Inspirasi Detik ini

Menulis -bahkan dengan buku saku kecil pun- ialah kebiasaan “kecil” yang efektif dan praktis dalam melejitkan kualitas bakat menuju kepakaran. Dengannya kita bisa melatih diri kita untuk tulis+produksi+revisi apa pun lintasan pikiran yang ada. Di dalamnya kita merefleksikan gagasan kita, entah sebagai pemilik, pengguna, pengedar, atau pun pengamat. — Rio Purboyo

Pembentukan Perilaku Manusia

Posted by
|

Dua bentuk perilaku

Tindakan manusia biasanya dibagi ke dalam dua kelompok; tindakan sadar dan tindakan tidak sadar. Tindakan sadar berarti bahwa manusia melakukan suatu tindakan dengan unsur kehendak atau motif. Sedang tindakan tidak sadar tidak mengandung unsur kehendak, misalnya karena hilangnya suatu faktor yang melahirkan perilaku, seperti akal (dalam keadaan gila, tidur) atau situasi refleks di luar kemampuan mengendalikan diri yang biasanya disebut ketidaksengajaan.

Dari kedua bentuk perilaku itu hanya tindakan sadar yang masuk ke dalam wilayah pertanggungjawaban manusia di depan Allah swt. Dan karenanya, perilaku inilah yang biasanya juga menjadi wilayah pembahasan tentang akhlak dan kepribadian.

 

Faktor-faktor pembentuk perilaku

Faktor apa sajakah yang membentuk perilaku sadar kita? Renungan yang mendalam tentang masalah ini akan mengantar kita menemukan dua faktor utama: pertama, faktor internal; kedua, faktor eksternal.

Faktor internal adalah kumpulan dari unsur-unsur kepribadian yang secara simultan mempengaruhi perilaku manusia. Yaitu:

  • Instink Biologis; seperti lapar mendorong manusia untuk makan dan minum, nafsu seks mendorong manusia melakukan hubungan seksual. Sebenarnya, makan, minum, dan hubungan seksual tidak dengan sendirinya disebut dalam kategori perilaku apalagi akhlak. Tapi cara manusia memenuhi kebutuhan itulah yang terkait secara langsung dengan perilakunya. Maka dorongan makan yang berlebihan mungkin melahirkan sifat rakus. Jika dorongan yang berlebihan itu berlangsung lama dan terus menerus menimbulkan sifat rakus, maka sifat rakus tersebut akan menjadi perilaku tetapnya. Dan itulah yang disebut akhlak atau karakter. Lalu, jika suatu saat dorongan makan berlebihan itu tidak terpenuhi, misalnya karena kemiskinan, sementara sifat rakus itu telah melekat dalam jiwanya, maka itulah yang biasanya mendorongnya melakukan tindakan mencuri. Jika tindakan terakhir berakhir lama, maka ia disebut berkarakter pencuri.
  • Kebutuhan Psikologis; seperti kebutuhan akan rasa aman, penghargaan, penerimaan, dan aktualisasi diri. Kebutuhan-kebutuhan itu tidak muncul secara merata dan dengan kadar yang sama pada setiap orang. Tetapi masing-masing kebutuhan jiwa itu melahirkan perilaku yang berbeda. Dan jika perilaku yang ditimbulkannya itu berlangsung lama dan tetap, maka itulah yang disebut dengan karakter jiwa. Kebutuhan akan rasa aman, misalnya, mendorong orang menghindari semua sumber ancaman. Seperti ancaman atas nyawanya, ancaman atas sumber pendapatannya. Kebutuhan itu selanjutnya mendorongnya memiliki sumber-sumber pembelaan diri, seperti kekuatan, sekaligus mendorongnya bersikap hati-hati dan protektif. Jika kebutuhan itu berlebihan, maka ia akan menimbulkan kecemasan, dan jika kecemasan itu menguat ia akan berubah menjadi ketakutan. Jika suasana berlangsung lama dan tetap, maka ia disebut penakut. Tapi, jika kebutuhan akan rasa aman itu tetap berada pada garis yang wajar, maka ia disebut antisipatif.
  • Pikiran; yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berpikirnya. Maka pengetahuan mitos, agama yang masuk ke dalam benak seseorang itu akan mempengaruhi cara berpikirnya dan selanjutnya cara bertindak dan berperilakunya.

Faktor internal ini terbentuk sebagiannya secara genetis atau dibawah dari sifat-sifat turunan keluarga, baik sifat fisik maupun sifat jiwa.

perilaku bayi 300x225 Pembentukan Perilaku Manusia

 

Sedangkan faktor eksternal, adalah faktor-faktor yang berada di luar diri manusia, namun secara langsung mempengaruhi perilakunya. Yaitu:

  • Lingkungan keluarga. Nilai-nilai yang berkembang dalam keluarga, kecenderungan- kecenderungan umum serta pola sikap kedua orang tua terhadap anak akan sangat mempengaruhi perilaku dalam semua tahap pertumbuhannya. Orang tua yang bersikap demokratis dan menghargai anaknya secara baik, akan mendorong anak itu bersikap hormat pada orang lain. Sikap otoritatit yang berlebihan akan menyebabkan anak menjadi minder dan tidak percaya diri.
  • Lingkungan sosial. Demikian pula nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat dan membentuk piransi sistem sosial, ekonomi, dan politiknya serta mengarahkan perilaku umum mereka. Yang kemudian kita sebut dengan budaya. Anak yang tumbuh di tengah lingkungan masyarakat yang menghargai nilai waktu, biasanya akan menjadi disiplin. Persaingan yang membudaya dalam suatu masyarakat akan mendorong anggota-anggotanya bersifat ambisius dan mungkin sulit mencintai orang lain.
  • Lingkungan pendidikan. Institusi pendidikan normal yang sekarang mengambil begitu banyak waktu pertumbuhan setiap orang, dan institusi pendidikan informal seperti media massa dan masjid, akan mempengaruhi perilaku seseorang sesuai dengan nilai-nilai dan kecenderungan-kecenderungan yang berkembang dalam lingkungan tersebut. Orientasi pada sistematika dan akurasi pada pendidikan formal membuat orang bersikap hati-hati, teratur, dan jujur. Sementara nilai-nilai konsumerisme yang berkembang lewat media massa yang telah menjadi corong industri membuat orang menjadi konsumtif dan hedonis.

Apakah pengaruh faktor-faktor itu bersifat mutlak?

Para psikolog modern umumnya menganggap sebagian dari faktor itu bersifat mutlak sehingga mereka menyebutnya determinant, dan tidak dapat diubah sama sekali.

Khususnya tiga faktor ini:

  • Determinasi genetis; sifat-sifat bawaan dari sejak lahir. Orang mempunyai sifat keras yang dibawa secara genetis tidak akan bisa menjadi lembut suatu saat.
  • Determintasi psikologis; pola didik dan perlakuan keluarga yang diperoleh pada masa kecil akan menetap sampai tua dan tidak dapat diubah.
  • Determinasi sosial; pola kehidupan sosial suatu masyarakat selamanya akan membentuk sifat-sifat dasar seseorang yang kelak tidak dapat diubah.

Jadi, suatu garis kepribadian yang ada pada seseorang tidak membuka kemungkinan untuk diubah, apalagi jika sudah melewati batas masa pertumbuhan terakhir dari kepribadiannya.

bentuk perilaku 300x200 Pembentukan Perilaku Manusia

Konsep Islam?

Islam sendiri memberi porsi yang seimbang terhadap kedua faktor tersebut. Dari kedua faktor itu, Islam membagi akhlak menjadi dua jenis:

  • Pertama. Akhlak Fitriyah; yaitu sifat-sifat bawaan yang melekat dalam fitrah seseorang yang dengannya ia diciptakan, baik sifat-sifat fisik maupun sifat-sifat jiwa. Allah swt berfirman:

“… fitrah Allah yang menciptakan manusia dengannya. Tiada penggantian pada ciptaan Allah…” (QS 30: 30)

  • Kedua. Akhlak Muktasabah; yaitu sifat-sifat yang semula tidak ada dalam bawaan lalu diperoleh melalui lingkungan alam dan sosial, pendidikan dan latihan, serta pengalaman. Dan Islam menganggap bahwa wilayah akhlak muktasabah sebenarnya jauh lebih luas dari akhlak fitriyah. RasululLlah saw bersabda:

“Ilmu diperoleh dengan belajar, dan sifat santun diperoleh dengan latihan menjadi santun.” (HR Bukhori)

 

Kimia karakter fitriyah

Sifat-sifat bawaan itu sendiri pada seseorang mungkin bisa beragam dan tidak selalu berada pada garis-garis yang sinkron. Sifat-sifat itulah yang kemudian bertemu dengan berbagai variabel psikologis dan fisiologis, lalu membentuk senyawa yang kemudian kita sebut sebagai karakter fitriyah atau sifat bawaanya.

Misalnya, jika seseorang membawa kecerdasan dari salah seorang orang tuanya dan membawa sifat serakah dari yang lain. Maka hasilnya adalah munculnya sifat ketiga sebagai hasil senyawa, yaitu sifat licik. Jika ia membawa sifat cinta pada kebenaran lalu bertemu dengan keberanian, maka ia menjadi adil. Seperti skema di bawah ini:

  • Serakah + Cerdas = Licik
  • Cinta kebenaran + Berani = Adil

 

Sumber karakter perolehan

Namun dalam diri manusia, ada kesiapan-kesiapan umum untuk berubah dan meraih sifat-sifat baru ke dalam dirinya. Kesiapan-kesiapan itulah yang kemudian bertemu dengan sejumlah faktor eksternal yang mempengaruhi pembentukan karakternya. Yaitu:

  • Lingkungan alam. Misalnya, iklim tropis mempengaruhi tabiat masyarakatnya.
  • Lingkungan sosial. Yaitu lingkungan keluarga dan masyarakat.
  • Pendidikan, latihan, dan pengalaman. Yaitu usaha-usaha sadar baik langsung maupun tidak langsung, untuk mengembangkan karakter.

 

Proses Pembelajaran

perilaku baru kupu 300x249 Pembentukan Perilaku Manusia

 

Jadi, dalam konsep Islam, karakter tidak sama sekali terbentuk lalu tertutup. Tapi ia terbuka bagi semua bentuk perbaikan, pengembangan, dan penyempurnaan. Karena sumber-sumber karakter peroleh ada dan bersifat tetap. Sehingga orang yang membawa sifat kasar bisa memperoleh sifat lembut melalui mekanisme latihan.

Tapi, sumber-sumber itu hanya bisa bekerja efektif jika kesiapan-kesiapan dasar seseorang bertemu padu dengan kemauan yang kuat untuk berubah dan berkembang. Dan ia –untuk itu– bersedia menempuh latihan sistematis dan terencana.

 

Abu Bakar dan Umar bin Khattab

Misalnya, Umar bin Khattab yang semula kasar bisa belajar jadi lembut setelah Islam. Sementara Abu Bakar yang tadinya lembut bahkan cenderung dianggap lemah juga bisa tegas, keras, dan kuat setelah Islam.

Demikianlah, Islam memberi peluang kepada setiap orang untuk belajar membentuk karakternya sendiri. Maka lahirlah dari agama ini, manusia-manusia pemberani yang meramaikan sejarah.

(sumber: Anis Matta, “Membentuk Karakter Muslim”)

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih bahagia, bermakna, dan berdaya. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0858-1531-1207.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.