Inspirasi Detik ini

“Tahun ibarat pohon, bulan-bulan laksana cabangnya, hari-hari sebagai rantingnya, jam-jam sebagai daunnya, dan nafas kita sebagai buahnya.
Barangsiapa yang nafasnya selalu dalam ketaatan, maka orang itu telah menanam pohon yang baik.”
— Ibnu Qoyyim

Manusia Berbicara

Posted by
|

Bicara baik atau diam. Sejak sebelum menggelar workshop PSM untuk melayani publik, kalimat di atas menjadi salah satu pondasi dasar yang saya percayai.

Bahwa kemudian saya mengutarakan dalam format berbeda, dan menjelaskannya lewat desain yang baru. Pada dasarnya, ide intinya ialah sama.

Mendengarkan dengan telinga, bisa jadi cerita. Menyimak dengan hati, akan menjadi ahli nan faqih. (Imam Syafi’i)

# # #

“Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.”  (QS Ar Rahmaan: 3-4)

Sejenak kualihkan pandanganku, ke lembaran Tafsir Fi Zhilalil Quran. Karya monumental Sayyid Quthb. Sebagai praktisi, pembelajar dan pelatih#PublicSpeaking, rasa penasaranku akhirnya menuju pada pembahasan tafsir surat Ar Rahmaan, ayat 3-4, yang terjemahnya seperti tertulis di atas.

Berikut ini, kutuliskan apa yang kubaca. Sayyid Quthb, menafsirkan dengan…

“… tujuan pengungkapannya (ihwal permulaan penciptaan manusia, by: penulis) di sini ialah pengajaran berbicara yang membuatnya (manusia, by: penulis) dapat membaca Al Quran.

Kita melihat manusia dapat bertutur, mengungkapkan, menjelaskan, saling memahami, dan berdialog dengan orang lain. Karena terlampau biasa, kita melupakan anugrah yang besar dan keluarbiasaan ini. Maka, Al Quran mendorong dan menggugah kita untuk merenungkan anugrah ini dalam berbagai ayat.

Apakah manusia itu? Apakah asalnya? Bagaimana ia bermula? Dan, bagaimana ia diajari berbicara?

Manusia adalah sebuah sel yang mengawali kehidupannya di dalam rahim. Sebuah sel yang sederhana, kecil, hina, dan tidak bernilai. Ia hanya dapat dilihat melalui kaca pembesar dengan tidak terlampau jelas. Ia tidak tampak nyata.

Tidak lama berselang sel ini pun menjadi janin, yaitu janin yang terdiri dari jutaan sel yang bervariasi, penting, memiliki tulang rawan, otot, syaraf, dan kulit. Dari sel itulah tercipta organ tubuh, indra, dan aneka fungsinya yang menakjubkan seperti pendengaran, penglihatan, perasaan, penciuman, perabaan, dan selainnya. Kemudian tercipta pula suatu hal yang luar biasa dan rahasia yang agung, yaitu kemampuan memahami, menerangkan, merasa, dan intuisi. Semua itu berasal dari sebuah sel yang sederhana, kecil, tidak berarti, dan hina yang tidak jelas dan tidak tampak nyata.

Bagaimanakah dan dari manakah? Dari Ar Rahmaan dan dengan penciptaan Ar Rahmaan. Mari kita cermati bagaimana penjelasannya.

“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS An Nahl: 78)

Penciptaan alat tutur itu sendiri sungguh menakjubkan. Keajaibannya tidak pernah habis. Lidah, dua bibir, langit-langit, tenggorokan, saluran udara, filter, dan paru-paru. Semuanya itu terlibat dalam proses menghasilkan suara yang mekanistis. Ia merupakan lingkaran dalam rangkaian al bayan. Karena lingkaran itu demikian besar, maka ia tidak dapat digambarkan kecuali aspek mekanistik-instrumentalnya dalam proses yang kompleks ini, yang juga berkaitan dengan pendengaran, otak, dan syaraf. Kemudian berkaitan dengan akal yang kita pahami sebatas istilahnya saja tanpa kita ketahui sedikit pun ihwal substansi dan hakikat akal. Bahkan, kita nyaris tidak mengetahui apa pun ihwal fungsi dan cara kerjanya.

Bagaimana proses seseorang menuturkan sepatah kata?

Itu adalah proses yang kompleks dan melibatkan beberapa fase, langkah, dan perlengkapan-sebagian fase itu tetap tidak diketahui hingga sekarang.

Proses itu dimulai dengan adanya rasa perlu untuk menuturkan kata itu guna menyampaikan tujuan tertentu. Perasaan ini berpindah (kita tidak tahu mengapa ia pindah) dari pemahaman, atau akal atau ruh ke pelaksanaan perbuatan konkrit. Otak… Katanya, otaklah yang memberikan perintah melalui urat-urat syaraf agar menuturkan kata yang dikehendaki. Kata itu sendiri merupakan sesuatu yang diajarkan Allah kepada manusia dan yang maknanya diajarkan pula oleh-Nya.

Setelah itu paru-paru mensuplai udara yang tersimpan di dalamnya dengan kadar tertentu. Lalu, ia melintas dari filter ke saluran udara melalui tenggorokan dan pita suara yang menakjubkan yang tidak dapat dianalogikan dengan senar instrument suara apa pun yang dibuat manusia, dan tidak pula dengan alat-alat suara dengan segala nadanya. Lalu udara pada tenggorokan mengeluarkan bunyi yang dibuat selaras dengan kehendak akal. Apakah suara itu tinggi atau rendah, cepat atau lambat, kasar atau lembut, menggema atau melengking, hingga bentuk dan karakter suara lainnya.

Di samping tenggorokan, ada pula lidah, dua bibir, langit- langit, dan gigi. Suara melintasi alat-alat ini sehingga terbentuklah tekanan tertentu dalam berbagai artikulasi huruf yang bervariasi. Melalui lidah itu sendiri dapat dihasilkan huruf dengan artikulasi yang memiliki nada tertentu dan tekanan tertentu; agar ia menghasilkan huruf dengan bunyi tertentu pula.

Semua proses itu menyangkut satu kata, sedang di balik kata itu ada ungkapan, topik, gagasan, dan perasaan akan sesuatu yang terdahulu dan yang kemudian. Masing-masing merupakan alam yang menakjubkan dan mempesona, yang ada pada mikrokosmos manusia yang menakjubkan dan mempesona, berkat ciptaan Ar Rahmaan dan karunia Ar Rahmaan pula.

* * *

Usai membaca tafsir di atas. Kusadari betapa Allah mengingatkan berulang kali, “Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Bagaimana dengan Anda?

 

Add a comment

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.