Inspirasi Detik ini

Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis; dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum — Mahatma Gandhi

Pendidikan Tiga Generasi

Posted by
|

Ketika orang tua menitipkan pendidikan ananda ke sekolah, sejatinya tugas mendidik, membina, dan memberdayakan adalah tetap tanggung jawab utama mereka. Kesadaran ini, sering pudar saat ananda beranjak hari demi hari, melalui beragam proses pendidikan yang seolah hanya diwakili lembaga formal. Tentunya, ada harapan tertentu mengapa orang tua meniatkan pendidikan ananda di suatu sekolah.

Umumnya orang tua akan merasa puas dan bahagia, jika sekolah tempat putra/i-nya belajar, bisa berhasil:
1. Membuat ananda bisa hidup mapan, dari segi ekonomi.
2. Menjadikan ananda memiliki status sosial yang terhormat.

Maka hari-hari ini, wajar ditemui seorang ayah dengan latar belakang status sosial biasa dan pendidikan sekadar saja, sebut saja pendidikan menengah; dikaruniai anak dengan status sosial yang bagus, mapan finansial, serta berpendidikan cukup. Dalam hal ini, ayah biasa melahirkan anak kaya dan terhormat. Ayah biasa, anak sukses.

Menariknya, fenomena pergeseran mulai terjadi di generasi selanjutnya.

Jika ayah dengan fasilitas yang apa adanya, berupaya menjadikan anaknya sukses dalam ukuran yang diinginkan. Dan keinginan itu dapat terwujud. Kini, giliran sang anak mendapat amanah untuk mendidik cucu.

Jika sang ayah yang kurang berpendidikan, merasa bahagia dengan hasil pendidikan yang ia peroleh. Akankah sang anak, bisa meneruskan keberhasilan sang ayah dengan mendidik sang cucu seberhasil -atau bahkan melebihi- kualitas hidup yang ada pada diri sang anak?

Faktanya, ada seorang ayah biasa, bisa mendidik anak menjadi presiden, direktur, dan semisal yang lainnya.

Yang menimbulkan penasaran, akankah tren perbaikan kualitas hidup itu, bisa berlanjut ke generasi berikutnya?

Untuk mempermudah, kita gunakan ilustrasi angka 1 sampai 10 untuk mewakili skala kualitas hidup. 1 artinya sangat buruk, 10 sangat baik.

Si ayah mungkin di skala 3 dan sang anak karena adanya pendidikan berkualitas, kini berada di skala 7.
Tapi, sayangnya bagi sang cucu, bisa-bisa malah kembali ke skala 3. Dalam kisah nyatanya, malah ada cucu yang kualitas hidupnya terjun bebas jauh di bawah sang ayah. Sebut saja nol, bahkan minus.

Berkat pendidikan, sang ayah kini mendapati seorang anak yang sukses. Tapi, di tangan sang anak, si cucu tidak bisa menyamai bahkan melebihi kualitas hidup yang ada pada diri sang anak.

Bagaimana itu bisa terjadi?
Adakah faktor fasilitas/sumber daya menjadi sebab utama masalah dan solusinya?

Atau, jangan-jangan ada hal lebih esensial yang luput dari perhatian kita, dalam pendidikan?

Ketika kita meyakini dan memaknai pendidikan sebagai eskalator naik perbaikan kualitas hidup, pada dasarnya sang ayah telah memperoleh apa yang ia inginkan. Apa itu? Anak yang hidup mapan dan terhormat. Berhasil, bukan?

Iya, berhasil. Di bagian itu. Tidak, di bagian generasi selanjutnya. Karena, sang ayah tidak mendidik -alias mempersiapkan anaknya untuk bisa melahirkan generasi berikutnya yang seberkualitas dirinya.

Maka, di titik inilah kita perlu melakukan cek ulang atas orientasi dalam pendidikan. Benar, kita bisa berpuas dan berbahagia atas tercapainya tujuan: mendidik demi perbaikan kualitas hidup. Apa pun kualitas hidup yang kita tuju.

Orientasi kita, perlu dipertajam dan diperdalam. Yaitu membuat anak (didik) memiliki kemampuan melahirkan generasi yang lebih berkualitas dari dirinya, agar memiliki kebahagian dan kebermaknaan hidup yang lebih baik.

Maka pasti, ini pekerjaan yang butuh kesungguhan ekstra. Dan kesungguhan itu dimulai dari keluarga, sebagai unit terkecil penyusun bangsa bahkan peradaban. Generasi berkualitas, hanya bisa terlahir dari keluarga berkualitas. Di dalam keluarga berkualitas itu, di bawah kepemimpinan seorang ayah dan pengelolaan seorang ibu, bisa dipastikan ada tiga unsur penjamin kualitas:

1. Seorang lelaki, yang pandai menjadi suami dan pandai menjadi ayah.
2. Seorang wanita, yang pandai menjadi istri dan pandai menjadi ibu.
3. Keduanya bersepakat, untuk berkomitmen menjadikan generasi berikutnya lebih baik.
Bentuk komitmen ini, sedemikian kokohnya hingga menjadi semacam doktrin keluarga, yang tertanam kuat dan terawat dengan baik.

Semoga dengan demikian, kini sang ayah merasa lebih berbahagia dan hidup bermakna, saat berkumpul dengan anak dan cucunya, yang makin berkualitas dari generasi ke generasi. Adakah keberkahan hidup seperti ini, serasa surga sebelum surga?

kakek cucu e1421367706629 Pendidikan Tiga Generasi

Setelah membaca artikel ini, apa yang Anda inginkan terjadi?

(@RioPurboyo, inspired from “morning_memo with ust. Abdul Kadir Baraja”)

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.