Inspirasi Detik ini

Seringkali kuberhasil saat kerjakannya | Orang lain bilang padaku bahwa aku berbakat kerjakannya | Kupernah dipergoki dengan penghargaan/pujian karena hasil kerjaanku. Inilah 3 dari sekian penanda BAKAT TERBESAR kita. Sudahkah kenalinya? Seringkah gunakannya? — Rio Purboyo

Penyakit Akhlak

Posted by
|

Akar penyakit akhlak

Kita bisa menilai, bahwa akhlak tercela memiliki akar-akar yang menghasilkan buah dan dapat kita kelompokkan. Jika akar perilaku manusia ada dalam pikiran dan jiwanya, maka akar-akar penyakit akhlak juga akan selalu ada di sana.

Dalam kaitan itulah Ibnul Qoyyim menyebutkan dua akar penyakit itu:

Penyakit Syubhat. Penyakit ini menimpa wilayah akal manusia; di mana kebenaran tidka menjadi jelas baginya (samar) dan bercampur dengan kebatilan (talbis). Penyakit ini menghilangkan kemampuan dasar manusia untuk memahami secara baik dan kemampuan dasarnya untuk memilih secara tepat.

Penyakit Syahwat. Penyakit ini menimpa wilayah hati dan instink manusia; di mana dorongan kekuatan kejahatan dalam hatinya mengalahkan dorongan kekuatan kebaikannya. Penyakit ini menghilangkan potensi dasar manusia untuk mengendalikan diri dan kemampuan dasarnya untuk bertekad secara kuat.

 

Syubhat

Penyakit syubhat, lebih jauh, berkaitan dengan pemahaman-pemahaman dasar manusia serta struktur pemikirannya. Akarnya adalah ilmu yang belum sempurna dan mendalam; bertemu dengan kecenderungan jiwa untuk menyimpang (zaighun). Allah berfirman:

“… adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada kecenderungan menyimpang, maka mereka akan mengikuti apa-apa yang tersamar dari ayat-ayat itu…” (QS 3: 7)

Karena itu, penyakit ini dapat ditelusuri pada kemampuan dasar untuk memahami. Yaitu karena kelemahan logika atau penyalahgunaan logika; pada ketidakmampuan memahami hakikat sesuatu secara benar; pada kesalahan-kesalahan metodologis dalam berpikir yang menyebabkan lahirnya kesimpulan-kesimpulan yang juga salah; pada penyimpangan pemahaman-pemahaman keagamaan yang menyebabkan lahirnya bid’ah; dan tumbuh subur di tengah semaraknya aliran sesat.

Orang-orang yang menderita penyakit ini biasanya memiliki keberanian yang luar biasa terhadap Allah (kebenaran), kegemaran luar biasa untuk berdebat, sifat ngotot dalam mempertahankan pendapat pribadi, tapi sesungguhnya tidak pernah memiliki keyakinan yang kuat dan selalu ragu dalam segala hal.

Lawan dari penyakit ini adalah ilmu yang benar dan mendalam; yang kemudian menimbulkan keyakinan yang kuat yang tidak disertai keragu-raguan. Dari penyakit syubhat inilah lahir: kekufuran, bid’ah, dan nifaq.

 

Syahwat

Sedangkan penyakit syahwat pada umumnya lahir dari lemahnya kemauan-kemauan baik (iradatul khoir) dalam hati seseorang, baik untuk melakukan kebaikan (positif) mau pun melawan dorongan-dorongan kejahatan dalam dirinya. Allah berfirman tentang Adam:

“Sungguh Kami telah memberikan (perintah) kepada Adam sebelumnya, maka ia lupa akan perintah dan Kami tidak melihat ia mempunyai tekad.” (QS 20: 115)

Dorongan-dorongan kejahatan itu sendiri pada dasarnya berasal dari instink manusia, yang sebagiannya memiliki kebutuhan dasar yang memberikan vitalitas dan dinamika kehidupan kepada manusia. Instink seksual misalnya, pada kadar tertentu dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup umat manusia. Tapi ia menjadi kejahatan saat tuntutan pemuasannya menjadi berlebihan dan cara pemenuhannya keluar dari jalur syariah. Lalu kemauan manusia melemah di depan dorongan kejahatan itu. Demikian pula, instink berkuasa misalnya, dibutuhkan untuk menciptakan kemampuan memimpin dan bermasyarakat dalam kehidupan natural. Tapi jika kadarnya melampaui batas yang natural, dan cara pemenuhannya keluar dari jalur syariah, maka saat itulah instink berkuasa menjadi ancaman kejahatan.

Ibnul Qoyyim telah menjelaskan jenis-jenis syahwat ini yang kemudian menjadi akar dari semua bentuk dosa yang dilakukan manusia.
Ada pun jenis-jenis syahwat itu adalah:

  • Syahwat Kekuasaan
  • Syahwat Kesetanan
  • Syahwat Binatang Buas
  • Syahwat Binatang Ternak

 

Syahwat Kekuasaan.

Berarti dorongan berkuasa dalam diri individu itu telah begitu kuat sampai pada tingkat di mana ia mulai menyerap sebagai dari sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak dimiliki Allah swt. Mulai dari yang terkecil: senang dikagumi (sum’ah), senang disanjung di depannya (riya’), merasa diri (ghurur), sampai pada yang besar seperti kesombongan, keangkuhan, intimidasi, dan kezaliman. Syahwat inilah yang mendorong manusia pada tingkat yang lebih jauh lagi, yaitu syirik. Inilah misalnya dosa yang membuat Fir’aun terlaknat.

 

Syahwat Kesetanan.

Berarti ada dorongan yang kuat dalam diri individu itu untuk menyerupai setan dalam berbagai bentuk perilaku dasarnya. Seperti benci, dengki dan dendam, gemar menipu, membuat ulah dan makar, menyebarkan gosip, memfitnah, menyesatkan orang lain, dan semacamnya. Syahwat ini biasa mempertemukan kecerdasan di satu sisi, dengan dorongan setan di sisi lain. Karena itu pelakunya cenderung licik dan culas dalam pergaulan serta berwajah ganda.

 

Syahwat Binatang Buas.

Syahwat ini berasal dari nafsu amarah dan angkara murka yang seperti api cenderung membakar dan membumihanguskan. Lalu syahwat angkara murka itu bertemu di luar dengna kekuatan fisik yang mendukung; maka lahirlah berbagai macam perilaku buruk dari sini. Seperti permusuhan, debat, penjajahan, pembunuhan, tirani, penodongan, dan perkelahian.

 

Syahwat Binatang Ternak.

Syahwat ini berasal dari naluri kebinatangan dalam diri manusia yang mendorongnya untuk memenuhi secara berlebihan, dalam kebutuhan perut dan kemaluan. Penyakit syahwat ini mendorong manusia menjadi hedonis, permisif, dan berpikir jangka pendek. Dari syahwat perut lahirlah sifat-sifat serakah, rakus, memakan harta anak yatim, pelit, mencuri, korupsi, sifat pengecut, penakut, dan semacamnya. Sedang dari syahwat kemaluan lahir perzinahan.

 

Ibnul Qoyyim menyebutkan bahwa sebagian besar manusia terjebak dalam penyakit syahwat binatang ternak. Karena pemenuhannya tidak membutuhkan banyak kecerdasan, banyak kekuatan fisik, atau wilayah kekuasaan. Sedang syahwat binatang buas biasanya menimpa orang-orang yang kuat secara fisik namun tidak memiliki rasa kasih dan naluri sosial yang baik, serta kemurahan hati. Sedang syahwat kesetanan menimpa orang-orang cerdas namun tidak memiliki hati yang bersih dan niat yang baik. Sedang syahwat kekuasaan biasanya menimpa orang yang memiliki banyak hal, seperti harta yang melimpah, kekuasaan yang luas, dukungan pasukan militer yang kuat, rakyat yang miskin, bodoh, lemah, dan tidak berdaya; serta dukungan teknologi yang tinggi dan canggih.

 

Kelemahan Akal dan Jiwa

Begitulah kita melihat bahwa kedua penyakit itu, penyakit syubhat dan penyakit syahwat, bersumber dari kelemahan akal dan jiwa. Penyakit syubhat bersumber dari kelemahan akal sehingga penderitanya tidak memiliki ilmu dan keyakinan. Sedang penyakit syahwat bersumber dari kelemahan jiwa yang membuat penderitanya tidak memiliki kemauan yang kuat, yang sampai pada tinggak azzam (tekad). Maka, dapatlah kita simpulkan:

Kelemahan Akal ==> Kedangkalan Ilmu ==> Penyakit Syubhat.
Kelemahan Jiwa ==> Kelemahan Kemauan ==> Penyakit Syahwat.

(referensi: Anis Matta,
“Membentuk Karakter Muslim”)

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih bahagia, bermakna, dan berdaya. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0858-1531-1207.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.