Inspirasi Detik ini

Jangan bermimpi menjadi orang pandai. Jadilah manusia bernilai dan memberikan nilai untuk kehidupan. — Albert Einstein

Ambivalensi Jiwa

Posted by
|

Apa?

Ketika seseorang memadamkan lampu, bayi yang ada dalam gendongannya segera menangis dan mendekapnya erat-erat. Ketika seorang bocah melihat orang lain yang agak seram, ia segera berlari mencari ayah atau ibunya dan berlindung dalam dekapan orang tuanya. Ketika seorang anak melakukan kesalahan wajahnya segera pucat dan berharap orang tua atau gurunya mau memaafkannya. Ketika seorang menderita sakit, ia takut mati dan berharap kesembuhan. Ketika seorang karyawan melakukan kesalahan fatal di kantornya, ia segera cemas dan segera berharap atasannya akan bermurah hati memaafkannya, sebab ia takut kehilangan pekerjaannya yang menjadi sumber mata pencahariannya. Ketika seorang pejabat tinggi mendekati usia pensiun, ia segera cemas, sebab ia takut kehilangan power dan akses serta tidak dihargai lagi seperti sebelumnya.

Itulah gambaran sederhana tentang dua sudut jiwa yang berhadap-hadapan, namun sangat berbeda; rasa takut dan rasa harap. Bayi itu takut pada gelap, dan mengharap rasa aman. Bocah takut pada orang asing, dan mengharap rasa aman dalam pelukan orang tuanya. Anak itu takut dihukum yang berarti tidak diterima di lingkungannya, dan mengharap diterima secara wajar kembali walaupun baru saja melakukan kesalahan. Karyawan itu takut dipecat, karena itu berarti ia akan kehilangan mata pencaharian, dan karena pada waktu yang sama ia mengharap kekayaan dan status sosial. Orang menderita sakit itu takut mati, dan mengharap bisa panjang umur. Pejabat itu punya harapan besar terhadap penghargaan, karenanya takut pada apa yang disebut pensiun.

Itulah ambivalensi kejiwaan manusia; ia punya rasa takut di salah satu sudut jiwanya, pada sudut yang lain, pada garis yang paralel, ia juga punya rasa harap. Ketakutan dan harapan adalah dua garis jiwa yang berlawanan namun berada pada sudut jiwa yang saling berhadapan.

Jadi ambivalensi adalah:

“Dua garis jiwa yang berbeda, bahkan berlawanan, namun saling berhadap-hadapan.”

jiwa manusia 201x300 Ambivalensi Jiwa

Garis-garis jiwa yang ambivalen 

Sekarang marilah kita perhatikan garis-garis jiwa yang ambivalen itu. Garis-garis jiwa ini akan terlihat dalam kecenderungan-kecenderungan jiwa seseorang dan nampak dalam perilakunya. Garis-garis jiwa itu adalah:

  • Harapan >< Takut
  • Cinta >< Benci
  • Khayali >< Realisme
  • Fisik >< Spiritual
  • Empiris >< Metafisik
  • Egoisme >< Altruisme
  • Komitmen >< Sukarela
  • Negativisme >< Positivisme

 

Fungsi ambivalensi kejiwaan

Ambivalensi kejiwaan ini merupakan fitrah dasar, yang dengannya Allah menciptakan manusia. Garis-garis jiwa yang ambivalen itu sudah ada dalam diri manusia sejak ia lahir dan akan tetap ada sampai waktu hidup manusia itu berakhir.

Seperti juga senar pada gitar, setiap sentuhan pada salah satu dari garis jiwa itu akan melahirkan bunyi yang berbeda. Dan jika semua senar itu dipetik pada waktu yang sama secara simultan, maka bunyi kolektif yang ditimbulkannya juga akan berbeda.

Jadi fitrah ambivalensi itu mempunyai fungsi dalam pembentukan perilaku dan pengarahan hidup manusia.

Fungsi-fungsi itu adalah:

  • Merekatkan sisi-sisi kepribadian manusia agar tetap menjadi utuh. Sebab garis-garis jiwa yang ambivalen itu sesungguhnya bisa bertemu dalam arah yang sama. Karena arah dan motif inilah yang sesungguhnya memberi nilai pada garis kejiwaan itu ketika ia muncul dalam perilaku. Jadi takut tidaklah buruk dengan sendirinya. Harapan jugalah tidak baik dengan sendirinya. Tapi yang menentukan apakah rasa takut dan rasa harap itu baik atau buruk adalah motif dan objeknya; yaitu apa yang ia takuti atau ia harapkan dan mengapa ia ditakuti atau diharapkan?
  • Memperluas wilayah kepribadian manusia dengan tetap menjaga pusat-pusat keseimbangannya. Sebab dengan memahami hakikat dan fungsi ambivalensi ini, manusia akan mengelola berbagai macam kecenderungan dalam dirinya –yang sebelumnya diduga takkan mungkin bertemu– kepada suatu arah yang sama.
  • Menjaga dinamika perkembangan kejiwaan manusia. Sebab ambivalensi kejiwaan ini dengan sendirinya akan menjadi sumber ketegangan-ketegangan internal manusia. Dan ketegangan-ketegangan itu sendiri akan mendorong manusia untuk berubah dan menjadi dinamis.

 

Ambivalensi kejiwaan dan kepribadian

Garis-garis jiwa yang ambivalen itu ada dalam diri manusia sejak ia lahir sampai ia mati. Ia melekat dalam dirinya dan mewarnai semua sisi kehidupannya. Walaupun begitu, tetap akan ada perbedaan-perbedaan mendasar tentang obyek dan alasan yang melahirkan garis jiwa dan perilaku, pada tahapan-tahapan usia yang berbeda pula. Apa yang ditakuti oleh seorang bayi, mungkin tidak lagi ditakuti oleh orang dewasa. Tetapi orang dewasa tetap punya rasa takut yang lain. Misalnya, takut pada semua yang mengancam sumber mata pencahariannya.

Orang yang takut mati tidak akan berani mengambil resiko. Orang yang mengharap kekayaan dunia akan bekerja keras. Orang yang takut pada kuburan akan bergidik sewaktu melewati kuburan seorang diri. Pegawai yang takut pada atasannya akan kehilangan rasa percaya diri di depan atasannya dan memberi penghormatan yang berlebihan.

Jadi setiap orang pasti memiliki rasa takut terhadap sesuatu dan mempunyai rasa harap terhadap sesuatu. Setiap orang pasti mencintai sesuatu atau seseorang dan membenci sesuatu atau seseorang. Begitu seterusnya. Atas dasar apa yang membuat seseorang takuti atau harapkan, dan alasan mengapa ia menakuti atau mengharapkannya; atau mencintai atau membencinya; sikap-sikapnya akan terbentuk dalam menjalani dan menghadapi berbagai peristiwa kehidupan.

Dengan begitu, hubungan antara ambivalensi kejiwaan itu dengan kepribadian seseorang, dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • Pada mulanya garis-garis jiwa itu tumbuh natural. Lalu nilai-nilai dan lingkungan yang kemudian membentuk persepsinya, akan menyebabkan menguatnya sebagian dari garis-garis jiwa itu dibanding garis-garis jiwa yang lain. Garis-garis jiwa yang kemudian menjadi dominan itulah yang akan membentuk mentalitas seseorang.
  • Jika kemudian garis-garis jiwa yang dominan itu bertahan dalam waktu yang lama, maka secara perlahan itu akan menjadi ciri umum yang menandai tampak luar kepribadian seseorang. Maka jika ketakutan dominan pada seseorang kita menyebutnya penakut, dan jika harapan dominan dalam dirinya kita menyebutnya optimistik.

 

Ambivalensi jiwa dan kesehatan mental

Jika ambivalensi kejiwaan ini merupakan sumber ketegangan-ketegangan jiwa dalam kehidupan seseorang, maka ia dengan sendirinya akan sangat menentukan tingkat kesehatan mental seseorang. Misalnya, jika perasaan takut berlebihan seseorang mungkin akan menderita penyakit cemas atau paranoid. Jika harapan itu berlebihan, seseorang mungkin akan menderita penyakit rakus atau serakah atau ambisius. Jika cinta terhadap tokoh idola berlebihan, maka seseorang mungkin akan kehilangan kepribadian aslinya. Jika cinta terhadap diri sendiri berlebihan, maka seseorang mungkin akan menderita narsisme. Begitu seterusnya.

Jadi, hubungan antara kesehatan mental dengan ambivalensi kejiwaan itu dapat dirumuskan sebagai berikut:

  • Seseorang akan memiliki tingkat kesehatan mental yang baik jika garis-garis jiwa yang ambivalen itu berjalan dan bergerak secara harmonis; seakan-akan ia adalah simfoni indah dari sebuah orkestra yang andal.
  • Garis-garis jiwa yang ambivalen hanya bisa harmonis, jika masing-masing garis jiwa itu bergerak mengikuti arah yang natural dan benar. Misalnya, karena seorang Muslim percaya bahwa ia akan bertemu Allah swt, dan ia sangat merindukan pertemuan itu, ia akan memandang kematian sebagai suatu keharusan yang tidak perlu ditakuti. Tapi karena harapan bertemu Allah itu sekaligus mengandung kemungkinan tertolak, maka jadi takut akan tertolak. Dan ketakutan terakhir ini akan mendorongnya melakukan amal sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. Itulah arah yang benar. Itulah petikan gitar yang benar. Itulah suara senar jiwa yang benar.

 

Bagaimana mengelola ambivalensi kejiwaan?

Agar simfoni yang mengalun dari orkestra jiwa itu menjadi indah dan harmonis, maka langkahnya adalah:

  • Atur posisi dan komposisi garis-garis jiwa itu secara benar dan hilangkan semua kecenderungan jiwa yang salah atau suara jiwa yang fals. Misalnya, ketakutan yang palsu, takut pada kematian, takut kehilangan rezeki, takut pada musuh, dan seterusnya.
  • Alunkan nada liriknya; atau berikan dan tentukan arah kecenderungan jiwa yang benar dan natural. Misalnya, hanya takut kepada Allah, dan mengharap surgaNya. Jadi tidak perlu takut mati, tidak takut pada rezeki, tidak perlu ambisius sekali pada dunia karena surga lebih baik dan lebih abadi.
  • Sekarang dengarkan simfoni yang mengalun; atau lihat ekspresinya dalam bentuk sikap-sikap dan perilaku-perilaku kesehariannya. Misalnya, rasa tanggungjawab kepada Allah yang melahirkan keadilan, ibadah, pengorbanan, dan seterusnya.

(referensi: Anis Matta)

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.