Inspirasi Detik ini

Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak, dan jarang menghampiri penakut yang tidak berani mengambil konsekuensi — Jawaharlal Nehru

Mengisengi Penangsang

Posted by
|

Saat mempraktikkan “Psikologi Kinerja dan Strategi”, kita bisa dengan sangat mudah meneladani kepiawaian seseorang. Entah apa yang hendak kaupelajari dari keahliannya. Yang pasti, akan sangat jelas kautemukan, betapa kemahiran seseorang itu lahir tidak tiba-tiba. Pasti ada prosesnya. Tentu ada ceritanya. Mesti ada kesesuaian atas kondisi pribadi di dalamnya.

Meneladani kepiawaian, tidak serta merta membuat si peniru lekas mahir seahli yang ditiru. Sang modeler, alias si peniru, perlu memahami tiga hal yang sering dijadikan kunci dalam proses myelin-isasi kemahiran. Myelin-isasi itu sendiri, berlangsung dalam tiga tahapan yang selaras.

Ketika kubuka perlahan-lahan lembaran novel (serial) “Penangsang”, kutemukan satu per satu apa yang dapat kucocokkan dengan proses meneladani seorang penulis novel. Asal tahu saja, si penulis, yakni “Nassirun Purwokartun” lebih dulu kukenal sebagai seorang kartunis, ketimbang penulis. Apalagi penulis novel, jauh banget deh dari bayangan semula. Tapi, sembari kutelisik “32 halaman kisah di belakang penulisan novel Penangsang”, kulebih mengerti proses apa yang sejatinya terjadi pada seorang Nassirun Purwokartun, yang secara pribadi kupanggil dengan sebutan #pakDhe itu.

Mengapa kuperlu sampai meneliti proses penulisan seseorang? Hingga menyediakan waktu yang agak lumayan, untuk menelisik yang terjadi dalam diri seorang Nassirun, di tengah gempuran detlen pengerjaan 6 modul dan 1 model pelatihan yang diamanahkan padaku. Apa kira-kira hasilnya akan sepadan dengan apa yang sudah dilakukan? Mungkin begitu kecamuk yang sempat terlintas di awal petualanganku, “menjinakkan” myelin pribadi atas sebuah novel berjudul Penangsang.

Ternyata, perjalananku membersamai Penangsang selama sepekan kemarin, sedikit membuahkan cahaya terang. Kok sedikit? Ya emang, karena yang proses menelitinya juga lambaat. Teramat pelan bahkan, karena sembari ingin mengunyah isi dan gaya penulisan yang tertera dalam ratusan lembar novel itu.

Merujuk pada hasil penelitian di bidang “Psikologi Kinerja dan Strategi”, yang sempat kugoreskan di atas. Ada tiga poin penting untuk meng-copy-paste sebuah kemahiran. Ingat lho ya, copy-paste, bukan hanya meng-copy tanpa mampu mem-paste. Supaya kemahiran dapat digandakan, seperti dimasukkan ke mesin fotokopi, tentu sebelumnya perlu kita buatkan cetak-birunya.  Nah, cetak biru itu, tersusun atas tiga poin. Yakni 3 S.

 

1) State

Kondisi pribadi: bisa kondisi jiwa, bisa perasaan dan pikiran yang menyelimuti dirinya, bisa juga niatan yang dominan mewarnai sikap si pelaku.

 

2) Story

Apa persisnya makna, atau pengertian, atau seperangkat keyakinan-dan-nilai yang pelaku ceritakan berulang-ulang dia sampaikan ke diri sendiri.

 

3) Strategy

Urutan proses pengerjaan. Dari sejak ia memicu garis-waktu-untuk-mulai bekerja, saat ia bekerja, saat ia menjalani maju-mundurnya proses dan caranya memaknai umpan balik dari pekerjaannya.

Seorang modeler (peniru) yang lebih mahir, biasanya melakukan proses “cracking” alias pembedahan dengan melakukan beberapa pilihan cara. Ada wawancara secara tatap muka, ada observasi saat kejadian yang berkesesuaian, ada juga bedah pemikiran dan perasaan. Berhubung aku belum pernah bertemu fisik dengan pakDhe Nassirun, maka kupilih “cracking” melalui bacaan hasil karya tulisnya. Bisa jadi, apa-apa yang kutuliskan di bawah ini, sebagai hasil pembedahan keteladanan, tidak dapat dijamin 100% akurat. Tidak bisa juga dipastikan, bahwa yang kutuliskan di bawah ini, dapat serta merta dipraktikkan dalam meneladani proses kepenulisan ala pakDhe Nassirun.

Setidaknya, kuberupaya lewat tulisan sederhana ini, berbagi pengalaman membedah kepiawaian seseorang. Siapa tahu, ada yang tertarik turut menyelami. Syukur-syukur, jika dapat menggerakkan tangan dan pikiran seseorang, untuk ikut membahas novel Penangsang ini.

Jadi, dalam amatanku yang pemula ini. Kutemukan beberapa hal sebagai berikut.

 

1) State

Tanya:
Apa -perasaan dan pola pikir- yang menjadi simpul utama seseorang dalam mengerjakan kepiawaiannya?

Jawab:
Kalau Anda menyimak dengan seksama, dalam novel Penangsang penulis berterus terang bahwa ia mulai merasa penasaran atas kisah hidup Penangsang semenjak ia menyaksikan pagelaran Ketoprak Tobong. Kita dapat mencatat beberapa kata kunci penting di sini.

Yakni:

a) penasaran, ketertarikan yang amat kuat.

b) keinginan mendalam untuk menguak kisah hidup Penangsang. Boleh jadi ada kebenaran yang ingin ditemukan dan dibuka kembali, atau jika menggunakan istilah di Century -dibuka sejelas-jelasnya, agar terang benderang-.

c) ketidakpercayaan begitu saja, atas kisah yang beredar mengenai Penangsang yang seorang murid dari Sunan Muria. Ketidakpercayaan ini, dalam hal tertentu melonjak menjadi ketidakrelaan atas tulisan sejarah penulis, terutama atas “Babad Tanah Jawi”. Dalam versi lain, penulis sepertinya ingin menunjukkan pembelaan atas sejarah Penangsang yang beliau asumsikan selama ini telah diselewengkan oleh penguasa saat itu.

d) Baiklah, sampai di sini, bisakah Anda turut merasakan apa-apa yang penulis novel Penangsang ini rasakan dan pikirkan, ketika ia menulis?

Belum lagi, saat Anda menemukan jawaban pertanyaan #d; bisakah Anda memasukkan catatan tambahan bahwa perasaan itu (a, b, c) berkecamuk dan berproses selama hampir 20-an tahun dalam diri penulis?

Sembari Anda memproses jawaban pertanyaan di atas. Kini gilirannya, kita berpindah ke poin berikutnya.

 

2) Story

Bayangkan saja, diri Anda seorang bocah berusia di bawah 6 tahun, menyaksikan Ketoprak Tobong yang berbulan-bulan manggung di desa Anda. Bagi yang ndak akrab dengan istilah Ketoprak Tobong, bisa Anda cari di mbah gugel atau paklek wikipedia. Penulis menyadari, betapa Ketoprak Tobong telah menjejakkan ingatan yang mendalam atas sejarah Penangsang dalam dirinya. Ingatan itu, lebih membekas daripada pelajaran sejarah yang pernah beliau peroleh. Memori itu jauh lebih menancap, dalam hal ini berdasarkan pengalaman pribadi dan penelitian ilmiah yang valid, disebabkan karena keterlibatan multi-indrawi yang merangsek masuk dalam diri penulis. Lebih jauh, pengalaman sensorik yang berwarna-warni itu, bercampur kental dengan aspek perasaan seperti yang tercantum pada poin (1) di atas. Tepatlah kiranya, jika itu semua melekat erat dalam diri penulis.

Lebih jauh, penulis pun berusaha mencerna pengalaman masa kecilnya itu menjadi serangkaian perjalanan hidup yang seringnya berputar di pusaran Penangsang. Dugaan saya, itu terjadi karena adanya daya ledak berupa “dendam pribadi” yang belum tuntas. Hingga akhirnya berproses meledak dalam penulisan novel Penangsang ini.

Tentu akan sangat menarik sekiranya penulis mau bercerita lebih luas, bagaimana kemudian beliau mengelola diri dan keluarganya, dalam pencarian yang hampir-hampir tiada putus mengenai Penangsang. Ini penting, karena bekal inilah yang menjadi salah satu bahan bakar agar kita mampu melewati tiap tahapan strategi di poin ke (3) nanti. Sebelum membahas itu, Di poin (2) ini, kita juga dapat mengupas pertanyaan:

 

a) Tanya: Pengertian apa yang penulis coba bangun dan ciptakan bagi dirinya sendiri, setiap kali menulis novel Penangsang?

Jawab: Dugaanku, berdasar menelisik dari uraian kalimat yang ada, penulis berupaya memaknai kisah hidup Penangsang, kerajaan Demak, dan sejarah yang terjadi saat itu; dari kacamata “seorang penulis, muslim, pengagum Wali (wali-sanga atau di novel disebut sebagai Waliyyul Amri), dan identitas sebagai orang Jawa Tengah yang dekat dengan budaya Jawa”.

 

b) Tanya: Apa, kira-kira saja, tujuan akhir dari cerita yang hendak penulis sajikan?

Jawab: Ada dua opsi dugaan. Satu, jawaban sederhana seperti yang penulis sendiri akui. Yakni, novel ini ditujukan sebagai pengantar tidur bagi kedua momongannya. Dua, penulis pun berharap, mungkin saja dengan keberadaan novel ini, kita lebih sadar atas “pembelokan” sejarah Penangsang yang selama ini mungkin umum kita temukan. Simak saja petikan kalimat “Penangsang bukan pemberontak!”, yang juga penulis amini sebagai salah satu penggalan sejarah penting, yang ternyata dibuatsalahmengertikan oleh penguasa saat ini. Joko Tingkir, maksudnya.

Seandainya saja, Anda bisa menyambungkan kata kunci identitas dan sistem keyakinan penulis, seperti di atas, sungguh dapat dengan mudah kita mengenali corak kisah yang sering penulis ulangi pada dirinya.

Dengan begitu, maka di level pikiran dan perasaan kita mendapatkan “cetak biru” dari “sosok penulis” ini, berupa semua pertanyaan dan jawaban di poin (1). Dan kita juga bisa menemukan hubungan dari cerita pribadi dan tujuan penulis dalam novelnya, di poin (2).

 

Adapun sekarang, kita bisa bergeser perlahan ke poin (3), di mana kita membahas…

 

(3) Strategy

Seperti memasak, menulis pun ada rangkaian prosesnya. Selain menyiapkan bumbu, peralatan masak, tentu tak ketinggalan ialah tahap demi tahap memasak itu sendiri. Sejak dari menyalakan kompor hingga menyajikannya ke atas piring. Kukira, menulis juga begitu.

Hanya sedikit yang dapat kutuliskan di poin ini. Karena yang kutahu, penulis punya gaya menulisnya sendiri. Penulis juga menyebut telah berkunjung ke berbagai wilayah yang perlu ia kunjungi, terkait dengan petualangan seputar Penangsang. Tak lupa, penulis menyatakan betapa banyak sumber yang ia rujuk dalam novel (serial) Penangsang ini. Sumber itu, selain lokasi, ada yang berupa: “Karya tulis jawa-kuno”, penuturan orang-orang yang berkesesuaian (petinggi di keraton, juru kunci makam, warga desa tertentu, dkk), buku-buku yang beraneka jenis dan judulnya. Saking bejibunnya referensi yang penulis himpun dan gunakan, bisa-bisa penulis kunobatkan sebagai “Dosen Sejarah Islam di Nusantara”. Itu pun kalau beliau ndak keberatan, maklum, ke mana-mana pakDhe Nass ini menyebut dirinya hanya alumni TK Pertiwi.

 

Ah, rupa-rupanya keisenganku membedah “behind the scene” novel Penangsang dari sisi “Psikologi Kinerja dan Strategi” ini, perlu kuhentikan sampai di sini. Kutinggalkan Anda, pembaca ulasan iseng ini, untuk menyelami sendiri, apa-apa yang sudah kurasakan dari membaca novel Penangsang.

 

Sekiranya ada ketepatan dari keisengan ini, anggap sajalah “keberuntungan pemula”. He he he. Selamat bermalam minggu.

Saatnya kini, saya berpindah untuk menyelesaikan persiapan training esok hari (Ahad, 8 Sept) dan TOT (Training of Trainer) untuk pekan depannya.

Semoga berguna

- – -

“Membaca sejarah, mengeja arah, dan menafsir langkah”, begitu pesan pakDhe Nassirun.

 

penangsang novel nassirun purwokartun 300x225 Mengisengi Penangsang

Comments

  1. dwi wahyudi

    July 3, 2014

    Sippp… lanjutkan tulisannya. izin Copy gambarnya…

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.