kepada kualitas hubungan kita dengan orang lain. Maka Anda pun kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Negosiasi? Pernah tahu? Pengen ngerti? Tenang, artikel ini dan tiga artikel berikutnya akan bantu Anda kuasai negosiasi sehari-hari.</p>
<p><a title="guru imajinerku" href="http://www.tonyrobbins.com/" target="_blank">Tony Robbins</a> pernah menegaskan, ”Kualitas hidup Anda sebanding dengan kualitas  komunikasi Anda”. Jika Anda termasuk sekelompok orang yang seperti saya, meyakini bahwa hidup kita ini bergantung kepada kualitas hubungan kita dengan orang lain. Maka Anda pun kemudian menyepakati bahwa dalam tujuan mendapatkan apa pun keinginan baik kita, selalu saja ada pihak lain yang turut serta dalam proses pencapaian itu. Sehingga, komunikasi menjadi berperan sangat-sangat-sangat vital dalam kehidupan pribadi dan profesional kita. Itulah kemudian yang menjadi alasan mendasar tumbuh dan berkembangnya berbagai saluran perbaikan sarana berkomunikasi. Mulai dari percepatan dunia tele-komunikasi, internet (masuk saja ke FesBuk, Anda akan menemukan ratusan juta manusia saling terhubung di sana. Kalo Anda beruntung, Anda tentu bisa menemukan profil saya [Rio Purboyo] di <a title="bersahabat yuk" href="http://www.facebook.com/masriopurboyo" target="_blank">sana</a>). Bahkan yang juga menjamur adalah seminar, kursus, dan pelatihan yang mengembangkan kemampuan yang semakin lama semakin kita butuhkan ini. <a title="Awali komunikasi dengan benar!" href="http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html" target="_blank">Berkomunikasi efektif</a>.</p>
<p><span id="more-128"></span></p>
<p>Setiap hari kita berkomunikasi. Maaf, ralat. Setiap saat kita berkomunikasi. Saat saya sedang menulis (mengetik sebetulnya) artikel ini pun saya sedang berkomunikasi. Pun juga dengan Anda. Saat membaca tulisan-tulisan saya ini, Anda juga sedang berkomunikasi. Anda sedang berkomunikasi dengan diri Anda sendiri. Pikiran Anda melakukan penyaringan ide-ide yang berlompatan selama Anda membaca. Anda sedang memilih gagasan yang layak Anda perhatikan dari yang tidak. Anda pun membatasi perhatian Anda hanya pada tulisan ini. Yah, kecuali Anda kali ini sedang membaca sambil mendengarkan sesuatu. Anda juga memusatkan perasaan Anda untuk merasakan maksud yang coba Anda tangkap dari tulisan saya ini. Terlebih dari itu, Anda berbicara kepada diri Anda sendiri sebagai usaha Anda untuk memasukkan pengertian-pengertian jernih yang coba saya bagikan kepada Anda. Proses ini, kejadian kita –Anda dan saya– membaca untuk diri kita sendiri; merasakan manfaat dari sebuah tulisan; dan berbicara kepada diri sendiri; dilabeli sebagai komunikasi internal.</p>
<p>Lebih dari itu, pastinya ada komunikasi eksternal. Komunikasi yang melibatkan diri kita dengan di luar kita. Bila komunikasi internal terjadi dalam lingkup diri kita, pemikiran dan perasaan kita. Maka komunikasi eksternal melibatkan pihak-pihak di luar kita. Sengaja saya memakai kata pihak-pihak. Karena ia meliputi manusia, peralatan, atau apa pun yang kita ajak berkomunikasi. Dalam contoh ketika saya menulis artikel ini, saya sedang berkomunikasi secara internal dengan diri saya SEKALIGUS berkomunikasi eksternal dengan laptop di hadapan saya ini. Saat ini, Anda pun mengalami hal yang sama. Anda berkomunikasi internal dengan diri Anda DAN berkomunikasi eksternal dengan komputer/laptop/gadget di depan Anda.</p>
<p>Setelah mengerti proses komunikasi yang saya jelaskan secara sederhana di atas, kali ini saya ingin mengundang Anda mengupas lebih dalam mengenai komunikasi yang lebih khusus. Yakni negosiasi. Setiap hari kita menghadapi beragam negosiasi, bukan? Mulai dari keputusan kita untuk bangun atau tidak. Pilihan kita untuk mengawali hari ini dengan berolahraga atau tidak. Memilih pakaian yang akan kita kenakan saat keluar rumah di pagi hari ini. Memutuskan untuk melewati jalan tertentu dalam perjalanan dari dan ke luar rumah. Sampai memecahkan persoalan yang kita hadapi sepanjang bangun tidur hingga nanti kita tidur kembali.</p>
<p>Sebagaimana kita tidak bisa tidak berkomunikasi. Maka tentu saja, kita pun tidak bisa tidak bernegosiasi. Kita pasti bernegosiasi. Entah bernegosiasi dengan diri sendiri, dengan seseorang, dengan sekelompok orang, atau dengan pihak-pihak yang menurut kita lebih berkuasa. Saya sendiri pun telah berjanji untuk menuliskan 2 serial yang khusus membahas tentang hal ini. Pertama serial negosiasi, karena serial ini terhubung langsung dengan cara kita kita memenangkan persetujuan pendapat kita atas pendapat orang lain. Dan yang kedua mengenai serial seni memilih, saya memilihnya karena ini terkait erat dengan keputusan dan cara kita memilih. Semoga pilihan saya ini benar dan berdampak baik pula untuk Anda. Sebab, kualitas hidup yang saya jalani hari ini ternyata sepenuhnya selaras dengan kualitas pilihan dan cara saya memutuskannya.<br />
Dan hidup Anda? Tentu saja prinsipnya sama, bukan? Jadi, saya berharap Anda akan penasaran untuk menikmati tulisan-tulisan saya di edisi-edisi berikutnya. Oke, mari kita lanjutkan perjalanan kita.</p>
<p>Orang yang menguasai seni bernegosiasi biasanya hidup dengan lebih mudah di muka bumi ini, dibandingkan jutaan orang yang tidak percaya diri yang tidak memiliki keahlian ini. Sekarang, dengan melanjutkan membaca artikel ini, Anda pun akan dapat mengambil manfaat dari wawasan dan ketrampilan yang telah membantu banyak orang dalam mendongkrak kehidupan pribadi dan profesional mereka melalui negosiasi yang berhasil. Cara Anda bernegosiasi benar-benar menentukan. Di antara faktor-faktor yang bisa mempengaruhi hasil negosiasi Anda: seberapa baik Anda membaca situasi pihak lain dan mengelola harapannya; di mana Anda membuka dan kesepakatan apa yang Anda dapatkan; bagaimana Anda merespon taktik pihak lain; dan titik di mana Anda memutuskan apakah akan melanjutkan transaksi atau meninggalkannya. Perhatikan ini ya! Jangan sekali-kali meremehkan pentingnya kemampuan negosiasi Anda.</p>
<p>Untuk memenangkan negosiasi, reka-ulanglah paradigma Anda mengenai negosiasi. Jauhkan anggapan bahwa Anda tidak bisa bernegosiasi, hanya karena Anda mengira Anda tidak dapat melakukannya. Bisa jadi, Anda termasuk korban dari 5 mitos ngawur tentang negosiasi:<br />
1. Hanya orang yang kuat yang memenangkan negosiasi. Dan itu hanya sedikit orang.<br />
2. Negosiasi = segala-galanya ATAU tidak sama sekali. Silakan pilih, jadi pemenang ATAU pecundang!<br />
3. Harus pandai bicara untuk menjadi negosiator yang baik.<br />
4. Tegas adalah egois dan tidak sopan.<br />
5. Wanita tidak bisa bernegosiasi selihai pria.</p>
<p>Marilah kita selidiki mitos ngawur di atas, satu per satu.</p>
<p><strong>MITOS NGAWUR (1)</strong>: Hanya orang yang kuat yang memenangkan negosiasi. Dan itu hanya sedikit orang.</p>
<p>Untuk memenangkan negosiasi, Anda tidak perlu menjadi Giant (dalam film Doraemon). Yang sering dilupakan orang adalah kesantunan sama efektifnya dalam negosiasi. Anda tidak harus menjadi penggertak untuk memperoleh apa yang Anda inginkan, Anda hanya perlu memahami prinsip negosiasi dan cara mengelolanya.</p>
<p><strong>MITOS NGAWUR (2)</strong>: Negosiasi = segala-galanya ATAU tidak sama sekali. Silakan pilih, jadi pemenang ATAU pecundang!</p>
<p>Ingat baik-baik! Negosiasi sebenarnya adalah tentang kerja sama. Bukan semata-mata tentang kemenangan. Lebih seringnya orang beranggapan bahwa negosiasi seperti perlombaan, kita tidak akan menang jika orang lain tidak kalah. Persepsi negatif ini menimbulkan kecemasan karena itu membuat seseorang harus kalah. Dan itu mungkin adalah ANDA. Sebagian orang dikuasai oleh rasa takut akan kalah, berpikir tentang apa yang akan terjadi jika keadaan tidak berpihak kepada mereka. Sebelum mereka sadari, tubuh pun memberikan tanda-tanda penolakan atas ketakutan yang sejatinya tidak beralasan. Perut mereka tiba-tiba merasa mulas dan mereka merasa seolah-olah mereka akan muntah. Pengalaman tidak mengenakkan inilah yang membuat banyak orang tidak suka dan menghindari negosiasi.</p>
<p>Sebagai ganti model menang-kalah, bagaimana jika Anda menggunakan pendekatan kerja sama? Pendekatan ini berprinsip bahwa dalam bernegosiasi kedua belah pihak dapat menganggap diri mereka sebagai pemenang. Kedua belah pihak sama-sama merasa menang. Dengan begitu, kita tidak lagi risau akan hasil negosiasi dan memungkinkan kita lebih berfokus untuk menikmati prosesnya.</p>
<p><strong>MITOS NGAWUR (3): Harus pandai bicara untuk menjadi negosiator yang baik.</strong></p>
<p>Keyakinan saya makin meneguhkan bahwa ternyata orang yang sukses bukan sekedar pembicara yang baik. Kuncinya adalah mendengarkan. Mendengarkan orang lain sangatlah penting bagi siap orang yang ingin menguasai seni negosiasi. Artikel-artikel selanjutnya saya curahkan untuk membantu Anda mengembangkan ketrampilan Anda dalam mendengarkan.</p>
<p><strong><strong>MITOS NGAWUR (4)</strong>: Tegas adalah egois dan tidak sopan.</strong></p>
<p>Perhatikan instruksi yang diatur dalam keadaan darurat di pesawat terbang. ”Ketika terjadi kehilangan tekanan udara dalam kabin, pakailah masker oksigen Anda terlebih dahulu sebelum menolong orang di dekat Anda.” Mengurus diri sendiri lebih dulu menjadi hal yang masuk akal. Bersikap tegas penting dalam negosiasi. Sebab, dengan tegas Anda menjamin terpenuhinya kebutuhan Anda.</p>
<p><strong><strong>MITOS NGAWUR (5)</strong>: Wanita tidak bisa bernegosiasi selihai pria.</strong></p>
<p>Ada kesan bahwa pria lebih agresif daripada wanita. Wanita dipersepsikan lebih pasif dan karena itu tidak siap untuk berkonfrontasi. Sehingga, menurut sebagian orang, pria ebih baik dalam bernegosiasi. Berdasarkan <a href="http://www.negotiationbootcamp.com/EdBrodow.html" target="_blank">Ed Brodow</a>, Pakar Negosiasi, dalam seminarnya tentang negosiasi selama dua puluh tahun ia menyimpulkan bahwa semua itu adalah omong kosong. Ia menegaskan bahwa beberapa pria adalah negosiator yang lebih baik daripada sebagian besar wanita. Dan beberapa wanita lebih baik daripada kebanyakan pria. Itu saja, titik. Generalisasi hanya mengarah kepada kebodohan. Yang terpenting, apa pun jenis kelamin Anda, ciptakanlah gaya negosiasi yang sesuai dengan kepribadian Anda.</p>
<p>Dalam tulisan saya berikutnya, kita akan sama-sama memahami sepuluh sifat yang umumnya dimiliki oleh para negosiator yang ulung. Sekarang, Anda bisa membebaskan diri Anda dari 5 jebakan pemikiran yang keliru tentang negosiasi. Anda menjadi seorang pemenang negosiasi dengan mengedepankan pendekatan menang-menang. Dengan kemampuan Anda dalam mendengarkan secara aktif, dan ketegasan Anda dalam membela prinsip dan nilai-nilai Anda, tanpa membedakan jenis kelamin Anda –Anda tetap bisa menjadi seorang negosiator yang efektif selama Anda mendesain gaya negosiasi yang tepat untuk diri Anda. Saya berharap persepsi Anda menjadi semakin siap untuk menerima gagasan-gagasan yang benar mengenai negosiasi.</p>
<p>Sampai jumpa pada tulisan saya berikutnya, untuk menilai adakah kepribadian negosiator ulung pada diri Anda. Selamat <a title="minat kuasai negosiasi sehari-hari?" href="http://riopurboyo.com/boleh-kubantu" target="_blank">bernegosiasi</a>, dan terima kasih.</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (1)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-2.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (2)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-3-selesai.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (3, selesai)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/%e2%80%9chumor%e2%80%9d-bumbu-pembicaraan-anda.html" rel="bookmark" class="crp_title">“HUMOR” Bumbu Pembicaraan Anda</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/misteri-otak-manusia.html" rel="bookmark" class="crp_title">Misteri Otak Manusia</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/5-mitos-ngawur-tentang-negosiasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“HUMOR” Bumbu Pembicaraan Anda</title>
		<link>http://riopurboyo.com/%e2%80%9chumor%e2%80%9d-bumbu-pembicaraan-anda.html</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/%e2%80%9chumor%e2%80%9d-bumbu-pembicaraan-anda.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Oct 2010 23:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[akrab]]></category>
		<category><![CDATA[bumbu bicara]]></category>
		<category><![CDATA[emosi positif]]></category>
		<category><![CDATA[gembira]]></category>
		<category><![CDATA[humor]]></category>
		<category><![CDATA[jenuh]]></category>
		<category><![CDATA[lamunan]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat humor]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian]]></category>
		<category><![CDATA[senyum]]></category>
		<category><![CDATA[tertawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Anda pastinya sudah memahami bahwa Anda bisa memilih satu dari tiga orientasi berbicara. Apakah Anda akan lebih memilih untuk berorientasi kepada diri Anda sendiri, kepada isi pembicaraan Anda, atau tentu saja, Anda akan memilih yang terbaik. Berorientasi kepada pendengar Anda. Ketika Anda mulai mencurahkan perhatian Anda secara lebih optimal kepada pendengar Anda, lebih daripada isi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda pastinya sudah memahami bahwa Anda bisa memilih satu dari tiga orientasi berbicara. Apakah Anda akan lebih memilih untuk berorientasi kepada diri Anda sendiri, kepada isi pembicaraan Anda, atau tentu saja, Anda akan memilih yang terbaik. Berorientasi kepada <a title="berbicara dengan pendengar, bukan kepada mereka!" href="http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html" target="_blank">pendengar Anda</a>.</p>
<p>Ketika Anda mulai mencurahkan perhatian Anda secara lebih optimal kepada pendengar Anda, lebih daripada isi pembicaraan dan bahkan kepada diri Anda sendiri, Anda akan mulai mengerti bahwa dalam pembicaraan tersebut Anda mulai memainkan peran seakan-akan pendengar yang bersama Anda adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri Anda.</p>
<p><span id="more-110"></span></p>
<p>Dan, Anda pun akan mulai lebih mengerti bahwa ternyata orang lain lebih mengingat emosi yang terkandung dalam pertemuan bersama Anda. Semakin dalam kualitas emosi yang Anda timbulkan pada orang lain, semakin tertanam kuat ingatan orang lain terhadap Anda. Gembira adalah salah satu emosi yang mudah lekat dalam benak orang. Orang akan sangat mudah hanyut dan akan mudah dekat pada seseorang yang lebih mudah membuatnya merasa gembira.</p>
<p>Kegembiraan itu terlihat jelas paling tidak ketika pendengar Anda tersenyum atau tertawa. Tertawa pasti menunjukkan kesenangan. Boleh jadi ada orang menangis karena gembira, tetapi jarang sekali orang tertawa karena sedih. Makin cepat seseorang tergiring untuk tertawa, makin cepat pula keakraban terjalin. Sebab secara umum, manusia lebih suka dihibur daripada diajari. Sehingga, kemampuan dalam membuat seseorang merasa mudah bergembira ketika bertemu Anda menjadi salah satu keahlian yang kini makin penting Anda kuasai.</p>
<p>Daftar berikut ini adalah alasan mengapa Anda perlu menikmati 4 manfaat humor dalam pembicaraan Anda:</p>
<p><strong>1.	Membangun rasa saling pengertian dengan para pendengar.</strong></p>
<p>Orang menyukai pribadi yang membuat mereka tertawa. Jika lelucon Anda tidak menyinggung perasaan, tepat, dan lucu, kemungkinan besar Anda telah mendapatkan teman baru. Begitu Anda menjalin saling pengertian dengan pendengar, mereka lebih mudah menerima pesan Anda. Dan karenanya pula humor akan &#8230;</p>
<p><strong>2.	Menjaga pendengar Anda dari kejenuhan. </strong></p>
<p>Sangat mustahil Anda merasa bosan saat sedang dihibur, kecuali bila hiburannya cukup jelek. Tertawa adalah sebuah cara hebat dalam memberikan istirahat sejenak para pendengar dari ceramah yang serius. Dampak positif lainnya humor akan membuat pembicaraan Anda lebih menyenangkan. Apakah Anda lebih suka untuk mendengarkan materi ceramah yang datar dan membosankan, atau Anda lebih suka untuk lebih sering tertawa sepanjang ceramah?</p>
<p>Kita belajar dengan lebih baik ketika kita menikmatinya. Telah berlalu waktu di mana ceramah hanya untuk mendidik para pendengar. Pendidikan semata bisa menggoda pendengar Anda untuk tidur; pendidikan plus hiburan memberi Anda peluang lebih besar untuk merangkul pendengar. Humor berfungsi melibatkan para pendengar Anda. Humor membuat para pendengar Anda merasa dekat, merasa terlibat. Mereka pun siap belajar. Maka tidak mengherankan bila humor &#8230;</p>
<p><strong>3.	Memungkinkan para pendengar Anda mengingat informasi lebih lamaa. </strong></p>
<p>Karena orang lebih mudah lupa akan fakta dan angka, dan lebih mudah ingat akan hal-hal yang menyentuh perasaan mereka, maka humor menjadi ’tangan kanan’ Anda dalam melakukannya. Kita mengingat sebuah pesan ketika kita mengingat kembali apa yang membuat kita merasa emosional, sesuatu yang bisa membuat kita tertawa. Masih sering saya jumpai alumni dari pelatihan kami yang setelah sekian lama masih mengingat kisah yang pernah mereka dengar dari kami, dan tentunya masih mengerti akan pesan ceritanya.</p>
<p>Humor merangsang sisi kanan dan sisi kiri otak kita, sehingga meningkatkan peluang bagi pendengar Anda untuk mengingat isi ceramah Anda dalam waktu yang lebih lama. Karena sesuatu yang lucu itu tidak terduga, humor membuat pikiran para pendengar bekerja. Kita –utamanya pendengar– berjalan dari sesuatu yang sudah kita ketahui dan sudah kita duga menuju ke sesuatu yang tidak kita ketahui dan kita duga sebelumnya. Dalam prosesnya, para pendengar mempelajari cara baru dalam melihat, mendengar, dan memproses pesan yang mungkin telah akrab dengan mereka. Seolah-olah para pendengar menemukan sebuah gambar baru yang sebetulnya adalah gambar lama dengan bingkai yang baru. Seringkali proses ”AHA” muncul ketika kita berada dalam perasaan gembira, dan humor mampu memicu hal itu. Selain itu humor akan &#8230;</p>
<p><strong>4.	Menghentikan lamunan, menyegarkan suasana, dan membantu Anda menyusupkan pesan.</strong></p>
<p>Bukan hal yang mudah dalam mendapatkan perhatian orang lain ketika Anda pertama kali memulai pembicaraan. Orang-orang memikirkan hal lain, mereka melamun, mereka berbicara dengan orang-orang di sebelahnya, mereka bertanya-tanya dalam hati tentang menu makan siang setelah seminar Anda. Pikiran dan perasaan mereka berada di tempat dan waktu yang lain. Cerita, kutipan, gurauan, foto, atau video klip yang penuh humor merupakan cara efektif dalam mengundang pendengar Anda untuk berpartisipasi dalam ceramah Anda. Itu menghentikan sejenak lamunan yang sedang berlangsung, dan menciptakan peluang bagi Anda untuk mengambil-alih kendali atas kondisi ceramah Anda. Itu pula yang menggantikan teriakan ”Toloong, perhatikan saya sebentar!”</p>
<p>Ketika para pendengar tertawa, pikiran mereka terbuka dan mereka pun siap menerima pesan Anda. Anda kini lebih leluasa menyusupkan pesan Anda dan bahkan para pendengar Anda mungkin tidak sadar bahwa mereka telah menerima pesan Anda.</p>
<p>Sebagaimana bumbu dalam masakan, bijak-lah dalam menggunakan humor dalam pembicaraan kita. Gunakan seperlunya, sesuai dosis dan tujuannya.</p>
<p>Selamat berkomunikasi, semoga berguna!</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/orientasi-berbicara-dari-sinilah-perbincangan-anda-bermula.html" rel="bookmark" class="crp_title">Orientasi Berbicara: Dari sinilah perbincangan Anda bermula!</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/terapkan-pengetahuan-jadi-tindakan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Terapkan Pengetahuan Jadi Tindakan</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit.html" rel="bookmark" class="crp_title">Tujuan Konkrit</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/anda-seorang-negosiator-ulung-bukan-1.html" rel="bookmark" class="crp_title">Anda seorang Negosiator Ulung, bukan? (1)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/kutukan-pengetahuan.html" rel="bookmark" class="crp_title">Kutukan Pengetahuan</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/%e2%80%9chumor%e2%80%9d-bumbu-pembicaraan-anda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

