Inspirasi Detik ini

PERCAYA, keberuntungan itu ada, dekat di sini, senyata bagi yang percaya dan pantas untuknya. — Rio Purboyo

Jebret dan Interupsi

Posted by
|

Hidup di Jaman Serba Jebret

Semalam, Minggu 22 September, mungkin seperti yang juga Anda alami, adalah laga final sepakbola yang mendebarkan. Betapa TimNas U-19, Garuda Muda berhasil memungkasi paceklik juara selama 22 tahun. Dan, Anda tahu juga, kekata “Jebret!” seolah menjadi ikon yang makin akrab di telinga pemirsa. Sudah tidak terhitung berapa kali, sang komentator mengucapkan “Jebret” demi turut menyemangati TimNas Garuda Muda yang diasuh pelatih Indra Sjafri.

Jebret! Sepertinya frase ini bisa mewakili keterkejutan kita. Kita kaget dengan namanya. Kita pun merasa aneh dengan apa arti sebenarnya. Tapi itu tidak masalah, selama kita sama-sama menikmati pertandingan sepakbola yang berlangsung, disertai ucapan “Jebret!” yang turut menyemarakkan suasana.

Hari ini, kita hidup di era informasi yang berlimpah, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika kita ingin mengetahui sesuatu, kita dapat memperoleh akses ke pengetahuan itu hanya dengan menekan beberapa tombol keyboard. Saat ini, remaja dan pemuda berusia di bawah 30 tahun tidak perlu meninggalkan rumah untuk sekedar mencari informasi yang diperlukan. Dengan akses internet yang tersedia, yang makin hari menuju ketersediaan yang lebih murah dan di mana-mana, dunia informasi benar-benar nyaris berada di ujung jari kita.

Ketika teknologi menyediakan kesempatan yang sama dalam hal informasi dan komunikasi, hadir pula tantangan yang baru. Tekanan ini hadir terutama pada kehidupan pribadi dan pekerjaan kita.

Teknologi adalah sarana tambahan bagi kemampuan kita dalam menggapai keinginan atau kebutuhan. Jika kita ingin melakukan sesuatu, teknologi ikut membantu membuatnya terjadi lebih cepat dan lebih murah. Tapi, tidak semua yang kita inginkan mendatangkan manfaat untuk kita. Kita mungkin saja telah mengorbankan kemanfaatan jangka panjang demi keuntuntangan jangka pendek. Sebagai contoh, hiburan. Hiburan tidak melulu berarti permainan atau tontonan; tapi juga segala sesuatu yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan dalam pekerjaan. Bahkan termasuk email atau menjelajahi internet. Terlebih lagi, kita memiliki kemampuan untuk menikmati hiburan nyaris tanpa batas, terus-menerus.

Coba Anda arahkan pandangan sebentar ke wajah realita harian kita. Jebret! Terdengar akrab, mungkin. Jebret, seolah bisa mewakili setiap interupsi yang melintasi pikiran kita. Jebret, bisa juga mewakili ketergesaan kita untuk ingin segera memeriksa apa yang terjadi pada gadget kita. Jebret ialah dorongan tanpa alasan untuk menjelajahi situs-situs baru, tanpa mengerjakan sesuatu yang lebih produktif, yang lebih bermakna. Jebret sebagai bentuk menunda hal yang lebih penting, ingin menjadi majikan saya. Jebret ingin menguasai saya. Bahkan, sampai level tertentu, ia menyatakan filosofinya dengan “Sesuatu di luar sana lebih penting daripada apa yang ada di sini.”

Jebret bentuknya bisa beraneka rupa. Bisa dorongan untuk memeriksa “segala yang terjadi di luar sana”. Adakah email masuk, adakah notifikasi terkini dari akun FB-ku, adakah “colekan” atau “senggolan” di twitter-BBM-WA-ku, hingga adakah percakapan terbaru yang sekiranya menarik dalam berbagai fasilitas komunikasi modern lainnya.

Jika suatu rapat terasa mulai membosankan, saya bisa melayangkan pandangan ke layar gadget, untuk memeriksa email. Jika saya menunggu beberapa menit antrian makanan di sebuah resto, saya akan mengecek lalu lintas percakapan di akun sosial media.

Dan hasilnya? Menjadi semakin sulit bagi saya untuk berkonsentrasi di satu tempat, fokus pada apa yang ada di hadapan. Bisa-bisa, saya kehilangan kemampuan berpikir secara mendalam tentang apa pun yang saya alami. Itu terjadi, karena saya cenderung langsung memenuhi apa yang “Jebret” inginkan dari saya. Saya akan setia pada apa pun yang menghibur saya, saat ini!

 

Atasilah “Jebret” Anda!

 

atasi interupsi e1379916186446 Jebret dan Interupsi

 

Karya Neil Postman, “Amusing Ourselves to Death” pada 1985, makin relevan hari ini. Karena kita selalu mendapatkan informasi apa pun yang kita inginkan. Postman berpendapat bahwa ketergantungan terhadap televisi merusak kemampuan kita untuk berpikir dan terlibat mendalam terhadap masalah sosial yang penting. Tapi hari ini, dengan memakai smartphone, netbook, dan komputer tablet, kita terhubung 24 jam sepekan ke segala sesuatu yang kita inginkan. Kita berada dalam kondisi yang terus-menerus mengalami gangguan (interupsi, distraksi, dan sejenisnya).

Tuntutan pekerjaan membuat kita merasa kesulitan berada pada satu tempat di setiap saat. Kita merasakan tekanan karena banyaknya email di kotak masuk, serangan notifikasi, serbuan pesan, atau bahkan kita pernah berhenti sejenak saat kita mengerjakan bahan presentasi untuk sekedar memeriksa SMS dalam telepon kita.

Jebret seperti itu, secara perlahan mengurangi efektivitas kita dalam kehidupan: pribadi, keluarga, dan karier. Dan agar tetap dapat hidup dengan kualitas lebih baik, kita perlu belajar memperhatikan apa yang sedang kita hadapi. Dan kemudian mengembangkan kemampuan untuk tetap berfokus pada tujuan kita.

Kita tidak perlu menyingkirkan teknologi, kita hanya perlu memakainya dengan cara yang tepat. Yakni cara yang dapat meningkatkan kemampuan kita menyelesaikan tugas-tugas penting. Mulailah dari menyusun prioritas tertinggi dalam satuan harian dan pekanan, lalu mengerjakannya hingga tuntas. Cara ini jauh lebih baik, daripada selalu hidup dalam kondisi memperhatikan banyak hal secara terpisah, terus-menerus. Kita tidak dapat menghasilkan karya terbaik  dan bermutu tinggi, jika kita membiarkan “interupsi” Jebret, mengatur hidup kita.

Kiat:
  1. Dalam sepekan ini, tentukan kapan dan di manakah Anda dapat menemukan “Jebret” dalam hidup Anda?
  2. Apakah Anda mengalami kesulitan mempertahankan fokus terhadap apa yang ada di hadapan Anda, karena selalu mencari hal lebih menarik di luar sana? Jika ya, jawab pertanyaan no (3).
  3. Buatlah beberapa jalan keluar, sebagai solusi yang Anda pikir dapat mengurangi beban “Jebret” di no (2).

 

Catatan:

Ada beberapa cara untuk membuat Anda fokus pada pekerjaan. Seperti meninggalkan samrtphone di ruangan berbeda dari tempat saat Anda rapat, hanya terhubung email pada waktu yang sudah ditentukan, atau menciptakan satu kurun waktu khusus untuk “menghibur diri”.

Jika suatu pendekatan membuat Anda sedikit cemas hanya karena telah memikirkannya saja, cara itu berarti sudah memasukkan Anda di jalur yang benar. ^_^

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.