<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>riopurboyo.com &#187; Kepemimpinan+Manajemen</title>
	<atom:link href="http://riopurboyo.com/category/kepemimpinanmanajemen/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://riopurboyo.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Apr 2012 11:56:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>TNI dan Kepemimpinan Efektif</title>
		<link>http://riopurboyo.com/tni-dan-kepemimpinan-efektif</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/tni-dan-kepemimpinan-efektif#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2010 12:53:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepemimpinan+Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[5 oktober]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpin efektif]]></category>
		<category><![CDATA[prajurit]]></category>
		<category><![CDATA[sma taruna nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[tentara]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://riopurboyo.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Dulu, saya sempat bercita-cita menjadi seorang Jenderal Bintang 4. Pun sempat menghafal dengan sukacita, jenjang kepangkatan keprajuritan TNI. Seingat saya, di jajaran pangkat bintang, ialah Brigadir Jenderal; Mayor Jenderal; Letnan Jenderal; dan tentu saja Jenderal. Ini terjadi lebih karena saya terinfeksi kisah kepahlawanan Panglima Besar, Jendral Sudirman. Lebih dari sekedar kisah hidup beliau, saya pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, saya sempat bercita-cita menjadi seorang Jenderal Bintang 4. Pun sempat menghafal dengan sukacita, jenjang kepangkatan keprajuritan <a title="tentara kebanggaan nusantara" href="http://www.tni.mil.id/" target="_blank">TNI</a>. Seingat saya, di jajaran pangkat bintang, ialah Brigadir Jenderal; Mayor Jenderal; Letnan Jenderal; dan tentu saja <a href="http://www.tniad.mil.id/" target="_blank">Jenderal</a>. Ini terjadi lebih karena saya terinfeksi kisah kepahlawanan Panglima Besar, Jendral Sudirman. Lebih dari sekedar kisah hidup beliau, saya pun memiliki satu koleksi khusus seputar kepahlawanan. Ada buku 60 pahlawan nasional. Ada sepaket mainan anak dalam tema perang-perangan, dan beragam permainan anak-anak yang sejenisnya. Untuk mewujudkan cita-cita itu, saya pun mengalokasikan waktu, tenaga, dan pikiran agar kelak bisa bersekolah di <a title="sekolah para pemimpin masa depan" href="http://taruna-nusantara-mgl.sch.id/id2/" target="_blank">SMA Taruna Nusantara</a> Magelang. Sebuah sekolah yang didesain khusus bagi para calon pemimpin masa depan bangsa.</p>
<p>Meski gagal diterima masuk ke SMA yang bonafide itu, saya tetap bersyukur karena hingga hari ini, gelora kecintaan terhadap nusantara masih sedemikian membaranya. Dan, seingatku, tanggal 5 Oktober adalah hari yang diperingati sebagai kelahiran TNI. Tulisan ini ditulis dalam upaya memperingati hal itu, terutama dalam memberi solusi, betapa negeri ini membutuhkan lebih banyak pemimpin efektif. Formal ataupun informal. Bagaimana jika kita memulainya dari kriteria pemimpin yang efektif? Selamat membaca.</p>
<p><span id="more-224"></span></p>
<p><strong>7 Faktor Kritis Kepemimpinan Efektif</strong></p>
<p>Seorang pemimpin adalah seseorang yang memiliki pengikut. Pemimpin  efektif tidak bertanya: “Apa yang ingin saya lakukan?” Sebagai gantinya,  mereka bertanya, “Apa yang perlu dilakukan?” Lantas, mereka bertanya,  “Dari semua hal yang akan membuat perbedaan itu, mana yang tepat untuk  saya?” Pemimpin efektif tidak mengerjakan hal-hal yang tidak mereka  kuasai. Pemimpin efektif memastikan hal-hal penting lainnya dikerjakan  dengan tuntas, tetapi bukan oleh mereka.</p>
<p>Kepemimpinan bukan sekedar kepribadian yang memikat, bukan pula  kemampuan berteman atau mempengaruhi orang. Karena hal-hal itu adalah  hal-hal yang dimiliki penjual, bukan pemimpin. Kepemimpinan adalah  mengangkat visi seseorang menjadi lebih tinggi, meningkatkan standar  kinerja seseorang, dan membangun kepribadian seseorang melebihi batasan  normalnya.</p>
<p>Para pemimpin yang benar-benar efektif lebih tertarik pada apa yang  benar ketimbang siapa yang benar. Manajemen adalah mengerjakan hal-hal  dengan benar. Kepemimpinan adalah melakukan hal-hal yang benar, dan itu  diikuti oleh banyak faktor.</p>
<p>Kita bisa mengenali karakter dan kecenderungan pemimpin efektif sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Berkarakter dan berani.</strong></p>
<p>Inilah dua karakteristik fundamental yang harus dimiliki seorang  pemimpin efektif. Pemimpin efektif memegang teguh konsistensi antara  kata dan perbuatan. Ia adalah orang yang menjalankan perkataannya.  Melaluilah karakter-lah kepemimpinan bisa dilatihkan, karakter-lah yang  menjadi contoh.</p>
<p>Seorang pemimpin juga membutuhkan keberanian yang di atas rata-rata  untuk membuat keputusan-keputusan sulit. Diperlukan keberanian yang luar  biasa, untuk mengabaikan hari kemarin, meninggalkan hal-hal di mana  Anda sebagai pemimpin memiliki kepentingan pribadi, atau untuk mengubah  arah saat di tengah jalan.</p>
<p><strong>2. Menciptakan visi dan misi yang jelas.</strong></p>
<p>Seorang pemimpin efektif melukis gambar garis akhir yang jelas. Pemimpin  efektif menetapkan tujuan, menetapkan prioritas, dan menetapkan  sekaligus memelihara standar. Pemimpin efektif sadar betul bahwa ia  tidak bisa mengendalikan semesta, namun, sebelum ia menerima kompromi,  pemimpin efektif harus berpikir mengenai apa yang benar dan apa yang  diinginkan. Tugas utama seorang pemimpin adalah meniup trompet yang  menyuarakan bunyi yang sangat jelas.</p>
<p><strong>3. Menanamkan loyalitas.</strong></p>
<p>Pemimpin efektif menginspirasi loyalitas bagi seluruh jajarannya. Karena  loyalitas tidak bisa dibeli, maka seorang pemimpin harus mendapatkannya  dengan berusaha. Dalam perjalanan mendapatkan kesetiaan, pemimpin harus  menetapkan standar yang tinggi, sekaligus –dalam saat yang bersamaan–  menjadi teladan berjalan bagi bawahannya, ia juga berusaha maksimal  untuk tidak melanggar nilai-nilai organisasi. Pemimpin yang hidup  berdasarkan nilai-nilai organisasi bisa memotivasi anak buahnya untuk  menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi. Hanya  karena mampu menginspirasikan loyalitas-lah, moral anak buah akan  meningkat. Yang pada akhirnya, akan melejitkan kinerja mereka.</p>
<p>Seorang pemimpin efektif memahami bahwa loyalitas adalah jalan dua arah.  Dengan demikian, pemimpin harus mempraktikkan apa yang mereka  khotbahkan dengan bersikap loyal kepada para anak buah. Semua itu  diikuti pula dengan pemberian masukan yang positif.</p>
<p><strong>4. Berfokus pada kekuatan.</strong></p>
<p>Pemimpin efektif berfokus pada kekuatan: kekuatan mereka sendiri,  kekuatan orang lain, dan kekuatan organisasi. Seorang pemimpin efektif  membuat “kekuatan menjadi efektif dan kelemahan menjadi tidak relevan.”  Itulah sebabnya pemimpin efektif mengharuskan dirinya membentuk tim  impian yang efektif. Karena di dalamnya, ide-ide segar tiap pribadi  melebur dalam akumulasi akal kolektif, dan kreativitas individu menjelma  menjadi kreativitas kolektif.</p>
<p><strong>5. Tidak takut pada bawahan yang kuat.</strong></p>
<p>Pemimpin efektif sepenuhnya memegang kesadaran betapa ia bertanggung  jawab penuh terhadap kelangsungan, kesehatan, dan keberlanjutan  organisasi. Sehingga, ia tidak takut pada kekuatan yang dimiliki teman,  bahkan bawahan. Tetapi, pemimpin yang ngawur takut akan hal itu. Sebaliknya, pemimpin  efektif menginginkan rekan-rekan yang kuat. Ia menyemangati mereka,  mendorong mereka, dan memuji mereka.</p>
<p>Karena pemimpin efektif bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuat  rekan dan bawahannya, ia juga melihat kemenangan rekan dan bawahan  sebagai kemenangannya, dan yang terpenting, tidak menganggapnya sebagai  ancaman. Kesuksesan anak buah adalah kesuksesan pemimpin juga.</p>
<p><strong>6. Bersikap konsisten.</strong></p>
<p>Syarat terakhir untuk menjadi pemimpin efektif adalah meraih kepercayaan  pengikut. Saat seseorang kehilangan kepercayaan, ia kehilangan  pengikutnya –sehingga– memustahilkan terjadinya kepemimpinan yang  efektif.</p>
<p>Mempercayai pemimpin bukan berarti menyukainya, bukan pula senantiasa setuju  dengannya. Kepercayaan adalah keyakinan bahwa sang pemimpin  bersungguh-sungguh pada apa yang dikatakannya. Tindakan seorang pemimpin  dan kepercayaan yang dianutnya harus sejajar, atau setidaknya sesuai.  Kepemimpinan efektif tidak didasarkan pada kepandaian seorang pemimpin,  tapi terutama pada konsistensi-nya!</p>
<p><strong><strong>7. Mempersiapkan pemimpin masa depan.</strong></strong></p>
<p>Para pemimpin terbaik tahu bahwa di pundak mereka-lah terletak tanggung  jawab untuk mengembangkan pemimpin yang akan memandu organisasi mereka  di masa depan. Mereka paham betul bahwa perkembangan kepemimpinan  merupakan kunci bagi masa depan (perusahaan, organisasi nirlaba, dan  juga bangsa tentunya!).</p>
<p>Setiap pemimpin efektif paham bahwa ujian  terakhir kepemimpinan adalah menciptakan energi dan visi insani.</p>
<p>Semoga tulisan pembuka dari serial kepemimpinan ala nusantara ini berguna bagi lahirnya semakin banyak pemimpin efektif. Dan sekali lagi, selamat bagi TNI.</p>
<p>Dirgahayu TNI, Jayalah Negeriku, indONEsia!</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/sumpah-pemuda-provokator" rel="bookmark" class="crp_title">Sumpah Pemuda Provokator!</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/mindset-meskipun" rel="bookmark" class="crp_title">Mindset &#8220;Meskipun&#8221;</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/memprediksi-sukses" rel="bookmark" class="crp_title">Memprediksi Sukses</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/kenali-kapitalisasi-potensi-diri-1-fisik" rel="bookmark" class="crp_title">Kenali &#038; Kapitalisasi Potensi Diri (#1 Fisik)</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/misteri-otak-manusia" rel="bookmark" class="crp_title">Misteri Otak Manusia</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/tni-dan-kepemimpinan-efektif/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tujuan Konkrit</title>
		<link>http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit</link>
		<comments>http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 14:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rio Purboyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kepemimpinan+Manajemen]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi]]></category>
		<category><![CDATA[konkrit]]></category>
		<category><![CDATA[NLP]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/rio/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu pemicu minat terbesar saya dalam mempelajari dan menerapkan NLP adalah bahwa ia mengajak kita untuk membentuk setiap tujuan yang kita kehendaki di setiap konteksnya, berbasiskan pada bukti-bukti indrawi. Semisal, seorang teman saya yang berkomitmen untuk menjadi penulis perihal produktivitas dan pengembangan diri berbasiskan kekuatan pribadi, menerapkan salah satu latihan yang saat ini menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-57" title="ilust-riopurboyo-04" src="http://riopurboyo.com/wp-content/uploads/2010/01/ilust-riopurboyo-041.jpg" alt="ilust riopurboyo 041 Tujuan Konkrit" width="560" height="232" /></p>
<p>Salah satu pemicu minat terbesar saya dalam mempelajari dan menerapkan NLP adalah bahwa ia mengajak kita untuk membentuk setiap tujuan yang kita kehendaki di setiap konteksnya, berbasiskan pada bukti-bukti indrawi.</p>
<p>Semisal, seorang teman saya yang berkomitmen untuk menjadi penulis perihal produktivitas dan pengembangan diri berbasiskan kekuatan pribadi, menerapkan salah satu latihan yang saat ini menjadi kebiasaan otomatis beliau. Latihan sederhana yang beliau lakukan adalah menempatkan dirinya dalam kondisi yang paling berdaya. Sambil dia membayangkan dirinya melihat dengan matanya sendiri, betapa dalamnya ia hanyut dalam kondisi yang sangat <em>flow</em>, dia menuliskan satu per satu kalimat dan kemudian menyusunnya menjadi artikel yang siap dibaca, lalu mengedit di beberapa bagian artikel sehingga pembaca lebih mudah mencerna dan mengambil tindakan lanjut dari membaca ratusan artikelnya itu. Bahkan, tak jarang dengan kemampuannya mendesain pesan dalam bentuk gambar, keahlian yang terus diasah sejak 10 tahun yang lalu ini, menjadikan blog pribadinya –<em>terutama di bagian <strong><span style="text-decoration: underline;">donlot gambar</span></strong> gratis– </em>menjadi favorit pengunjungnya. (silakan kunjungi <a href="http://www.akhmadguntar.com/">akhmadGuntar.com</a>)<br />
<span id="more-44"></span><br />
Ternyata semakin banyak peserta pelatihan yang saya temui di beragam kesempatan, yang ketika berbagi kisah suksesnya pernah melakukan kegiatan mudah ini. Memberikan segala detail bukti indrawi terhadap impian mereka. Hanya mungkin bedanya, ada yang sudah membiasakan diri dengan hal ini dan ada yang belum. Dan ketika seseorang mendapati dirinya berada di sebuah kondisi yang selaras dengan tujuannya, entah bagaimana ceritanya, ia berada dalam kondisi yang baginya tidak baru. Seolah-olah ia pernah berada dalam kondisi itu sebelumnya. Beragam pengalaman yang ia desain dalam dirinya sebelum itu, kini ia dapati dalam kepingan nyata yang melingkupi dirinya. Tidak 100% memang, tetapi mirip. Bahkan bagi beberapa orang sangat mirip, hampir mustahil dibedakan antara yang pernah diimpikan dengan yang sekarang dilakukan. Karena itulah, mereka lebih sering mendapatkan tujuan baik yang mereka inginkan. Saya juga mengalaminya. Dengan demikian peluangnya tentu juga terbuka sama lebarnya buat Anda, bukan? Pasti. Kecuali Anda tetap merasa nyaman dengan keadaan Anda yang sekarang, dan berhenti inginkan hidup yang lebih baik.</p>
<p>Sambil meneruskan rasa penasaran saya. Kok bisa terjadi hal itu? Bagaimana mungkin bukti-bukti imajiner indrawi bisa menyelinap masuk dalam kehidupan nyata? Lha kok bisa, semakin rutin melatih diri lebih peka terhadap perubahan bukti-bukti indrawi –sebagai sinyal selaras/tidaknya tindakan dengan tujuan hidup– semakin sering menjumpai kesempatan tak terduga sebagai gerbang pembuka keberhasilan?</p>
<p>Entah, saya juga tidak tahu! Toh, meski tidak saya ketahui alasannya kenapa. Itu tidak membuat saya surut untuk terus menuliskan tujuan hidup yang lebih menantang, dengan menempelkan berbagai bukti-bukti indrawi. Bahkan, ketika Anda menikmati tulisan ini, beberapa hari yang lalu saya telah rasakan diri ini dalam kondisi yang sama. Bangun lebih awal di pagi hari, keluar rumah untuk tunaikan kebutuhan pribadi sebagai hamba Allah, lalu pulang dan mengetikkan kalimat-kalimat sederhana ini. Awalnya bukan untuk Anda, tapi untuk pemberdaya pribadi saja. Lalu terpikirkan, ”Jika saya dapatkan manfaat dari menuliskan pengalaman kecil ini, bagaimana jika ada teman di luar rumah yang juga bisa dapatkan hal yang sama? Jadi, mengapa tidak berbagi tulisan buat Anda? Ya, tho?”</p>
<p>Ketika membagikan 6 strategi elegan melekatkan gagasan ke sesama, dalam format bedah buku <strong><em>Made to Stick</em></strong> beberapa pekan yang lalu, barulah kemudian saya disadarkan betapa nyambungnya saran di atas dengan proses melekatnya gagasan di hati dan pikiran manusia, kita; Anda dan saya. Di bagian <strong><em>konkrit</em></strong>, kita bisa temukan lebih jauh penjelasan dari rasa penasaran saya tadi. Jangan terburu-buru untuk ingin tahu. Simpan sebentar rasa penasaran Anda, dan biarkan membesar seiring membaca tulisan ini. Anda akan temukan jawabannya, sebentar lagi.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Kekuatan Konkrit</em></strong></p>
<p>Apa yang membuat sesuatu menjadi ’konkrit’? Jika Anda dapat meneliti sesuatu dengan indra Anda, berarti itu konkrit. Bahasa yang konkrit membantu orang, terutama yang belum berpengalaman, untuk pahami konsep-konsep baru. Saran buat trainer, guru, dan pembicara, jika Anda mulai mengajarkan sebuah gagasan di sebuah ruangan yang dipenuhi orang, dan Anda tidak yakin apa yang mereka ketahui, bahasa yang konkret adalah satu-satunya bahasa yang aman.</p>
<p>Gagasan konkrit lebih mudah diingat. Eksperimen tentang ingatan manusia telah membuktikan bahwa kita lebih baik dalam mengingat kata benda konkrit dan mudah dibayangkan. Latihan di bawah ini membantu Anda menguji gagasan ini. Sekelompok kalimat berikut akan meminta Anda mengingat berbagai gagasan. Gunakan 5 sampai 10 detik untuk memikirkan masing-masing, jangan cepat-cepat berpindah dari gagasan itu. Anda akan melihat bahwa mengingat kembali hal-hal yang berbeda itu <em>terasa beda</em>.</p>
<ol>
<li>Ingatlah ibukota Irian Jaya</li>
<li>Ingatlah kelima warna balon      dalam lagu ”Balonku Ada Lima”</li>
<li>Ingatlah rumah saat Anda      menghabiskan sebagian besar masa kecil Anda</li>
<li>Ingatlah definisi      ’patriotisme’</li>
<li>Ingatlah definisi ’nasi      pecel’</li>
</ol>
<p>Dari kesemua latihan itu, setiap perintah untuk mengingat di atas menggunakan kegiatan mental yang berbeda. Saat mengingat ibukota Irian Jaya, ini adalah latihan yang abstrak. Kecuali jika Anda pernah singgah atau tinggal di Papua. Yang berlawanan, ketika Anda berpikir tentang 5 warna balon dalam ’Balonku Ada Lima’. Anda mungkin mendengar seseorang menyanyikannya, kata per kata, hingga mudah bagi Anda mengingatnya sambil bernyanyi lagu itu. Ingatan tentang rumah masa kecil Anda dapat membangkitkan sejumlah besar ingatan, berbasiskan indrawi. Bau, penglihatan, suara. Anda bahkan mungkin merasakan diri Anda sendiri berlari, keluar masuk rumah Anda, atau mengingat di mana orang tua Anda biasa membaca koran.</p>
<p>Definisi ’patriotisme’ mungkin sedikit lebih sulit untuk dimunculkan. Anda tentu saja memiliki pengertian tentang apa makna ’patriotisme’, tetapi tidak memiliki definisi yang sudah dirumuskan dan mudah diingat seperti Anda mengeluarkan ingatan tentang ’nasi pecel’. Saat ingat ’nasi pecel’, dengan segera membangkitkan ingatan rasa-bumbu adonan kacang goreng dicampur dengan bawang putih yang berwarna coklat, ditemani nasi putih punel/empuk, ditaburkan di atas sayuran yang hijau-ranum-dan tentunya masih segar- semisal kacang pendek, bayam, kembang turi, kecambah, dibarengi lauk-pauk sesuai selera Anda. Dan yang paling khas adalah rempeyek-nya. Bahkan, ada di antara peserta pelatihan kami, ada yang langsung teringat kursi dan meja di mana terakhir kalinya ia menyantap nasi pecel di warung langganannya. Luar biasa!</p>
<p>Jika ada di antara Anda yang sedang berpuasa sunnah di bulan Sya’ban kali ini, mohon dilanjutkan puasa Anda. Saya tidak sedang memprovokasi pikiran Anda, dengan sejumlah ingatan menyegarkan. Anggap saja sebagai pendamping, menjelang berbuka puasa.</p>
<p>Gagasan yang melekat secara alamiah adalah yang penuh dengan kata konkrit dan -seringkali- gambar. Pasti akan lebih mudah ingat, saat semakin banyak indra yang terlibat. Ingatan kita bekerja laksana Velcro. Bagi Anda yang belum tahu apa itu namanya Velcro, datangi penjahit atau toko perlengkapan konveksi, dan bertanyalah di sana. Dan Anda akan temukan Velcro. Bagi Anda yang lebih dulu tahu, jika Anda perhatikan kedua sisi dari bahan Velcro, Anda akan lihat bahwa sisi yang satu tertutup dengan <em>ribuan kait</em> yang sangat kecil dan sisi yang lain tertutup <em>ribuan gulungan</em> yang sangat kecil. Saat Anda menekan kedua sisi bersamaan, sejumlah besar <em>kait tertangkap di dalam gulungan</em> itu, dan itulah yang menyebabkan Velcro menempel.</p>
<p>Mirip dengan itu, otak Anda menjadi tuan rumah bagi gulungan-gulungan dalam jumlah yang luar biasa. Semakin banyak kait yang dimiliki oleh sebuah ide, semakin baik ide itu melekat pada ingatan. Rumah masa kecil Anda dan nasi pecel memiliki kait yang sangat banyak jumlahnya di dalam otak Anda.</p>
<p>Seorang guru yang hebat memiliki keahlian khusus untuk melipatgandakan jumlah kait dalam gagasan tertentu. Kisah nyata berikut ini, diambil dari pengalaman Jane Elliot, guru SD di Iowa. Ia merancang sebuah pesan yang sangat kuat –dengan memanfaatkan begitu banyak aspek emosi dan ingatan yang berbeda– sehingga, dua puluh tahun setelahnya, para muridnya masih dapat mengingat dengan jelas.</p>
<p><strong><em>Mata Cokelat, Mata Biru</em></strong></p>
<p>Martin Luther King, Jr dibunuh pada 4 April 1968. Esoknya, Jane Elliot, guru SD di Iowa mendapati dirinya berusaha menjelaskan kematian King kepada para muridnya. Kelas 3 SD. Di kota kecil Riceville, Iowa, semua penduduknya berkulit putih, para murid kenal dengan King tetapi tidak dapat memahami siapa yang inginkan kematian King, atau mengapa.</p>
<p>Elliot berkata, ”Saya tahu sekarang saatnya untuk menangani hal ini secara konkrit, karena kita telah <em>berbicara</em> tentang diskriminasi sejak hari pertama sekolah. Tetapi, penembakan Martin Luther King, salah seorang yang dipilih menjadi ’Pahlawan Bulan Ini’ dua bulan sebelumnya, tidak dapat dijelaskan kepada anak-anak kelas tiga yang masih kecil di Riceville, Iowa.”</p>
<p>Esoknya, ia datang ke sekolah dengan sebuah rencana. Ia bermaksud membuat prasangka itu menjadi jelas bagi para muridnya. Di awal kelas, ia membagi para murid menjadi dua kelompok. Anak-anak bermata cokelat dan satunya yang bermata biru. Ia kemudian membuat pengumuman yang mengejutkan: ”Anak-anak bermata cokelat lebih unggul dari anak-anak bermata biru. Mereka orang-orang yang lebih baik di ruangan ini.” Kelompok-kelompok itu lalu dipisahkan: Anak-anak bermata biru dipaksa untuk duduk di belakang kelas. Anak-anak bermata cokelat diberitahu bahwa mereka lebih pintar. Mereka diberi waktu tambahan pada jam istirahat. Anak-anak bermata biru harus mengenakan kalung khusus, sehingga semua orang akan mengetahui warna mata mereka dari jauh. Kedua kelompok itu tidak diijinkan bergabung pada jam istirahat.</p>
<p>Elliot sangat terkejut dengan betapa cepatnya kelas berubah. ”Saya melihat anak-anak itu menjadi anak-anak kelas tiga yang tidak menyenangkan, jahat, dan melakukan diskriminasi&#8230; keadaan itu mengerikan,” ujarnya. ”Persahabatan nampaknya hilang dengan seketika, pada waktu anak-anak bermata cokelat mengejek anak-anak bermata biru yang sebelumnya adalah teman mereka. Seorang siswa bermata cokelat bertanya kepada Elliot bagaimana ia dapat menjadi guru &#8216;jika Anda mendapatkan mereka bermata biru.’”</p>
<p>Pada permulaan kelas keesokan harinya, Elliot berjalan masuk dan mengumumkan bahwa ia telah berbuat salah. Sebenarnya anak-anak <em>bermata cokelat</em> yang lebih rendah kedudukannya. Pembalikan nasib ini diterima dengan seketika. Teriakan kegembiraan terdengar nyaring dari anak-anak bermata biru sewaktu mereka berlarian untuk memasangkan kalung mereka pada teman-teman mereka yang bermata cokelat, yang lebih rendah.</p>
<p>Di hari ketika mereka berada di kelompok yang lebih rendah kedudukannya, para murid menggambarkan diri mereka sendiri sebagai sedih, buruk, bodoh, dan hina. ”Ketika kami di bawah,” kata seorang anak laki-laki, suaranya jadi parau, ”rasanya seperti segala sesuatu yang buruk sedang menimpa kami.” Ketika mereka di atas, para murid merasa bergembira, baik, dan pintar.</p>
<p>Yang lebih mencengangkan, performa mereka pada tugas-tugas akademis berubah. Salah satu latihan dalam pelajaran membaca adalah satu set kartu bunyi bahasa yang harus dibaca secepat mungkin oleh anak-anak itu. Di hari pertama, ketika anak-anak bermata biru berada di bawah, mereka membutuhkan waktu 5,5 menit. Di hari kedua, ketika mereka berada di atas, mereka memerlukan waktu 2,5 menit. ”Mengapa kalian tidak bisa membaca secepat ini kemarin?” tanya Elliot. Seorang anak bermata biru menjawab, ”Kami mengenakan kalung itu&#8230;” Seorang yang lain menyela, ”Kami tidak bisa berhenti berpikir tentang kalung itu.”</p>
<p>Simulasi Elliot membuat prasangka menjadi konkrit, bahkan sangat konkrit. Simulasi itu juga berdampak tahan lama terhadap kehidupan para muridnya. Studi yang dilakukan sepuluh dan dua puluh tahun kemudian menunjukkan, betapa para murid Elliot secara signifikan tidak terlalu berprasangka dibandingkan rekan-rekan mereka yang tidak menjalani latihan itu.</p>
<p>Para murid masih mengingat simulasi itu dengan sangat jelas. 15 tahun kemudian, mereka mengadakan reuni yang disiarkan serial oleh PBS <em>Frontline</em> mengungkapkan betapa dalamnya hal itu telah menggerakkan mereka.</p>
<p>Ray Hansen, yang ingat bagaimana pemahamannya berubah dari satu hari ke hari selanjutnya, berkata ”Itu adalah salah satu pengalaman pembelajaran yang paling mendalam yang pernah saya jalani.” Sue Giner Rollan berkata, ”Prasangka harus diselesaikan ketika masih muda atau hal itu akan menguasai Anda sepanjang usia Anda. Kadang-kadang saya dapati diri saya (melakukan diskriminasi), menghentikan diri saya sendiri, berpikir kembali ke waktu saya di kelas tiga, dan mengingat bagaimana rasanya direndahkan.”</p>
<p>Jane Elliot memasukkan beragam kait ke dalam gagasan tentang prasangka. Ia mengubah prasangka menjadi <em>pengalaman</em>. Pikirkan tentang ’kait-kait’ yang terlibat.</p>
<ol>
<li>Penglihatan tentang seorang      teman yang mencemooh Anda.</li>
<li>Sentuhan sebuah kalung di      leher Anda.</li>
<li>Perasaan putus asa karena      merasa berkedudukan lebih rendah.</li>
<li>Kejutan yang Anda rasakan      setiap kali Anda memperhatikan warna mata Anda di cermin.</li>
</ol>
<p>Pengalaman ini memasukkan begitu banyak kait ke dalam ingatan para siswa, sehingga, puluhan tahun kemudian, pengalaman itu tidak dapat dilupakan.</p>
<p>Baik Anda menjadi guru bagi diri sendiri, atau juga bagi orang lain. Dengan cara yang sama, Anda juga bisa berdayakan diri Anda dengan beragam kait (anchor) indrawi. Semakin spesifik kait indrawi Anda, semakin nyata ia membantu Anda lebih berdaya. Dengannya, semoga Anda lebih sering dapati diri Anda dengan lebih mudah dapatkan tujuan hidup Anda secara lebih cepat.</p>
<p>Semoga tulisan sederhana ini berguna.</p>
<p>Selamat membuat tujuan hidup yang lebih multi indrawi!</p>
<p>“Jelasnya impian membuat menariknya perjalanan.</p>
<p>Membuat jauhnya jadi dekat, mengubah lelahnya jadi gembira.</p>
<p>Mengubah susahnya jadi penggelora jiwa.”</p>
<p>“Tapi entah kenapa, ada orang yang enggan berimpian yang jelas-jelas indah, yang menawan hatinya. Adakah dia lupa, bahwa impian adalah sebentuk perencanaan, sebuah proposal hidup.</p>
<p>Segenggam impian adalah sekepalan harapan.</p>
<p>Sebentuk kebergantungan jiwa kepada Sang Penguasa Alam Semesta. Allah swt.”</p>
<div id="crp_related"><h3>Related Posts:</h3><ul><li><a href="http://riopurboyo.com/%e2%80%9chumor%e2%80%9d-bumbu-pembicaraan-anda" rel="bookmark" class="crp_title">“HUMOR” Bumbu Pembicaraan Anda</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/pesona-kata-kata" rel="bookmark" class="crp_title">Pesona Kata-kata</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/mengapa-perlu-berubah" rel="bookmark" class="crp_title">Mengapa Perlu Berubah</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/berhasil-dengan-5-plus-4" rel="bookmark" class="crp_title">Berhasil, dengan 5 PLUS 4</a></li><li><a href="http://riopurboyo.com/tni-dan-kepemimpinan-efektif" rel="bookmark" class="crp_title">TNI dan Kepemimpinan Efektif</a></li><li>Powered by <a href="http://ajaydsouza.com/wordpress/plugins/contextual-related-posts/">Contextual Related Posts</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riopurboyo.com/tujuan-konkrit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

