Inspirasi Detik ini

Obatnya memang pahit, tetapi sebagai pasien saya membutuhkannya. — Rio Purboyo

Rindu Rasul

Posted by
|

Saya kaget saat Bimbo diundang secara khusus hadir ke acara KickAndy. Betapa tidak, sangat jarang grup penyanyi legendaris ini berada di forum talkshow, apalagi saat itu tampil full team. Tapi, kekagetan saya tidak berhenti di situ. Makin terkejut saat sang penulis syair, yang juga seorang penulis puisi kawakan negeri ini, didatangkan pula ke acara itu. Pak Taufik Ismail. Makin terasalah nuansa reliji di perbincangan tv malam itu.

Satu yang menarik, saat pak Taufik Ismail ceritakan kisah di balik penulisan syair lagu “Rindu Rasul”. Kita tahu, kekuatan utama puisi, ada pada pilihan kata yang menyusunnya. Karena itu, kita mengenal Sapardi Djoko Damono. Terkenal dengan pilihan kata yang sederhana, kadang sangat sederhana, keseharian; tapi justru berdampak kuat. Lihat dan rasakan, saat membaca “Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana”. Para pecinta, baik pemula maupun yang lebih tua, bisa sama-sama tersentuhnya ketika membaca, maupun menyimak kata-kata yang sederhana. Kesan dan pesan yang ada, lahir karena ada makna yang terkandung di dalamnya. Ia tidak lahir dari permainan kata-kata. Sederhana saja, tapi jelas terasa. Sederhana saja, tapi menimbulkan bekas di jiwa. Boleh jadi, karena ia membawa makna yang selaras dengan para pecinta terhadap yang ia kasihi. Entahlah, saya tidak tahu persis, bagaimana puisi bisa mempengaruhi jiwa manusia.

Mungkin, seperti itu pula yang terjadi saat kita dengarkan lagu “Rindu Rasul”. Kata-katanya sederhana. Malah, pak Taufik Ismail menyengaja memilih satu kata khusus sebagai penutup di akhir lagu itu. “Bersahaja”. Duh, betapa santun. Tapi itu juga menunjukkan penghormatan yang mendalam terhadap sesosok yang ingin dijumpai. Santun sekaligus anggun.

Apakah pendengaran Anda masih bisa dengan jernih menangkap suara lagu, berikut ini…

“Rindu kami padamu Ya Rasul
Rindu tiada terperi…”

Saya tidak tahu, rasa rindu seperti apa yang pernah Anda alami. Karena setiap orang memiliki pengalaman tersendiri, dalam hal merindukan sesuatu. Bisa jadi, rindu ingin ketemu seseorang. Rindu ingin ke sebuah tempat. Atau, rindu ingin mengalami lagi suatu peristiwa di masa lalu. Rindu, apa pun pemicunya, membuat kita tiba-tiba tersedot ke masa lalu. Dengan segenap makna yang kita lekatkan pada rindu itu, kita ingin berlama-lama mengalami kejadian itu. Kenapa ingin lama-lama berada di situ? Mungkin, karena ada banyak kenangan dan makna positif yang terlibat. Ada keinginan yang kuat untuk bertemu seseorang, bercerita dan mendengarkan apa saja yang sudah ia alami. Terlebih jika pengorbanan yang ia alami, sepenuhnya untuk kebaikan kita -para manusia yang bahkan tidak dijumpainya secara fisik. Kerinduan seperti itu, menggerakkan para kekasih rela berjuang untuk mengunjungi kediaman sang terkasih. Meskipun jauh, meskipun mahal, meskipun lama. Kerinduan seperti itulah, yang kita saksikan dari keberangkatan dan kepulangan para jamaah haji (dan umroh, tentunya).

“Berabad jarak darimu Ya Rasul
Serasa dikau di sini…”

Shiroh. Sedjarah. Seandainya kita lebih akrab dengan kisah hidup Nabi Muhammad saw, tentu pemisah ribuan tahun antara kita dengan beliau, hanya berupa catatan waktu. Hanya angka. Sebab senyatanya kita mudah hadirkan tayangan sekian episode hidup beliau, tepat di dalam pikiran dan jiwa kita. Saat kita dekat dengan Shiroh Nabawiyah, dengan mudahnya kita bisa bayangkan hadir dalam hari-hari jelang kelahiran beliau. Betapa kepongahan pasukan gajah beserta Rajanya, takluk dan hancur di bawah pasukan burung-burung kecil. “Rumah ini, ada pemiliknya.” Demikian ujar sang kakek beliau, saat meminta agar unta miliknya dikembalikan Abrahah. Dan benar saja, kecemburuan Abrahah atas rumah suci yang ingin dihancurkannya, adalah penanda akan lahirnya seorang pemimpin besar. Sesosok bayi, yang menggerakkan perubahan mendasar dalam sejarah dan peradaban manusia.

Memang puluhan abad jarak kita dengan Sang Rasul saw. Tapi saat kita membaca lembar demi lembar kisah perjalanan hidupnya, terasa benar beliau hadir di sini, saat ini. Lihatlah, bagaimana beliau menjadi sosok penting dalam peletakan batu hajar aswad. Perhatikan, bagaimana di usia belianya, beliau terlibat dalam peperangan, berperan sebagai penyedia logistik. Tentu, yang lebih lama kita kenali, beliau adalah penggembala dan bagian dari kafilah dagang. Ada peristiwa, ada makna. Lokasinya di sana waktunya berabad lalu, tapi karena kerinduan, terasa di sini, saat ini.

Mari lebih akrab dengan kisahi hidup beliau. Lebih jauh, kita dapat kenali betapa hari demi hari yang beliau lalui, hanyalah untuk dan karena satu hal. Taufik Ismail, mengingatkannya untuk kita semua…

“Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suwarga…”

Kenapa perlu turun kembali ke bumi, ketika sudah masuk surga? Pertanyaan “nakal” ini wajarnya muncul, saat kita baca sedjarah Isro’ Mi’roj. Tapi karena cintalah, beliau hadir kembali di bumi. Tempat terjadinya perang dan damai, fitnah dan ukhuwah, kegetiran dan kemenangan. Cinta Sang Nabi, mewujud dalam doanya atas penduduk Thoif yang mengingkari ajakannya. Cintanya pula, membuktikan diri dalam perang fisik di Badar. “Jika Engkau tak menangkan kami, siapakah lagi yang ‘kan memulyakan agamamu.” begitu doa beliau. Cinta pula, yang kental mewarnai hati dan pikirannya sampai-sampai jelang kematianpun beliau mengkhawatirkan orang lain. Kita. “Ummatku, ummatku…”

Sayup-sayup Bimbo menutup lagunya,

“Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja…”

- – -
Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ahlihi wa sohbihi…

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.