Inspirasi Detik ini

Saya yakin, cepat atau lambat, membuka kembali lembaran kilas balik kehidupan, menyisakan harapan dan ketakutan. Berharap-harap agar yang dilakukan bermanfaat tanpa terbatasi usia, dan semakin baik ke depannya. Takut, jangan-jangan yang kemarin itu tidak optimal, dan karenanya menyimpan peluang pertobatan dan perbaikan. — Rio Purboyo

Belajar tentang Pengetahuan

Posted by
|

Dalam epistemologi (ilmu tentang pengetahuan yang menjawab pertanyaan “Bagaimana kita mengetahui tentang apa yang kita tahu?”), salah seorang pemikir Islam, Al Ghazali mengkritik rasionalisme Aristoteles. Rasionalisme merujuk pada penggunaan rasio sebagai alat utama, kalau tak boleh dikatakan satu-satunya, dalam memperoleh pengetahuan. Jadi, dalam pemahaman Yunani klasik, jika kita memulai dengan aksioma yang benar, premis yang benar, titik tolak yang benar, melalui rasio semata, maka kita bisa menyimpulkan alam semesta. Pendapat ini tentu saja tak berlaku di era pemikir modern saat ini, yang mensyaratkan observasi atau eksperimen dalam pengambilan kesimpulan tentang alam semesta.

Pemikiran Al Ghazali tentang epistemologi senafas dengan pendapat ilmuwan modern. Menurut Al Ghazali, kita tak bisa memahami alam hanya dengan rasio semata, tetapi juga harus merujuk pada pengalaman dan pengkabaran dari sumber terpercaya. Para filosof modern mengatakan, logika tak lebih dari permainan simbol. Hanya dengan logika, tak ada makna pada simbol. Pengalamanlah yang memungkinkan kita memberikan makna atas simbol-simbol itu. Jika kita lihat sekeliling, kita akan menemukan banyak hal yang kita tahu dari yang kita kerjakan, bukan yang kita pikirkan.

Selain itu, banyak juga pengetahuan yang kita peroleh dari sumber terpercaya, meskipun kita tidak mengalaminya sendiri. Misalnya, kita tahu bahwa ada Greenland bukan karena kita pernah singgah di sana, tetapi karena informasi dari sumber yang kita yakini kebenarannya. Terlalu rumit membuat aksioma tak terbantahkan untuk meyakini bahwa Greenland itu ada. Namun, logika juga tak bisa diabaikan. Artinya, menurut Al Ghazali, logika, pengalaman, dan rujukan harus seirama. Misalnya, saat di padang pasir, kita melihat ada mata air di depan kita. Tetapi, berdasarkan rasio, dimungkinkan terjadi fatamorgana, apalagi menurut peta juga tidak ada oase, maka penglihatan kita itu menjadi tertolak.

(diambil dari majalah Tarbawi, edisi 288 th 14, 27 Des 2012)

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.