Inspirasi Detik ini

Anda tidak dapat melarikan diri dari tanggung jawab hari esok dengan menghindari hari ini. — Abraham Lincoln

Pelajaran Manajemen Qurani: Nabi Sulaiman dan Hud-hud

Posted by
|

“Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan adzab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini, Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.” (QS An Naml, 27: 20-23)

 

Dalam konsep kepemimpinan Islam, disebutkan fungsi dan tugas seorang pemimpin adalah:

  • Membantu mewujudkan sasaran organisasi
  • Selalu menggerakkan organisasi menuju sasaran itu
  • Mewujudkan interaksi dan keterikatan antar individu
  • Memelihara kekuatan dan kohesi organisasi

Kisah Nabi Sulaiman as dan burung hud-hud pada ayat di atas, adalah wujud pelaksanaan fungsi dan tugas kepemimpinan yang efektif. Beliau melakukan kontrol terhadap tentara (pasukan burung), memastikan bahwa segala arahan dan perintah ditunaikan dengan baik. Beliau mengevaluasi kerja pasukannya dan segera menuntaskan persoalan serta memberi penghargaan atas prestasi yang dicapai. Ciri-ciri yang disebutkan di atas, ialah tanda-tanda manajemen modern.

Kontrol seorang pemimpin bagi laju perjalanan sebuah organisasi merupakan hal penting. Ketika pemimpin melalaikan sistem kontrol maka sangat dimungkinkan kelalaian dalam pekerjaan akan meningkat, karena pekerjaan itu dimotivasi oleh dua hal:

  1. Hati nurani yang selalu sadar
  2. Pemimpin yang memberi kontrol

Jika seorang pemimpin melalaikan sistem kontrol, maka pelaksanaan tugas hanya bersandar pada hati nurani. Dan biasanya, arus kelalaian ini sering mengalahkan kesadaran hati nurani.

Pada salah satu adegan dari ayat di atas, Nabi Sulaiman membatalkan sanksi kepada burung hud-hud. Meskipun pelanggaran yang dilakukan oleh hud-hud cukup berat, pergi tanpa izin dari pimpinan, tapi ada prestasi luar biasa yang ditorehkan oleh burung itu, sehingga menutup kesalahannya. Hud-hud memiliki informasi yang sangat berguna bagi tujuan dakwah Nabi Sulaiman.

Selanjutnya, di bawah ini 3+1 poin penting berkenaan pelajaran manajemen yang dapat kita gali dari kisah Nabi Sulaiman dan burung hud-hud:

 

Pertama, perhatian seorang pimpinan

“Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia tidak hadir?”, demikian pertanyaan Nabi Sulaiman. Pertanyaan itu beliau sampaikan setelah terlebih dulu melakukan inspeksi semua pasukan yang berada di bawah kepemimpinannya. Pelajaran menarik dari kisah ini, adalah penting bagi seorang pemimpin memberikan perhatian kepada orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Ia mengetahui siapa yang hadir dan yang tidak, terutama orang-orang kunci yang langsung berada di bawah komandonya.

 

Kedua, sanksi yang ditetapkan sesuai dengan kadar kesalahan

Penghargaan dan penghukuman dalam manajemen memiliki arti dan dampak penting. Dalam praktiknya, banyak ragam dan cara yang dapat pemimpin terapkan. Ada pemimpin yang gemar mengumbar ancaman sanksi bagi siapa saja yang melanggar, menciptakan rasa takut pada diri anggota atau bawahan atau karyawannya. Ada juga yang terbiasa menjanjikan reward materi guna memotivasi orang-orang yang berada dalam tanggung jawabnya.

Nabi Sulaiman as memiliki cara tersendiri dalam menerapkan sanksi. Putra Nabi Daud itu menjadikan punishment sebagai instrumen menghadapi pelanggaran yang terjadi dalam institusinya. Beliau menerapkan sanksi itu secara obyektif, adil, dan hikmah. Obyektivitas dan keadilanya, dapat kita lihat pada hal-hal berikut:

  1. Nabi Sulaiman tidak membiarkan masing-masing individu berjalan sendiri tanpa ada pertanggungjawaban atas apa yang ia lakukan.
  2. Nabi Sulaiman tidak menentukan sanksi apa yang akan dijatuhkan sebelum memastikan bahwa burung hud-hud benar-benar tidak hadir. “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?” Setelah dipastikan ketidakhadiran hud-hud, diputuskanlah sanksi dan hukumannya.
  3. Ada alternatif sanksi yang akan dijatuhkan, tergantung tingkat pelanggaran. Yang paling keras adalah “sembelih” dan yang paling ringan adalah siksa yang keras. Dan seandainya hud-hud mampu menyampaikan alasan ketidakhadirannya secara rasional, maka ia bisa terbesa dari sanksi.
  4. Bahwa sikap emosional tidak boleh mengalahkan akal. Dan, kemarahan tidak boleh menutupi keadilan. Adalah sangat bijaksana ketika Anda mendengarkan lebih dahulu dan melihat kondisi yang bersangkutan, sebelum menjatuhkan sanksi atasnya.
  5. Sanksi ditetapkan berdasarkan pada besar dan kecilnya pelanggaran. Bila ketidakhadiran hud-hud karena pembangkangan, maka hukuman yang tepat adalah sembelih. Tapi, bila ketidakhadiran itu karena kemalasan maka cukup denga hukuman yang keras. Dan, kadang sanksi yang ditetapkan itu didasarkan pada berulang atau tidaknya pelanggaran suatu aturan.
  6. Hendaknya ada aturan tertulis yang diketahui oleh semua pihak dalam institusi atau organisasi. Aturan tertulis itu mampu menjelaskan hak dan kewajiban, termasuk di dalamnya tentang reward and punishment.
  7. Diperlukan sikap obyektif, bahwa setiap orang tidak bersalah sehingga dipastikan adanya bukti yang menunjukkan keslahannya. Dan, adanya kesempatan bagi yang dinyatakan bersalah untuk menyampaikan pembelaannya. Ketika Nabi Sulaiman memberi kesempatan kepada hud-hud untuk menyampaikan pembelaannya, maka burung itu berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.”

Obyektivitas dapat kita lakukan dengan cara memisahkan antara seorang pelaku dengan kesalahannya. Ketika seorang pimpinan merespon bawahan yang bersalah dengan mengatakan, “Kamu bersalah”, kalimat itu memiliki pengaruh yang jauh berbeda jika respon itu berbunyi “Perbuatan ini salah atau keliru.”Ungkapan pertama lebih mengarah kepada pribadi pelaku, yang kadang dipengaruhi oleh subyektivitas. Sementara ungkapan kedua lebih menekankan kepada kesalahannya (obyek, perilakunya).

Inilah yang Allah swt ajarkan kepada Nabi Muhammad saw dalam menyikapi orang-orang yang bersalah. Allah berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Asy Syu’ara, 26: 215-216)

Ingatlah kembali, betapa Allah mendidik Nabi Muhammad dalam kalimat “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”, bukannya kalimat seperti ini “Aku tidak bertanggung jawab terhadap dirimu”.

 

Ketiga, format laporan dan cara presentasi

Sebuah laporan, baik lisan maupun tulisan, selalu memuat informasi dan data yang berguna bagi proses pengambilan keputusan atau kebijakan. Laporan yang baik memiliki ciri keserasian antar bagian-bagiannya, ringkas tapi padat, lengkap, jelas dalam kata-kata dan kalimatnya, serta tidak berbelit-belit.

Sebuah laporan biasanya terdiri dari: pembukaan, inti, penutup, dan rekomendasi. Sungguh menarik untuk kita teliti laporan yang disajikan burung hud-hud kepada Nabi Sulaiman as. Ada pembukaan yang menjadi pengantar isi yang akan disampaikan, yaitu “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.”

Pengantar presentasi ini, menarik perhatian bagi yang mendengarnya. Serta mampu menciptakan rasa penasaran bagi teman bicara. Bahwa ada berita penting yang akan disampaikan yang hanya diketahui oleh pembawa laporan, hud-hud. Pembukaan ini juga memberikan gambaran umum tentang isi, yaitu tentang Saba serta sifat dari berita yang akan disampaikan, berita penting yang nyata dan benar.

Adapun isi laporan, memuat informasi dan data yang cukup lengkap sehingga para pendengar atau pembaca laporan memiliki gambaran yang utuh terhadap isi. Bahwa isi laporan yang disampaikan oleh hud-hud mengandung hal-hal berikut:

  1. Sistem pemerintahan Saba’
  2. Potensi ekonomi
  3. Sistem sosial dan posisi perempuan dalan sistem itu
  4. Kemajuan peradaban dan teknologi industri
  5. Akidah dan agama yang dianut serta penghayatan penduduknya kepada agama itu.

Allah berfirman, “Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu, serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk.” (QS An Naml, 27: 23-24)

Di akhir laporannya, hud-hud menyampaikan rekomendasi yang patut dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Hud-hud berkata, “agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai Arasy yang besar.” (QS An Naml, 27: 25-25)

 

Terakhir, kebijakan dan keputusan berdasarkan data

Suatu kebijakan atau keputusan akan bernilai bila berdasarkan pada data-data yang konkrit, apalagi bila yang diambil adalah kebijakan atau keputusan strategis. Suatu kebijakan tidak akan bernilai strategis seandainya tidak berlandaskan pada data dan informasi yang akurat atau valid. Karena itu, meskipun telah mendengar laporan dari hud-hud, Nabi Sulaiman mengatakan, “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS An Naml, 27: 27)

Bagi Nabi Sulaiman, apa yang disampaikan hud-hud adalah baru sebatas asumsi yang relatif, mengandung kemungkinan benar atau salah, dengan demikian tidak dapat dijadikan sebagai dasar untuk pengambilan kebijakan atau keputusan. Perlu langkah-langkah lanjutan untuk menguji kebenarannya. Kata Nabi Sulaiman, “Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.: (QS An Naml, 27: 28)

 

Demikian. Burung hud-hud telah menjadi saksi sejarah, sekaligus mengajarkan kepada kita perihal manajemen. Yakni peran yang diemban setiap anggota atau rakyat, meliputi keyakinan yang jernih dan pemahaman yang utuh pada visi organisasi. Ia pun mengikutsertakan pula amal ikhlas dan kesungguhan dalam merealisasikan visi bersama.

Adapun dari sisi kepemimpinan, kita dapat mempelajari sifat-sifat dasar yang mutlak ada  bagi seorang pemimpin: perhatian, kesadaran organisasional, empati, dan keadilan dalam bersikap.

Semoga berguna, selamat memimpin dan dipimpin.

NB) Salam cinta, hormat, dan penghargaan yang tinggi, kepada penyusun buku rujukan artikel ini, seorang dosen FE UIN Malang. Ialah, KH. Ahmad Djalaluddin, LC, MA., dengan karya beliau “Manajemen Qurani: Menerjemahkan Idarah Ilahiyah dalam Kehidupan Insaniyah”.

 

Comments

  1. sumarno

    July 19, 2013

    semoga dirikita mampu mengambil pelajaran…

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.