Inspirasi Detik ini

Anda takdapat menemukan samudra baru, kecuali Anda berani kehilangan pandangan terhadap daratan. — Ferdinan Magellan

Akhlak

Posted by
|

Bagaimana menilai akhlak?

 

Pembahasan yang mendalam tentang akhlak selalu mengharuskan kita menjawab pertanyaan mendasar ini, “Bagaimana membuat penilaian atas akhlak bahwa ia benar atau salah, bahwa ia baik atau buruk, bahwa yang ini sholih dan itu yang tidak sholih?”

Karena penilaian ini akan mengantar kita mengambil keputusan tentang seseorang bahwa sholih atau tidak sholih, matang atau tidak matang, dewasa atau tidak dewasa, diterima atau tidak diterima.

Dengan kata lain, bertanya tentang bagaimana menilai berarti bertanya tentang sumber pembenaran atas suatu perbuatan. Darimanakah kita menemukan sumber pembenaran itu? Dari Allah atau dari manusia? Atau, dari kedua-duanya?

Para filosof sepanjang sejarah pemikiran umat manusia, seperti sepakat membagi nilai-nilai itu ke dalam tiga kategori yang masing-masing mempunyai padanan berlawanan:

Nilai-nilai Kebenaran X Nilai-nilai Kebatilan

Nilai-nilai Kebaikan X Nilai-nilai Kejahatan

Nilai-nilai Keindahan X Nilai-nilai Keburukan

 

Islam sendiri memang meletakkan nilai-nilai moralnya dalam ketiga konteks itu tadi. Lalu dalam diri manusia ada: Akal yang dapat memahami nilai-nilai kebenaran dan kebatilan;Hati (dasar fitrah dan nurani) yang dapat membedakan antara nilai-nilai kebaikan dan kejahatan; dan Dzauq (citarasa) yang dapat merasakan nilai-nilai keindahan dan keburukan.

Tapi, kemampuan akal, hati, dan dzauq manusia memberikan penilaian atas suatu akhlak dengan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memiliki beberapa spesifikasi:

  • Penilaian manusia selalu bersifat umum, terbuka namun tidak definitif dan rinci. Manusia dapat mengatakan dengan kesepakatan bahwa adil itu baik. Tapi manusia selalu berbeda antara sesama mereka saat menentukan definisi tentang apa itu adil. Tentang perbuatan-perbuatan apa saja yang dikatakan adil.
  • Penilaian manusia sangat dipengaruhi oleh pertarungan antara nilai-nilai itu sendiri dalam dirinya, karena ada unsur hawa nafsu, syahwat, dan tekanan lingkungan. Maka penyimpangan akal bisa membuat manusia mengganggap kebatilan sebagai kebenaran; penyimpangan fitrah bisa membuat manusia melihat kejahatan sebagai kebaikan; penyimpangan citarasa bisa membuat manusia menilai keburukan sebagai keindahan.

Jadi kemungkinan terjadinya absurditas dalam penetapan nilai sangat mungkin terjadi di kalangan manusia. Untuk itulah Allah menurunkan agama agar manusia mendapatkan pedoman yang lebih rinci dalam penilaian. Sehingga bertemulah dua sumber pembenaran itu:

  • Allah swt melalui Quran dan Hadist.
  • Manusia dengan akal sehatnya, fitrah sucinya, dan citarasa keindahannya.

timbangan Akhlak

 

Lalu, apa kriteria penerimaannya?

Lalu, apa kriteria penerimaan akhlak yang disebut sholih itu? Dengan memahami penjelasan di atas, kriteria Islam berikut ini mudah dipahami. Yaitu bahwa perbuatan itu dilakukan dengan motif (niat) semata-mata untuk Allah swt dan dilakukan dengan cara yang benar sesuai dengan sunnah RasululLah saw. Sehingga perbuatan bukan saja diterima di sisi Allah, tetapi juga sukses dalam ukuran manusia; bukan saja mengantar pelakunya memperoleh keselamatan di akhirat, tapi juga memperoleh kebahagiaan di dunia.

 

 

Kriteria tadi dapat dijelaskan dengan cara yang lebih mudah dan ringkas, dalam skema berikut ini:

Niat + Amal

Ikhlas untuk Allah + Benar menurut Sunnah

Diterima di sisi Allah + Sukses di mata manusia

Selamat di akhirat + Bahagia di dunia

Dan inilah letak perbedaan mendasar antara Islam dengan materialisme.

 

Dalam konsep materialisme, manusia adalah pusat penilaian dan penerimaan sekaligus. Karena masyarakat merupakan suatu yang relatif, maka penilaian dan penerimaan itu berpusat pada individu. Dan apa yang menentukan dalam diri individu kemudian adalah kebahagiaannya sendiri.

Maka penilaian dalam budaya materialisme, menjadi seperti ini:

“Suatu perbuatan dianggap baik dan benar, jika ketika manusia melakukannya, ia mendapatkan kepuasan dan ia bahagia dengan kepuasan itu, serta tidak merugikan orang lain. Bahwa kemudian masyarakat setuju atau tidak setuju, menerima atau tidak menerima, itu semua menjadi tidak relevan dan tidak penting lagi bagi sang individu.”

 

(sumber: Membentuk Karakter Muslim, oleh: Muh.AM)

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.