Inspirasi Detik ini

Kebanggaan dan percaya diri terbesar adalah bukan karena tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali jatuh. — Confusius

Mempertahankan Perubahan Positif

Posted by
|

Genap sebulan kita menjalani pembekalan-ruhiyah di bulan suci. Pensucian, bisa dimaknai sebagai pencopotan karat dan daki. Pensucian, bisa pula diartikan dengan penguatan perilaku baik. Pensucian, bisa juga dimaksudkan untuk penghiasan diri dengan pembudayaan ihsan.

Jadi, secara pribadi inilah tiga rumpun makna yang coba saya mamah selama Ramadhan.

Penghentian perilaku buruk.
Penguatan perilaku baik.
Dan, pembudayaan ihsan.

Tentu, meneruskan ketiga kebiasaan baru yang sudah tertanam bukanlah hal mudah. Tapi tidak mustahil, melainkan butuh sedikit perjuangan. Dan selalu, perjalanan panjang dimulai dari satu ayunan langkah pertama.

Selintas ide yang dapat saya bagikan di sini, mungkin bisa kita pertimbangkan sebagai upaya sederhana menjaga perubahan positif pasca momentum Ramadhan.

1. Gunakan tindakan kecil sebagai pemicu.
Ingatlah bagaimana dan kapan persisnya, kita mengawali satu kebaikan.

langkah kecil small step 300x225 Mempertahankan Perubahan Positif

Seorang teman bercerita, ia menyadari dirinya lekas membaca Quran dan kemudian betah berinteraksi dengan kitab suci, hanya gara-gara setelah mengambil air wudhu. Segar, rasanya. Jika pun bosan sempat menyerang, dia katakan pada dirinya “Sepuluh menit lagi”.

Kemanjuran tindakan kecil ini, terjadi karena kita merasa hanya menjanjikan hal kecil pada diri sendiri. Dan kemudian berhasil kita penuhi. Yang menarik, ternyata perasaan lega pun muncul. Bersyukurlah, bahwa otak kita memiliki program ketagihan. Dengan memanfaatkan perilaku otak yang ketagihan inilah, kita bisa memanfaatkan saran yang kedua di bawah.

Sebelum sampai ke kiat berikutnya. Saya sarankan, Anda menemukan kembali dua hal selama Ramadhan ini:

* Apa perilaku buruk yang sering Anda hindari.

** Apa perilaku baik yang sering Anda laksanakan.

Nah, supaya kedua hal itu bisa terlaksana otomatis jauh-jauh hari usai Idul Fitri, Anda hanya perlu mengulangi tindakan-tindakan kecil pemicunya.

Berdasar perbincangan dengan beberapa orang, saya tuliskan kebiasaan mereka:

  • sebelum tidur malam, ia selipkan uang “receh” di saku baju untuk bekal sedekah di pagi hari.
  • langsung menuju tempat sholat usai mandi pagi, untuk sholat dhuha 2-4 rokaat; ketimbang benar-benar sengaja menyempatkan waktu yang seringnya malah terlewat karena kesibukan.
  • menempelkan dua jari ke mulut, saat ingin melampiaskan omongan bernuansa emosi negatif. Belakangan, teman ini bercerita, ia tidak lagi lakukan secara fisik, cukup ia bayangkan gerakan menempelkan dua jari ke mulutnya. Sama-sama manjurnya.

Terserah bagaimana dengan kebiasaan (baik) kecil Anda. Yang terpenting, kebaikan kecil yang rutin, ajeg, terjaga keterlaksanaannya; adalah lebih istimewa daripada hanya sekali berbuat baik dan lenyap sesudahnya.

 

Giliran berikutnya, kita membahas pelicin jalan kebaikan. Dengan prinsip kedua ini, banyak orang sengaja ataupun tidak, tercelup dan “ikut-ikutan” melakukan hal-hal tertentu, karena dampak tekanan sosial. Inilah yang perlu kita maksimalkan. Yaitu dengan:

 

2. Memanfaatkan momentum.
Lingkupi diri dengan lingkungan (orang, ide, dan suasana) yang kondusif.

kekuatan momentum 300x225 Mempertahankan Perubahan Positif

Selain otak ketagihan, salah satu keberkahan Ramadhan yang dirasakan luas, adalah kesadaran umum bahwa berbuat kebaikan adalah hal yang biasa. Malah, itu sudah menjadi standar harian. Wajar kita temukan orang baca Quran di atas kendaraan: mobil pribadi, bis, kereta, ataupun pesawat. Bukannya di luar Ramadhan tidak ada. Hanya saja, muncul kesadaran umum karena adanya sebuah momentum, maka Ramadhan menjadikannya sebagai fenomena alamiah yang mendunia.

Seorang sahabat bercerita, seraya heran dan bersyukur sekaligus. Sepulang buka puasa bersama di tempat kerja, putra tetangganya yang beranjak remaja bertanya, “Paklek, ndak tarawih?”

“Oh sudah mas. Tadi di kantor, bareng teman.”

“Pantesan, tadi nggak kelihatan Isya’-an di masjid.” jawab si remaja, sambil berlalu.

Momentum sebagai kehadiran waktu-waktu emas dengan kesepakatan sosial yang tak tertulis, wajib dimanfaatkan. Maka, larut dalam pergiliran berbagai momentum kebaikan perlu terus dipertahankan. Jika perlu, secara pribadi dan keluarga, ciptakanlah momentum berkebaikan. Pagi hari bisa digunakan untuk saling membantu persiapan agenda harian masing-masing anggota keluarga. Sambil beraktivitas, selingi dengan mengulang-ulang hafalan surat/ayat yang disepakati, misalnya. Atau, memperdengarkan bacaan yang sedang dihafalkan. Jika saat sholat dhuhur, atau ashar menjelang; berkirim sms saling mengingatkan untuk banyak berdoa bagi diri dan sesama, adalah hal yang mudah dikerjakan. Terutama menjelang dan ketika berbuka puasa, stok doa yang mungkin sudah dicatat sejak awal Ramadhan, tentu patut untuk dilantunkan.

Prinsip memodifikasi momentum (dan lingkungan), adalah dengan memanfaatkan kesepakatan umum untuk sebuah tujuan yang diinginkan terjadi.

Jika para tenaga penjual, ramai-ramai menawarkan program “borong ludes” berbagai barang justru di akhir-akhir Ramadhan. Ini biasanya karena berangkat dari asumsi adanya pembagian THR. Maka, dengan cara yang sama, kita bisa membalikkan “borong ludes” ini untuk dimensi kebaikan. Tentu, suatu “keluguan” jika ada yang rela kehilangan kesempatan membeli sedan Lexus terbaru yang dibandrol hanya seharga sepeda motor. Betapa di Ramadhan ini, kebaikan sunnah dinilai seperti ibadah wajib. Betapa, pemberi konsumsi berbuka mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa. Si pemberi berpuasa sehari, tapi selayaknya berpahala dua hari puasa. Bayangkan jika terjadi efek pelipat ganda di dalamnya, akan seperti apa “hadiah” bagi para pelakunya.

Sehingga wajarlah, ada sebagian orang yang inginkan Ramadhan tidak hanya sebulan. Tapi lebih dari itu.

Ya saya sih percaya saja, selalu ada yang punya keinginan begitu. Meskipun kemudian, terdengar guyonan yang menyebutkan bahwa motif orang-orang itu supaya THR-nya turun beberapa kali dalam setahun. He he he…

Tapi toh opini demikian, malah menguatkan betapa manjurnya sebuah momentum. Manfaatkanlah.

 

3. Kesadaran diri: memburu surga.

Untuk cara terakhir ini, saya hanya mengingatkan diri sendiri. Pegang teguhlah doa di akhir-akhir Ramadhan, yang sering diulang-ulang.

“Kuberharap Ridho-Mu Ya Allah dan surga, serta kuberlindung dari siksa neraka.”

Rasa harap akan surga dan keridhoan Allah, menumbuhkan tekad untuk terus berbuat kebaikan. Sementara rasa takut akan siksa neraka, menciptakan tekad untuk menjauhi keburukan.

 

Maka, dengan sedikit mendorong diri untuk bertindak baik meskipun kecil, dalam tiap momentum yang tersedia, berbekal kesadaran atas rindu surga dan takut neraka; semoga dengan mengupayakan ketiga panduan praktis ini, dapat mempermudah kita untuk mempertahankan perubahan positif.

doa tahajud 300x246 Mempertahankan Perubahan Positif

Semoga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan di masa-masa yang akan datang. Semoga amal ibadah kita diterima Allah swt. Aamiin.

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.