Inspirasi Detik ini

Jika kita tak tahu ke mana hendak pergi, bagaimana kita tahu kapan sampai ke sana? — Rio Purboyo

Akhlak yang Tepat

Posted by
|

Kali ini, saya merasa temukan sesuatu yang baru. Makna mendalam, mengenai pengertian akhlak dan kaitannya dengan ruang dan waktu. Catatan di bawah ini, saya peroleh dari naskah pidato Anis Matta yang berjudul “Seni Menciptakan Karakter Manusia”. Mari kita baca, semoga berguna!

Akhlak, sebagaimana kebaikan, tidak bisa berdiri sendiri. Akhlak yang utama, baru mempunyai makna ketika dinisbatkan kepada ruang dan waktunya. Sebagaimana Allah SWT melukiskan dua karakter orang beriman yang paradoksal:

“asyiddaa-u ‘alal kuffar, ruhamaa-u bainahum.”

“keras terhadap kaum kafir, lembut ke sesama hamba beriman.”

Sifat keras dan lembut, lahir dari satu jiwa yang sama, tetapi tertuju kepada objek yang berbeda, dalam ruang dan waktunya yang berbeda, dan dalam konteks yang juga berbeda. Jiwa yang sama, melahirkan respon yang berbeda, kepada obyek-obyek yang berbeda-beda.

Oleh karena itu, sifat keras tidak bisa serta merta dibilang semata-mata baik atau sebaliknya buruk. Melainkan harus dilihat sesuai dengan obyeknya dakn konteks ruang dan waktunya. Ada saat seseorang harus bersikap keras, dan justru salah jiak bersikap lembut. Sebaliknya pada saaat seseorang harus bersikap lembut, maka akan salah jika bersikap keras. Artinya, akhlak mengacu pada fungsi, sehingga seseorang tidak menjadi baik dengan sendirinya jika karakternya hanya satu, yakni lembut sepanjang masa. Atau sebaliknya, keras terus sepanjang masa. Manusia harus mengatur bagaimana memfungsikan seluruh karakter itu. Manusia beriman yang diinginkan sebagai produk tarbiyah harus mempunyai mekanisme instruksional di dalam dirinya yang akan membantu mengeluarkan sifat-sifat tersebut berdasarkan ruang dan waktunya. Sehingga ketika obyeknya berbeda, makan penyikapannya pun berbeda.

Dalam sejarah Islam, ketika Umar diangkat menjadi khalifah, beliau segera melakukan musyawarah dengan para sahabat dan mendapat masukan dari para sahabat, khususnya Abdurrahman bin Auf, bahwa Umar dinilai berperangai kasar. Mendengar masukan-masukan tersebut, maka dalam teks inagurasi-nya beliau berdoa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku ini kasar, maka lembutkanlah aku.”

Maka Umar pun kemudian dikenal sebagai khalifah yang penuh kelembutan. Sementara sebelumnya, ia adalah pengawal dan pembela Rasulullah yang sangat tegas sesuai dengan “maqam”nya. Setiap kali ada yang menghian atau membahayakan Rasulullah, ia tak ragu-ragu untuk menghunuskan pedangnya. Namun, ketika menjadi khalifah, “maqam”nya itu mengharuskan Umar untuk mempunyai karakter yang lain, maka ia pun berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku ini kasar, maka lembutkanlah aku.” Ada upaya Umar untuk melakukan adaptasi atau penyesuaian karakter seiring perubahan “maqam” atau posisinya.

Sebaliknya, Abu Bakar yang selama ini dikenal sangat lembut, ternyata bisa menjadi tegas dalam situasi-situasi kritis. Seperti di saat Rasululllah SAW wafat, ketika semua sahabat mengalami shock dan bereaksi secara berbeda, Ali tidak bisa bicara, demikian pula Utsman, dan Umar bereaksi keras, “Siapa yang mengatakan Muhammad sudah mati akan kupenggal lehernya.” Maka Abu Bakar yang lembut dan suka menangis mendatangi rumah Rasulullah SAW, membuka kain kafan dan menyadari kenyataan bahwa beliau memang sudah wafat. Beliau pun mencium kening Rasulullah SAW seraya mengatakan “Thibta hayyan wa mayyitan”, kemudian keluar dan membacakan kepada para shabat satu ayat yang sama-sama mereka hafal:

“Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (QS Ali Imran, 3: 144)

Jiwa yang lembut itu, tiba-tiba menjadi sangat tegar. Demikian pula karakter Abu Bakar dalam perang Riddah.

Pemahaman bahwa karakter merupakan fungsi adalah proses yang paling rumit dalam proses pendidikan-pelatihan-dan-pembinaan ini.

Karena nilai kebaikan berhubungan dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu pula, keshalihan dan akhlak yang ada di dalamnya, juga mengandung unsur ketepatan, yakni penempatan sifat pada ruang dan waktu.

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.