Inspirasi Detik ini

Di manapun hatimu berada, di situlah akan kau temukan hartamu. — Paulo Coelho, dalam “The Alchemist”

Kutukan Pengetahuan

Posted by
|

Siapa bilang jadi pembicara di depan umum itu sebuah prestise? Justru itu adalah tanggung jawab yang besar, lho! Jika pun Anda pernah membaca iklan sebuah pelatihan yang berisikan cara-cara singkat nan instan menjadi pembicara publik yang mempesona. Boleh jadi, Anda sedemikian tertariknya. Tapi yakinilah bahwa proses, tetaplah yang utama. Adapun yang dapat kita lakukan di dalam sebuah pelatihan bukanlah secara instan, tapi lebih tepatnya percepatan pembelajaran. Accelerated Learning.

Omong-omong, saat kita berkomunikasi, tahukah Anda betapa besar peluang terjadinya “Kutukan Pengetahuan”.  “Hah, apaan tuh?” Anda bertanya-tanya.

Kutukan Pengetahuan terjadi begitu kita memiliki pengetahuan yang bertambah. Semakin banyak yang Anda ketahui, secara alami makin kita berasumsi bahwa orang lain seberpengetahuan dengan kita, dan itu membuat Anda tidak mudah mengkomunikasikan pengetahuan itu.

Elizabeth Newton mendapatkan gelar Ph.D. dengan menampilkan fenomena ini dalam disertasi psikologinya. Ia mempelajari fenomena sebuah permainan sederhana, dengan menugaskan 2 orang yang berperan sebagai “pengetuk”, dan “pendengar”. Pengetuk menerima daftar berisi 25 lagu terkenal, seperti “Happy Birthday to You” dan sejenisnya. Setiap pengetuk diminta memilih satu lagu dari daftar itu dan lalu mengetuk ritme lagunya kepada seorang pendengar (dengan mengetuk meja). Dalam permainan sederhana ini, tugas pendengar ialah menerka lagu itu berdasarkan ritme yang diketuk.  Bagi kita yang terbiasa, pasti kenal dengan istilah “kothek-an” (bahasa jawa, = mengetuk meja/kursi berulang kali, sembari menyanyikan sebuah lagu). Mumpung ingat, dalam workshop “Public Speaking Magically”, kita benar-benar mempraktekkan eksperimen ini lho.

Tugas pendengar dalam permainan ini cukup sulit. Selama eksperimen Newton, 120 lagu diketukkan. Sebelum pendengar menerka nama lagu, Newton meminta kepada pengetuk untuk memprediksi seberapa besar kemungkinan pendengar untuk dapat menerka dengan tepat. Mereka memprediksi bahwa kemungkinannya ialah 50 persen, artinya pengetuk memprediksi 60 lagu akan dapat diterka oleh si pendengar. Faktanya? Ternyata pendengar hanya dapat menerka 2,5 persen dari daftar lagu tersebut. Alias, hanya 3 dari 120 lagu.

Mengapa?

Ketika seorang pengetuk mengetuk, ia memperdengarkan lagu itu di kepalanya. Silakan Anda coba sendiri, ketukkan lagu “Halo-halo Bandung”. Tidaklah mungkin, untuk tidak mendengarkan nadanya di dalam kepala Anda. Sementara itu terjadi, pendengar tidak dapat mendengar nada Anda itu, yang mereka dengarkan ialah sekelompok ketukan yang tidak berhubungan satu sama lain, mengingatkan saya pada kode Morse yang aneh.

Dalam eksperimen sederhana ini, para pengetuk begitu heran mengapa para pendengar sangat sulit untuk menangkap nadanya. Bukankah lagunya sedemikian jelas? Ekpresi sangat luar biasa timbul dari para pengetuk ketika seorang pendengar menebak “Tidur Lagi-nya mbah Surip”, padahal lagunya adalah “Halo-halo Bandung”. Mengapa Anda begitu bodoh? Ups, maaf!

Sulit lho menjadi seorang pengetuk. Masalahnya karena pengetuk telah memiliki pengetahuan sebelumnya, dalam hal ini judul lagu yang akan diketuk, yang membuatnya secara alami sulit bagi mereka untuk membayangkan bagaimana jika mereka tidak memiliki pengetahuan itu. Ketika mereka mengetuk, mereka tidak dapat dengan mudah membayangkan bagaimana rasanya bagi seorang pendengar untuk mendengarkan dan juga menebak ketukan-ketukan yang terpisah seperti itu. Inilah Kutukan Pengetahuan.

Segera setelah kita ketahui sesuatu, sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana rasanya jika kita tidak mengetahuinya. Kita tidak lagi peka mengenai cara berpikir seseorang yang belum tahu, ini lebih karena kita telah berpengetahuan. Saat itu, pengetahuan telah “mengutuk” kita. Sulit bagi kita yang sudah tahu sesuatu lebih dulu, untuk membagikan pengetahuan kepada yang lebih awam, karena kita tidak dapat dengan segera menciptakan kondisi pikiran pendengar bagi diri kita sendiri.

Fenomena pengetuk/pendengar ini terjadi setiap hari, di seluruh penjuru bumi. Pengetuk dan pendengar itu adalah guru dan murid, suami dan istri, politisi dan pemilihnya, pembicara dan pendengar, CEO dan karyawan yang melayani pelanggan, hingga penulis dan pembaca. Semua kelompok ini disatukan oleh komunikasi yang berkelanjutan, tetapi, seperti pengetuk dan pendengar, mereka menderita ketidakseimbangan informasi yang besar. Ketika seorang pebisnis mendiskusikan pentingnya “menjaga dan mempertahankan pelanggan”, sudah ada nada yang berbunyi di kepalanya yang tak dapat didengar oleh para karyawannya.

Tentu ini masalah yang sulit dihindari, bayangkan seorang pebisnis selama 20 tahun terbenam dalam logika dan kebijaksanaan bisnis yang sudah digelutinya. Membalik proses ini tidaklah mungkin, sama seperti menarik kembali bunyi kentongan yang sudah bertalu-talu. Anda tidak dapat membalik kembali proses belajar untuk hal-hal yang sudah Anda ketahui. Faktanya, hanya ada dua cara untuk membebaskan diri dari Kutukan Pengetahuan. Seberapa besar keingintahuan Anda, untuk hal itu? Nah, untuk kalahkan Kutukan Pengetahuan, yang pertama adalah dengan tidak mempelajari apa pun. Dan, ini pilihan yang aneh bukan? Terlebih kita hidup di dunia serba berkelimpahan informasi seperti saat ini. Atau, Anda dapat gunakan cara yang kedua. Ialah dengan mengambil gagasan Anda dan mentransformasikannya.

Mentranformasikan Gagasan supaya Mudah Melekat

Sulit memang meloloskan diri dari Kutukan Pengetahuan. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Caranya ialah dengan mengubah ide kita menjadi gagasan yang mudah melekat. Yang saya maksud dengan ide yang melekat ialah ide yang mudah dipahami, sulit terlupakan, dan efektif dalam mengubah pemikiran atau perilaku. Satu prinsip dasar, yang pasti, gunakan konsep kesederhanaan.

Temukan inti dari gagasan Anda. Tentukan satu hal yang terpenting. Dalam konteks layanan pelatihan, inti gagasan pelatihan saya ialah membantu peserta untuk menggunakan prinsip dan teknik persuasi saat sajikan presentasi. Gagasan disebut sederhana karena langsung pada intinya dan padat.

Untuk mempermudah Anda, pernahkah Anda mendapati kisah berikut ini?

Seorang teman dari teman kami, sebutlah namanya Andi, sedang mendapat rejeki nomplok. Saat ia kuliah di luar negeri, AS, tanpa diduga ia mendapatkan hadiah untuk bermalam 2 hari di akhir pekan dari sebuah hotel terkenal di kota tetangganya. Las Vegas. Tentu saja, bayangan kita akan gemerlapan dan hingar-bingar kota judi ini segera menyeruak muncul dari pikiran kita. Las Vegas, gitu lho!

Segera setelah memastikan reservasi hotel tersebut, ia terlihat memasuki sebuah kamar di hotel itu. Untuk memanfaatkan waktu senggang, ia pun pergi ke sebuah bar setempat, di seberang jalan hotel itu. Ia baru saja menghabiskan segelas minuman ringan bersoda, ketika matanya tertuju pada senyuman seorang gadis cantik yang mendekatinya, dan bertanya apakah ia boleh membelikan minuman untuknya. Andi pun merasa tersanjung sekaligus terkejut. Tentu, jawabnya seketika. Gadis itu kemudian membawakan dua gelas minuman, satu untuknya sendiri dan satu lainnya untuk Andi. Andi mengucapkan terima kasih dan meneguknya. Dan tegukan itulah hal terakhir yang dapat ia ingat.

Saat tersadar, tanpa mengetahui persisnya di mana tubuhnya berada, Andi merasa menggigil terbaring di dalam bak mandi di sebuah hotel, dengan seluruh tubuh terendam air es. Seketika, ia melihat ke sekeliling dengan panik, mencoba memahami di mana ia berada dan bagaimana mungkin ia bisa berada di sana. Tiba-tiba, ia melihat sebuah catatan:

JANGAN BERGERAK. TELEPONLAH 911.

Ada sebuah telepon genggam di meja kecil di samping bak mandi. Ia mengambilnya dan menelepon 911, jari-jemarinya kaku dan gemetar karena air es. Anehnya, operator telepon itu sepertinya mengenal situasinya. Ia mengatakan, “Pak, tolong jangkau punggung Anda, dengan perlahan dan sangat hati-hati. Apakah ada tabung keluar dari bagian bawah punggung Anda?”

Dengan cemas, ia mencari-cari di belakangnya. Benar saja, ada sebuah tabung.

Operator itu lantas mengatakan, “Jangan panik pak, tetapi salah satu ginjal bapak telah diambil. Akhir-akhi ini, ada segerombolan pencuri organ yang beroperasi di kota ini, dan bapak telah menjadi korban mereka. Petugas paramedik akan segera ke tempat bapak. Jangan bergerak sampai mereka tiba!”

* * * * * * * *

Anda baru saja membaca salah satu kabar burung yang terkenal selama 10 tahun terakhir ini. He he he. Bahkan suatu waktu, saya pernah melihat tayangannya di sebuah siaran TV . Jika Anda teliti, tentu mudah Anda temukan petunjuk pertama yang berupa pembukaan klasik sebuah berita angin: “Teman dari teman kami…”

Kisah di atas boleh jadi pernah Anda dengar sebelumnya, dalam berbagai versi. Perampokan Ginjal. Sebuah kisah yang mampu lolos dari Kutukan Pengetahuan. Karena ia sederhana, mudah dimengerti, sehingga mudah Anda ingat.

Dalam Super-Workshop “Public Speaking Magically”, kita bukan hanya mengalahkan Kutukan Pengetahuan, melainkan juga mendapatkan solusi atas pertanyaan berikut:

1) “Pendengar tidak mendengarkan saya”, atau “Kelihatannya pendengar bosan, mereka sudah pernah mendengar hal ini sebelumnya.”

2) “Pendengar sering menganggukkan kepala ketika saya menjelaskan sesuatu kepada mereka, tapi hal itu tampaknya tak pernah dilaksanakan”.

3) “Saya menghabiskan seluruh waktu presentasi saya untuk berdebat dengan pendengar mengenai ide ini”.

Tentu, akan beruntung sekali saat Anda dapat temukan jawabannya ketika Anda putuskan hadir bersama puluhan peserta Super-Workshop “Public Speaking Magically”, saat ini.

Sampai di sini, Anda membaca pada bagian akhir tulisan ini, ijinkan saya membagikan 3 kesimpulan sederhana dari note ini.

1) Kutukan Pengetahuan = Sulit untuk menjadi pengetuk.

2) Kutukan Pengetahuan terjadi ketika pengetahuan kita, membuat kita sulit membayangkan bagaimana rasanya saat kita tidak tahu.

3) Solusi lolos dari Kutukan Pengetahuan? Gunakan kesederhanaan. Tentukan inti gagasan, temukan yang terpenting.

Semoga berkenan, semoga berguna.

Rio Purboyo | Your Talent Coach – Public Speaking Trainer

NB)
Jika Anda ingin menaikkan kelas dari kualitas berbicara di publik. Workshop #PublicSpeakingMagically ialah yang Anda butuhkan.

Comments

  1. yunita bayu

    March 24, 2011

    Keren Rio,tp emang bener pas kita baca dan denger sesuatu hal yang baik kita cuma angguk2 kepala,tapi susah banget aplikasinya….

  2. Rio Purboyo

    August 15, 2011

    @ Yunita Bayu: Itulah kenapa, kita perlu temukan esensi dari informasi yang kita baca/dengar, untuk kemudian kita terapkan dalam satu tindakan praktis.

Add a comment

  1. Mengapa perlu Ikuti Super-Workshop ‘Public Speaking Magically” « gituya03-24-11

Tentang RioPurboyo dot Com

RioPurboyo.com adalah blog pemberdayaan diri. Hadir sebagai upaya pembaik kualitas hidup supaya lebih berkah, bermakna, dan berguna. Ketika Anda bersedia berlatih untuk mengembangkan kualitas diri, hubungi 0857-84-450-450.

Apa itu Komunitas?

Komunitas ialah alumni pelatihan dan pembaca blog. Silakan bergabung untuk saling berinteraksi, berbagi, dan bertumbuh bersama.
Follow us: Twitter | Facebook
Copyright © 2011 Rio Purboyo dot Com. All rights reserved.