Inspirasi Detik ini

Saya yakin, cepat atau lambat, membuka kembali lembaran kilas balik kehidupan, menyisakan harapan dan ketakutan. Berharap-harap agar yang dilakukan bermanfaat tanpa terbatasi usia, dan semakin baik ke depannya. Takut, jangan-jangan yang kemarin itu tidak optimal, dan karenanya menyimpan peluang pertobatan dan perbaikan. — Rio Purboyo

Hadiah

Posted by
|

Alkisah, seorang tukang kayu tua berniat untuk pensiun dari profesi yang sudah ia jalani 30 puluh tahun. Ia ingin menikmati masa tuanya bersama istri serta anak cucunya.

Sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja, ia menceritakan rencana itu kepada mandornya.

“Saya mohon maaf Pak, tubuh saya rasanya sudah tidak seperti dulu, saya sudah tidak kuat lagi untuk menopang beban-beban berat di pundak saya saat bekerja…”

Sesaat, setelah sang mandor mendengar niat tukang kayu tersebut, ia merasa sedih. Karena sang mandor akan kehilangan salah satu tukang kayu terbaiknya, ahli bangunan andal yang berada dalam timnya. Namun apalah daya, mandor tidak dapat memaksa untuk mengurungkan niat si tukang kayu untuk berhenti bekerja.

Terlintas dalam pikiran sang mandor, untuk ajukan permintaan terakhir sebelum dirinya pensiun. Sang mandor memintanya untuk yang terakhir kalinya membangun sebuah rumah. Ini sebuah proyek sebelum tukang kayu tersebut berhenti bekerja.

Akhirnya, dengan berat hati tukang kayu menyanggupi permintaan mandornya meskipun dengan merasa kesal, karena jelas-jelas dirinya sudah meminta segera pensiun. Sejak awal pengerjaan proyek terakhirnya itu, ia berkata dalam hati bahwa ia tidak akan mengerjakannya sepenuh hati.

Pada hari pertama ketika proyek mulai dikerjakan, sang mandor terlihat tersenyum dan berkata pada tukang kayu, “Seperti biasa, aku sangat percaya denganmu. Jadi, kerjakanlah yang terbaik. Seperti saat-saat kemarin kau bekerja denganku. Bahkan, dalam proyek terakhir ini kamu bebas membangun dengan semua bahan-bahan yang terbaik yang ada.”

Tukang kayu itupun akhirnya memulai pekerjaan terakhirnya dengan malas-malasan. Bahkan dengan asal-asalan ia  membuat rangka bangunan. Karena malas mencari, maka ia menggunakan bahan-bahan bangunan berkualitas rendah. Sangat disayangkan, karena ia memilih cara yang buruk untuk mengakhiri karirnya.

Hari demi hari berlalu, dan setelah dua bulan akhirnya rumah itupun selesai. Ditemani tukang kayu, sang mandor datang memeriksa.

Ketika sang mandor memegang gagang pintu depan hendak membuka pintu, ia lalu berbalik dan berkata, “Ini adalah rumahmu, hadiah dariku untukmu. Sekarang, peganglah kunci rumah ini dan tinggallah di sini bersama keluargamu!”

Tentu, Anda tahu, betapa kagetnya si tukang kayu.

Oh iya, kapan terakhir kalinya Anda (merasa) menerima hadiah? Seperti apa perasaan yang muncul saat itu?

Setiap orang, bebas memilih apa peran yang ingin ia jalani. Setiap pagi, membuka mata dan menyalakan kesadaran, ia boleh memutuskan apa yang akan ia fokus selesaikan. Tentu, semua keputusan kecil itu, berdampak besar dalam hidupnya. Setidaknya untuk sehari itu. Dan, jika kita lebih jeli, aka nada beragam keputusan yang pada akhirnya membelokkan kehidupan kita pada satu jalan besar: kebiasaan dan budaya.

Di tengah arus liar bernama kebiasaan dan budaya itulah, setiap anak manusia menyemprotkan satu keputusan kecilnya. Sedikit demi sedikit, tanpa ia sadari, hingga membesar deras selayaknya kebiasaan harian dalam hidupnya. Maka, kembali menelisik apa niatan yang muncul saat mengambil keputusan, adalah sebuah kesadaran penting dalam hidup tiap manusia.

Dan kaidah “Setiap kita hanya memberi, apa yang kita miliki” selalu terjadi dalam tiap pilihan peran. Menjadi guru, tentu bukan pilihan sederhana. Menjadi pendidik, pasti pilihan sadar yang perlu tanggung jawab utuh: kompetensi, akhlak, dan kejernihan tujuan. Di aspek terakhir inilah, ujung dan mula dari setiap kerja-kerja perwujudan peran kita. Kejernihan tujuan, perlu semakin ditajamkan dan dibeningkan. Menilik si tukang kayu dalam kisah di depan, tentu ada satu cara pandang yang perlu terus kita bersihkan.

Bahwa boleh jadi, sebagai pendidik satu-satunya kata kerja yang terus melekat adalah memberi! Dan ini bukan hal yang enteng. Tapi, dengan alasan cinta, para pendidik saya percaya akan terus memiliki energi untuk memberi. Pasti, cinta itu pun didapatnya dari Yang Maha Pencipta.

Tapi, darimana ia bisa kelihatan begitu tenang dan santai sehingga ringan memberi?

Mungkin, dari kesadaran bahwa “Lho, ini ‘kan hadiah terakhir. Kenapa tidak, kuberikan saja yang terbaik?”

Dengan begitu, bisa jadi para alumni DGSD ini, akan mengalami hal sebaliknya dari yang tukang kayu rasakan saat ia menerima kunci rumah karya terakhirnya. Semoga!

Dan, hanya kepada Allah-lah kita bergantung dan berharap.

Semoga menjariyah!!!

*) ditulis sebagai artikel untuk dimasukkan dalam
“Buku Kenang-kenang Mahasiswa DGSD Angkatan IX, 2014-2015.”

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.