Inspirasi Detik ini

Saya tidak ingin tiba di akhir hidup saya dan menyadari bahwa saya hanya menjalani panjangnya saja. Saya juga ingin menjalani lebarnya. — Diane Ackerman

Belajar Cara Belajar

Posted by
|

Puncak dari keseluruhan karunia cara belajar, hadir bersama kelahiran Rasul pilihan, Muhammad SAW. Beliau diangkat menjadi Rasul dengan awalan yang jelas. Belajar adalah proses membaca berkelanjutan.

“Bacalah”.

Sebagai umat Muhammad, kita patut mensyukuri karunia keislaman ini, karena kita punya warisan sangat kuat dalam tradisi belajar. “Bacalah”, memberi panduan atas perbedaan cara belajar antar generasi. Ini juga yang menjelaskan pertumbuhan yang terus berjalan maju.

Dahulu, Nabi Adam belajar tentang obyek. Begitu pula manusia di masa sesudah itu. Isu utama belajar, pada obyek apa yang dipelajari. Nama-nama, lalu fenomena di balik benda-benda, atau sedikit dari sebagian peristiwa.

Dalam kasus pemindahan singgasana ratu Saba’, di masa Nabi Sulaiman, kita mencatat peristiwa penting dan awal dari cara belajar manusia tentang membedakan soft power dengan hard power. Ifrit dengan kekuatannya. Dan ahli ilmu dengan ilmunya. Perbedaan itu kemudian terus berkembang dari waktu ke waktu, sampai hari ini.

Di masa itu ayah Sulaiman, Nabi Dawud, juga diajari Allah ilmu penting tentang fakta-fakta yang bisa menghasilkan hukum yang berbeda, bila cara menyimpulkannya keliru. Allah berfirman, “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.”

Lalu, kita temui Nabi Musa disuruh Allah untuk belajar bersama Hidir. Nabi Musa belajar dengan cara memahami makna tersembunyi dari realitas yang tak bisa diterima akal selintas. Di tahap ini, manusia belajar untuk mengerti lebih jauh, melampaui batas lovika yang tampak. Ini ilmu lain yang memerlukan kebesaran jiwa dan ketulusan hati. Di balik realitas yang rumit, pasti ada ilmu. Ini pasti lebih sulit dipahami dari apa yang ayah kita dahulu, Adam, pelajari -saat beliau mengingag nama-nama benda.

Sementara Nabi Isa, belajar mentransformasi apa yang beliau tahu dari Allah, tentang prediksi dan informasi yang ada di masyarakat. Ketika Nabi Isa berkata, “Dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”

Ini cara lain belajar, yang menginspirasi model firasat, perkiraan, antisipasi, maupun rancang bangun masa depan. Nabi Isa dengan akurat memberitahu. Sebab beliau diberitahu oleh Yang Maha Tahu. Tetapi itu, ajarkan kita cara belajar lanjutan. Bahwa pengetahuan yang prediktif itu bisa menjadi kekuatan untuk misi-misi penaklukan. Dan, itu bisa kita terjemahkan dalam berbagai bidang dan disiplin ilmu: perencanaan, prakiraan, forecasting, dan segala ilmu tentang antisipasi.

Tapi kita, yang diturunkan kepada kita Rasul terakhir, diajarkan kepada kita bahwa belajar adalah proses dan cara belajar itu sendiri.

belajar bermakna Belajar Cara Belajar

Maka, bentangan belajar kita tidak dibatasi oleh tema, tetapi oleh waktu dan usia. Belajar adalah tentang mengasah perspektif, mendalami makna, dan dengan itu menautkannya kepada iman, kepasrahan, dan rasa kagum atas karunia dan kuasa Allah.

Maka, bersama Islam kita tak akan pernah kehilangan kemampuan unguk memandang obyek, apa saja. Sebab kita adalah generasi yang dilahirkan di era “belajar adalah proses”. Dan bukan, belajar adalah apa obyeknya.

Maka di masa Rasulullah, ada ratusan sahabat yang pakar di berbagai bidang ilmu-ilmu orisinal Islam. Tetapi di abad-abad sesudah itu, Islam juga kaya dengan ilmuwan Muslim di berbagai bidang pengetahuan eksak maupun sosial.

Belajar bagi kita, umat Muhammad, adalah panggilan berkelanjutan, untuk waktu yang tak kenal batas. Juga dengan janji istimewa, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Seterusnya, hingga bumi diakhiri, kita diperintahkan untuk selalu belajar. Dengan senantiasa menemukan cara yang lebih efektif dan berdayaguna. Allah tegaskan, belajar dan berpengetahuan-lah yang menciptakan perbedaan. Firman-Nya, “Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran.”

Adalah karunia yang sangat besar, ketika diajarkan kepada kita cara belajar dan memahami semua realitas yang ada: benda, fakta, dan peristiwa. Itu memberi ruang tak terbatas bagi kita kaum Muslim, untuk terus menjayakan agama kita, di tengah segala temuan baru dari benda-benda baru, peradaban baru, zaman baru, realitas baru, bahkan hingga akhir zaman kelak.

Maka, lingkar arus utama kita bukan apa yang kita pelajari, melainkan seperti apa kita mempelajarinya.
Bukan tentang apa kita belajar, melainkan seperti apa cara kita belajar.

(diambil dari: Majalah Tarbawi, edisi 288 th 14, 27 Des 2012)

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.