Tujuan Konkrit
18 January 2010 di Kepemimpinan+Manajemen
Salah satu pemicu minat terbesar saya dalam mempelajari dan menerapkan NLP adalah bahwa ia mengajak kita untuk membentuk setiap tujuan yang kita kehendaki di setiap konteksnya, berbasiskan pada bukti-bukti indrawi.
Semisal, seorang teman saya yang berkomitmen untuk menjadi penulis perihal produktivitas dan pengembangan diri berbasiskan kekuatan pribadi, menerapkan salah satu latihan yang saat ini menjadi kebiasaan otomatis beliau. Latihan sederhana yang beliau lakukan adalah menempatkan dirinya dalam kondisi yang paling berdaya. Sambil dia membayangkan dirinya melihat dengan matanya sendiri, betapa dalamnya ia hanyut dalam kondisi yang sangat flow, dia menuliskan satu per satu kalimat dan kemudian menyusunnya menjadi artikel yang siap dibaca, lalu mengedit di beberapa bagian artikel sehingga pembaca lebih mudah mencerna dan mengambil tindakan lanjut dari membaca ratusan artikelnya itu. Bahkan, tak jarang dengan kemampuannya mendesain pesan dalam bentuk gambar, keahlian yang terus diasah sejak 10 tahun yang lalu ini, menjadikan blog pribadinya –terutama di bagian donlot gambar gratis– menjadi favorit pengunjungnya. (silakan kunjungi akhmadGuntar.com)
Lanjutkan bacaannya…
Orientasi Berbicara: Dari sinilah perbincangan Anda bermula!
10 January 2010 di Komunikasi
Kapan terakhir kalinya Anda diundang menjadi pembicara?
Atau, kapan terakhir kalinya Anda berbicara dengan orang lain?
Entah Anda berbicara untuk sekelompok orang atau sekedar ngobrol dengan satu orang saja, menjadi semakin penting untuk kita pahami mengenai orientasi kita dalam berbicara. Sejak semula, sebagai pembicara publik, apa orientasi Anda ketika berbicara kepada sekelompok pendengar? Ada tiga pilihan di sini. Orientasi kepada diri sendiri, pada isi ceramah. Dan yang terakhir berorientasi kepada pendengar.
Lanjutkan bacaannya…
Pesona Kata-kata
10 January 2010 di Komunikasi
Seorang bocah mengisi liburan dengan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. ”Aduh!” jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya sama persis, ”Aduh!”
Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, ”Hei! Siapa kau?” Terdengar jawaban, ”Hei! Siapa kau?” Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, ”Pengecut kamu!” Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, ”Apa yang terjadi?”
Lanjutkan bacaannya…
Menyambut Seperempat Abad
10 January 2010 di KehidupanMalam ini, kubuka sebuah buku. Isinya mengguncangkan jiwa. Betapa tidak, di dalamnya dituliskan bahwa usia ‘muda’ bukanlah halangan menggapai kebesaran. Lihat saja Iwan Gayo, penggagas Seri Buku Pintar, berhasil menjadi jutawan di usia sekitar 30 tahun. Lalu ada Parasian Sihite, agen koran di Jakarta Pusat, di usianya yang baru 35-an tahun, ia telah berhasil mengembangkan omzetnya hingga mencatat transaksi sekitar Rp 1,8 – Rp 2,4 miliar per bulannya. Berikutnya ada Lucy Gani Wijaya, saat baru berusia 21 tahun (dan masih berstatus mahasiswi sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta), sudah mampu mempekerjakan 300 tenaga kerja. Usahanya itu –membuat tas, vas bunga, dan tatakan gelas dari limbah kertas koran– telah dipasarkan bahkan ke luar nusantara. Adalah Denmark, Jerman, Kanada, Singapura, dan Australia menjadi pasar setia pembeli produk seorang gadis ‘muda’ asal kota Gudeg itu.
Yang terbaru, seorang arek Suroboyo, mampu menggugah jiwa anak-anak muda lainnya. Layaknya Bung Tomo di kala itu, gaung keberhasilannya di bidang bisnis makanan, Bos Kebab Turki Baba Rafi ini –Anda sudah tahu siapa dia- telah membuat beberapa pengusaha di luar Indonesia tertarik untuk membeli franchisenya. Dan tak tanggung-tanggung, di usianya yang 23 tahun, usahanya mampu mencetak rekor omzet Rp 1 milyar sebulan, dihasilkan dari 100 unit gerai makanannya di seantero nusantara.
Lanjutkan bacaannya…
Cuplikan Hikmah
Sebagian orang mengatakan kesempatan hanya datang satu kali, itu tidak benar. Kesempatan itu selalu datang, tetapi Anda harus siap menanggapinya
—

